Konsep angsa berwarna hitam ditelusuri paling jauh pernah tertulis pada puisi kuno berbahasa Latin karya penyair Decimus Junius Juvenalis[1] yang mengungkapkan dalam satirnya betapa langka kebaikan, selangka keberadaan angsa hitam: rara avis in terris nigroque simillima cygno[2]. Ungkapan ini kemudian mengalami perkembangan makna di London pada abad ke-16, dipakai sebagai simbol dari sesuatu yang mustahil, yang berakar pada anggapan bahwa angsa hanya berwarna putih[3]. Anggapan orang-orang London pada waktu itu didasari catatan sejarah yang konstan, yang mendeskripsikan angsa adalah unggas yang selalu berbulu putih, menjadikan angsa hitam sebagai metafora untuk fenomena atau kejadian yang dianggap tidak mungkin terjadi.
Dalam konteks mutakhir, simbolisme angsa hitam berkembang menjadi metafora untuk merujuk pada peristiwa tak terduga dengan dampak besar. Konsep ini dipopulerkan oleh Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya The Black Swan: The Impact of the Highly Improbable, di mana ia menggambarkan angsa hitam sebagai peristiwa yang sangat jarang terjadi, sulit diprediksi, dan memiliki konsekuensi besar.
The Black Swan menawarkan gagasan manusia harus menerima keberadaan peristiwa tak terduga dengan dampak besar sebagai bagian dari kehidupan. Di sisi lain, manusia sering gagal memprediksi dan mengantisipasi peristiwa-peristiwa ekstrem yang tak terduga ini. Menurut Taleb, itu karena manusia terlalu fokus pada data historis dan enggan mengakui apa yang mereka tidak tahu. Buku ini menawarkan wacana (dengan sedikit pesimisme) tentang keterbatasan pengetahuan manusia, yang gagal memahami statistik dan psikologi di balik peristiwa-persitiwa karena bias retrospektif[4]. Taleb menantang anggapan konvensional dan menunjukkan bagaimana “ketiadaan bukti bukanlah bukti ketiadaan”, dan mengajak pembaca lebih kritis terhadap data dan prediksi, memahami batas-batas pemodelan yang ada, dan lebih berhati-hati dalam menarik kesimpulan.
Walaupun The Black Swan sering dikaitkan dengan ekonomi dan keuangan, prinsip-prinsip yang dibahas Taleb mencakup bidang-bidang lain, mulai kebijakan publik, manajemen risiko, sains, teknologi, sampai pengambilan keputusan yang lebih personal seperti bagaimana kita sebagai individu membuat keputusan dan hidup dengan konsekuensinya. Dia mengingatkan kita sering terpaku pada model-model prediktif yang rapih dan nyaman, yang pada akhirnya bisa menyesatkan. Kita terjebak dalam ilusi kepastian, merasa yakin dengan model-model yang telah kita bangun untuk meramalkan masa depan, sementara, sebenarnya, kejadian yang paling signifikan adalah yang paling tidak terduga.
Salah satu pesan utama dari The Black Swan adalah pentingnya membangun resiliensi dan fleksibilitas menghadapi ketidakpastian. Secara singkat, The Black Swan memberikan strategi mengurangi kerentanan terhadap dampak negatif dari peristiwa Black Swan, sambil juga memaksimalkan potensi mendapatkan keuntungan dari kejutan-kejutan peristiwa Black Swan. Desk kuratorial memilih The Black Swan karena buku ini bisa menjadi pengantar para pembaca jika ingin membaca Antifragile (terbit 2012) dan Skin in the Game (terbit 2018), yang juga menarik banyak perhatian dan kritik. Kedua buku itu mengelaborasi lebih jauh strategi yang ditawarkan Taleb dalam mengatasi dan mengantisipasi peristiwa Black Swan.
Sistematika buku ini bergerak dari pemaparan literatur di bagian awal ke pembahasan yang lebih ilmiah dan statistik di bagian selanjutnya. Bagian pertama dan awal bagian kedua membahas dari sudut pandang psikologi, sains dan bisnis pada paruh akhir bagian dua dan bagian tiga. Bagian empat berisi semacam “nasihat singkat” tentang cara memahami dunia dalam menghadapi ketidakpastian sambil tetap menikmati hidup. Desk kuratorial menganggap buku ini layak dibaca mengingat wacana yang disodorkan dapat memantik ragam latar belakang menemukan wawasan yang relevan dan menerapkannya dalam konteks spesifik masing-masing.
Yang sedikit menjengkelkan dari buku ini adalah kecenderungan gaya bertutur Taleb yang seperti berkhotbah tanpa henti serasa menggurui betapa dungu orang lain dan betapa briliannya ide-idenya memahami dunia. Tentu saja pendekatan ini ia pilih karena konteks historis dan filosofis dari ide-idenya. Ia sering mengacu dan menyeret tokoh-tokoh sejarah, filsuf, dan matematikawan untuk mendukung argumennya atau membantah mereka. Pemikiran tokoh-tokoh ini seperti membayar dengan setimpal gaya tuturnya yang menjengkelkan itu. Selain menambah lapisan pemahaman tentang argumen Taleb, pemikiran-pemikiran lain yang ia sajikan memperkaya pengetahuan kita dari pelbagai disiplin ilmu. Ini juga menjadi alasan desk kuratorial memilih The Black Swan. “Khotbah” itu terasa patut dan perlu didengar karena dibangun dengan argumen-argumen cerdas (kadang disertai humor). Oleh karenanya, salah satu siasat membaca The Black Swan adalah mengambil inti pesan dari setiap analogi, anekdot, atau cerita yang ia sampaikan, tanpa terlalu terpengaruh oleh tonjokan retoris yang mungkin terasa menggurui.
The Black Swan disebut oleh The Sunday Times sebagai salah satu dari dua belas buku paling berpengaruh sejak Perang Dunia II [5]. Pada Maret 2024, The Black Swan telah dikutip 14.969 kali, 9.000-an di antaranya dalam edisi bahasa Inggris[6]. The Black Swan bertengger selama 36 minggu dalam daftar buku terlaris New York Times[7]; dan telah diterjemahkan dalam 32 bahasa[8], termasuk bahasa Indonesia.
Dengan semua pertimbangan di atas, desk kuratorial akhirnya memilih The Black Swan untuk dibaca sepanjang April 2024 karena menantang dan merangsang intelektual, menawarkan wawasan tentang ketidakpastian, risiko, dan bagaimana cara terbaik untuk hidup dalam dunia yang tidak dapat sepenuhnya diprediksi. Dengan menawarkan perspektif mendalam dan seringkali kontraintuitif, Taleb menawarkan alat untuk navigasi dalam kompleksitas kehidupan modern. Desk kuratorial, baik sebagai individu maupun profesional, memandang buku ini tepat mendapat tempat di rak buku OJK Book Club bergabung dengan buku pilihan sebelumnya, sebagai pemikiran esensial dalam menghadapi ketidakpastian dengan bijaksana.
Salam hormat dan hangat dari kami,
Irwanto dan R.C. Dona
[1] Lebih dikenal sebagai Juvenal, penyair Romawi yang hidup antara akhir abad ke-1 dan awal abad ke-2. Karyanya, yang terkumpul dalam lima belas buku yang dikenal sebagai “Satire” atau “Satires,” mengungkapkan pandangannya terhadap dekadensi moral dan kebobrokan sosial di tengah masyarakat Romawi zaman itu.
[2] Puhvel, J. (1984). “The Origin of Etruscan tusna (“Swan”)”. American Journal of Philology. 105 (2): 209-212. doi:10.2307/294875. JSTOR 294875
[3] Taleb, Nassim Nicholas. “Opacity: What We Do Not See”. Fooledbyrandomness.com. Diakses Maret 29, 2024.
[4] Bias retrospektif: kecenderungan seseorang untuk percaya secara keliru bahwa mereka bisa memprediksi atau telah mengetahui hasil dari sebuah kejadian, setelah mengetahui hasil akhirnya. Fenomena ini juga dikenal dengan istilah “hindsight bias” atau “knew-it-all-along effect”. Bias ini dapat menyebabkan distorsi dalam pemahaman kita tentang keputusan masa lalu, membuat percaya bahwa kita lebih mampu memprediksi peristiwa daripada yang sebenarnya kita mampu. Bias retrospektif dapat memengaruhi keputusan dan penilaian dalam berbagai konteks, termasuk dalam bidang medis, keuangan, dan keputusan hukum.
[5] Appleyard, Bryan (July 19, 2009). “Books that helped to change the world”. The Sunday Times.
[6] “Nassim Nicholas Taleb”. Google Scholar. Diakses 29 Maret, 2024.
[7] Rose, Charlie (February 24, 2011). “Charlie Rose Talks to Nassim Taleb”. Bloomberg News. Diakses 29 Maret, 2024.
[8] Taleb, Nassim Nicholas (May 11, 2010). The Black Swan: Second Edition: The Impact of the Highly Improbable: With a new section: “On Robustness and Fragility”. Random House Trade Paperbacks. ISBN 978-0812973815.
