Gambar ilustrasi oleh R. Celsa Dona

Kesadaran yang baru dimulai di masa tua itu menakutkan. Di tengah waktu yang semakin menipis, masih ada banyak hal yang perlu dibereskan; banyak pertanyaan yang perlu dijawab dengan memadai; dan banyak hal yang belum disampaikan. Terlalu banyak hal sampai menyisakan pertanyaan di ujung: harus mulai dari mana? Pertanyaan ini terbersit di benak saya sejak berkenalan dengan Olga, karakter dalam Va Dove Ti Porta Il Cuore karangan Susanna Tamaro.

Olga, lansia yang senjanya sudah dekat, punya begitu banyak rahasia kelam, sekelam masa lalunya. Rahasia yang sedemikian rupa hingga pada mulanya dia memilih untuk menutup tak hanya mulut, tapi juga mata dan hatinya. Perempuan tua itu tahu, jika satu kali rahasia terucap, maka itu tak bisa ditarik kembali.

Dia pernah kehilangan anak karena rahasianya terbongkar. Dan dia sudah banyak kehilangan: anak, suami, ayah, ibu, dan laki-laki yang ia cintai. Perempuan tua itu baru sadar, jauh setelah kehilangan semua itu, bahwa dia juga kehilangan dirinya. Pada kesadaran yang agak terlambat ini, dia tak mau kehilangan yang lebih besar lagi: kehilangan cucunya.

Pertentangan batin Olga berlangsung sudah lama. Sejak usia 6 tahun, dia sudah mengecap kata-kata kejam dari orang tuanya. Sebagai pertahanan, dia membentuk cangkang dunianya sendiri, sebuah dunia yang memaklumkan segala hal yang seharusnya dipertanyakan; dunia yang menenggelamkan semua pertanyaan, sebagai akibat dari apa guna bertanya jika kebohongan adalah jawabannya; dunia yang memberinya ruang menjadi pengecut, ruang untuk sembunyi dari ketakutan dan guncangan; dunia yang pada akhirnya menghilangkan dirinya. 

Sebagai bentuk perlindungan diri agar luka masa lalu tak terulang, manusia memiliki sisi ksatria yang mendorongnya mengatasi ketakutan dan guncangan. Søren Kierkegaard, dalam karyanya “Fear and Trembling” mengungkapkan bahwa sisi ksatria ini berkekuatan mengumpulkan pelbagai pemikiran menjadi satu tindakan yang sadar. Namun, tanpa fokus, sisi ksatria ini bisa tersesat di antara keragaman pikiran tanpa kesimpulan, membuat jiwa terpecah dan tak mampu bertindak[1]. Tanpa kemampuan untuk berkonsentrasi pada “tugas besar”, manusia yang kehilangan fokus akan terjebak dalam rutinitas kecil sehari-hari tanpa menyentuh esensi keabadian[2]. Sebab, setiap kali akan mendekati keabadian, manusia jenis ini menemukan ada yang terlupa dan harus kembali, hingga pada akhirnya selalu terperangkap dalam siklus tanpa akhir.

Ksatria pada diri Olga sudah kehilangan fokus. Dalam dunianya, segalanya telanjur tercecer dan serba berantakan. Butuh waktu lama untuk mengungkapkannya secara tertata, karena satu rahasia bisa mengarah pada rahasia lain; satu masalah bisa menguak masalah lain. Kebenaran yang diungkap bisa melukai banyak orang. Olga tidak siap untuk itu. Dia tidak pernah siap untuk kebenaran yang memerdekakannya. Karena itu, dia terus bersembunyi. Dunia Olga ibarat kumpulan benang kusut yang membentuk gulungan bola yang terbelit dan dia telah tersesat kehilangan dirinya di antara kekusutan benang-benang masalahnya.

Kehilangan diri yang dialami Olga, jika ditilik dari konsep Kierkegaard, sudah terlalu kusut sebelum mencapai keabadian. Kierkegaard dalam karyanya “Either/Or” kurang lebih mengatakan seperti ini:

Ini adalah hal yang menyedihkan saat seseorang merenungkan kehidupan manusia, bahwa begitu banyak orang menjalani hidup mereka dalam kebingungan yang hening…mereka hidup, seolah-olah menjauh dari diri mereka sendiri dan menghilang seperti bayangan.

Kehilangan diri menciptakan penderitaan batin yang tak berujung. Manusia yang mengalami agony (manusia dengan penderitaan batin), oleh Kierkegaard digambarkan mengalami despair[3], sebuah keputusasaan yang menyimpang dari hubungan yang seharusnya dimiliki seseorang dengan dirinya sendiri. 

Di penghujung usianya, Olga berhadapan dengan kenyataan getir, bahwa rasa sakit dan keputusasaan yang telah lama ia rasakan tidak akan berakhir dengan kematiannya. Hal ini karena Olga menyadari dia tidak seorang sendiri. Dia masih punya cucu yang kelak bisa menanggung beban keputusasaan ini. Dia sadar bahwa hanya dia yang bisa mengakhiri despair ini agar tidak menjadi warisan generasi, agar cucu dan keturunannya kelak bisa merdeka, dan agar keluar dari repetisi.

Tapi pertanyaan mendasarnya dia harus mulai dari mana. Jika harus mengurai benang kusut, maka helai mana yang perlu ditarik terlebih dahulu agar tidak membelit benang lain atau malah menjadi simpul mati. 

Beberapa saat sebelum pertemuan diskusi edisi Va’ dove yang lalu, sambil menunggu peserta lain berdatangan, Irwanto Laman memancing saya dengan pertanyaan bagaimana perspektif perempuan Indonesia Timur dalam membaca Va’ dove? Pertanyaan ini sontak membuat saya, yang terlahir sebagai perempuan dari etnis Manggarai, dengan antusias menceritakan tradisi kami dari suku Manggarai. Irwanto mengatakan bahwa cerita saya itu perlu ditulis karena memberi perspektif unik, yang katanya tak terduga itu, dalam membaca Va’ dove.  

Maka melalui esai ini, saya mencoba mengemukakan benang merah antara nilai-nilai luhur dari tradisi kami dan konsep-konsep manusia dari Kierkegaard dalam membaca Va’ dove.

Dalam kekayaan budaya Manggarai, kami memiliki sebuah adat caca mbolot, yang mengajarkan pentingnya menyelesaikan masalah-masalah, dalam rangka memelihara hubungan baik dengan diri sendiri, keluarga, dan alam sekitar. Lebih dari sekadar tradisi, caca mbolot menjadi salah satu manifestasi dari falsafah suku Manggarai yang mengutamakan pengenalan terhadap diri sendiri, orang lain, asal-usul, sejarah, dan identitasnya.

Caca mbolot secara harafiah dapat diartikan mengurai yang terbelit. Dalam praktik ritusnya, caca mbolot biasanya dilakukan melalui diskusi kontemplatif di Mbaru Gendang (rumah adat Manggarai). Agenda utamanya mengurai satu per satu secara terperinci masalah-masalah yang berpotensi mempengaruhi satu keturunan atau mengganggu keberadaan satu suku keseluruhan.

Caca mbolot berusaha menemukan satu helaian untuk diuraikan, satu masalah untuk diselesaikan. Satu per satu tarikan benang diurai agar tidak menjadi semakin terlilit atau agar satu masalah tidak memper-keruh masalah lain atau menimbulkan masalah baru. Tarikan pertama harus dilakukan dengan hati-hati, artinya masalah yang dibahas pertama, dipilih dan dibahas dengan hati dan hati-hati. Peristiwa-peristiwa dituturkan dengan terperinci. Penguraian masalah ini memerlukan ketenangan, karena jika buru-buru justru dapat menciptakan kekusutan baru. Oleh karenanya, tidak semua hal dapat diselesaikan sekaligus, menjadikan waktu sampai dengan biaya penyelesaian dalam adat caca mbolot tidak dapat dipatok baku.

Kierkegaard menjelaskan bahwa manusia berada dalam hubungan yang menghubungkan dirinya dengan dirinya sendiri dan dirinya dengan hubungan yang lebih luas. Sementara, dalam konteks caca mbolot,  kesepakatan bersama untuk mengidentifikasi akar masalah dan menetapkan langkah-langkah perbaikan merupakan upaya kolektif untuk memperbaiki hubungan-hubungan yang saling terbelit. Ada benang merah di antara keduanya: Kierkegaard menekankan pentingnya keterhubungan, sementara caca mbolot menawarkan bagaimana merawat keterhubungan itu. Lebih jauh, dari konsep diri yang dijelaskan oleh Kierkegaard, saya dapat melihat bagaimana caca mbolot sebagai kearifan lokal masyarakat Manggarai adalah ekspresi dari konsep yang universal, yaitu pengenalan dan pemahaman terhadap hubungan antara diri sendiri, orang lain, dan warisan budaya atau sejarah yang membentuk identitas individu dan komunitas.

Kehidupan Olga dengan masa muda tahun 1940-an dan kehidupan wanita yang hanya berkutat urusan kinder, kürche, kirche sangatlah pelik. Dia melewati perang, gesekan peradaban, hidup dalam patriarki dan selalu dipandang inferior. Dalam penderitaan yang bertumpuk menggunung, tidak pernah ada penyelesaian, tidak ada keberanian untuk menyelesaikan. Olga sudah putus asa dengan setiap pengakuan yang berujung pada kehilangan. Tidak ada waktu yang cukup untuk penjelasan karena luka-luka baru yang mungkin timbul. Olga takut, sakit, putus asa, dan menderita secara batiniah. 

Kalau saja Olga mencapai sadar pada usia dini, mungkin dia memilih menikah bukan karena alasan takut dicap perawan tua. Mungkin juga ketika dia bertemu Ernesto, Olga bisa membedakan cinta dan bukan cinta (lelaki itu tetap bersama istri anaknya dan dia hanya wanita yang dijumpai sesekali). Kalau saja keputusan-keputusan hidupnya diambil dengan sadar, kalau saja dia tidak kehilangan dirinya, kalau saja tidak ada misrelation antara Olga dan dirinya, kalau saja ketika benang pertama terbelit, Olga tidak menunda untuk mengurainya.

Olga tahu itu di usia tua, ketika sakit datang dan waktunya semakin cepat. Olga percaya bahwa kesialan itu bisa diwariskan, karenanya ia berusaha mengurai benang-benang kusut yang mengikatnya. Benang pertama ia urai melalui surat. Kebenaran-kebenaran diungkapkan dan ini membuat luka lama kembali menimbulkan rasa sakit baru. Dalam kesadaran ini, Olga lebih takut jika ia pergi tanpa penjelasan. Ia tahu mungkin surat-surat itu akan menimbulkan seribu satu tanya, atau mungkin lebih, atau mungkin akan ada luka lain. Surat ini langkah caca mbolot bagi Olga menuju kemerdekaan batin, untuk melihat cahaya. Dalam kesadaran, Olga mewariskan nasihat untuk pergi ke mana hati membawa seseorang dan kata hati bisa ditemui dalam hubungan yang sadar dengan diri. 

Selamat mengurai simpulmu. Sadar, sabar, dan ikuti kata hatimu. 

Daftar Pustaka

Kierkegaard, Søren. Fear and Trembling. Edited and translated by E. H. Hong & H. V. Hong, Princeton University Press, 1983.

Kierkegaard, Søren. The Sickness Unto Death. Edited and translated by E. H. Hong & H. V. Hong, Princeton University Press, 1983.

Kierkegaard, Søren. Either/Or: Part I. Edited and translated by E. H. Hong & H. V. Hong, Princeton University Press, 1987.


[1] Kierkegaard, Søren. Fear and Trembling. Edited and translated by E. H. Hong & H. V. Hong, Princeton University Press, 1983.

[2] Ibid. Esensi keabadian, dalam pemikiran Kierkegaard, adalah sesuatu yang sangat personal dan erat kaitannya dengan perjalanan spiritual dan eksistensial individu. Ini melibatkan pengakuan terhadap batas-batas keberadaan manusia dan kebebasan untuk memilih bagaimana hidup dengan kesadaran tersebut, yang pada akhirnya dapat membawa individu ke pengalaman yang lebih mendalam tentang keabadian.

[3] Kierkegaard, Søren. The Sickness Unto Death. Edited and translated by E. H. Hong & H. V. Hong, Princeton University Press, 1983. Despair is a misrelation in a relation that relates itself to itself; it is not a misrelation in a relation but in a relation that relates itself to itself. That is, despair is a qualification of spirit.

Editor: Irwanto Laman

Diskusi

2 Comments

  1. Relasi dengan keabadian dapat meringankan bahkan membantu manusia untuk mengurai beragam “kembolotan” relasi dengan diri dan sesama, bahkan dengan alam. Terima kasih Celsa untuk tulisan yang sarat dengan aliran arus insight yang menyegarkan.

  2. Terima kasih, Pater. Saya menyukai Søren dan konsepnya terkait keyakinan, kebebasan dan keterhubungan dengan diri yang bisa dikaitkan erat budaya kita sebagai orang Manggarai.
    Salam banyak ke Jepang.

Leave a comment

Komentari tulisan ini