Gambar dihasilkan oleh AI generatif menggunakan perintah nenek 82 tahun menulis surat; diedit oleh ojkbook.club.

Sebelum memberikan pertanggungjawaban kuratorial, izinkan kami menyampaikan ihwal OJK Book Club.

Pada suatu jeda istirahat makan siang, Stevanie T. Simatupang mendorong saya untuk mendirikan sebuah klub baca. Inisiatif ini bermula dari obrolan ringan tentang Yuval Noah Harari, yang dalam postingan Instagramnya (15 Februari 2024), mengatakan bahwa sensor mutakhir tidak bekerja dengan menyembunyikan fakta, melainkan membanjiri kita dengan fakta-fakta lain. Kebisingan fakta-fakta ini melumpuhkan kemampuan kita untuk memilah mana informasi yang penting dan mana yang tidak.

Obrolan santai itu mengerucut pada pandangan kami bahwa kita perlu lebih reflektif terhadap bahan bacaan. Dalam konteks ini, membaca tidak hanya diartikan sebagai tindakan konsumtif (mencari yang mudah dicerna dan menghibur), tetapi juga tindakan sadar yang mendorong kita untuk bertanya tentang apa yang kita baca, bagaimana memilih bacaan, dan bagaimana memproses informasi yang ada di sana.

Dari obrolan itu, ide untuk menginisiasi sebuah perkumpulan yang mengupayakan kesadaran membaca dengan lebih reflektif itu lahir: OJK Book Club.

Tanpa mengesampingkan kekuatan dari pembacaan secara mandiri, kami meyakini bahwa membaca secara komunal dalam suatu perkumpulan akan banyak membantu dalam melahirkan keragaman perspektif, yang memberi peluang pada kemunculan narasi alternatif, dan bisa lebih jauh melihat di balik fasad sebuah teks, mempertanyakan asumsi dan premis yang mungkin luput diperiksa, atau mengidentifikasi kemungkinan bias/propaganda dari bahan bacaan. Dengan membaca seperti ini, kami meyakini perkumpulan membaca juga dapat mendorong kita untuk berpikir, merasa, dan, pada akhirnya, bertumbuh sebagai individu.

Tujuan-tujuan semacam itu akan terakselerasi dari adanya percakapan. Oleh karena itu, selain membaca buku, pertemuan diskusi juga merupakan kegiatan inti komunitas. Pertemuan ini adalah upaya untuk mewujudkan percakapan itu.

OJK Book Club berpandangan bahwa percakapan yang sehat, setara, dan menyenangkan berangkat dari asumsi bahwa semua pihak yang terlibat dalam percakapan memiliki informasi yang simetris. Dengan asumsi ini, maka percakapan yang efektif tentang suatu buku memerlukan acuan bersama, yaitu buku apa yang dipilih untuk diperbincangkan.

OJK Book Club menawarkan kegiatan kuratorial untuk menjawab apa dan bagaimana kita memilih bacaan bersama. Tentu saja kuratorial ini tidak menjanjikan bahan bacaan yang paling tepat untuk kebutuhan masing-masing anggota. Namun dalam konteks komunitas pembaca, kuratorial dapat berfungsi selayaknya jangkar. Ia diletakkan di bawah, bukan untuk jemawa menjadi penunjuk navigasi, melainkan membantu bahtera pembaca agar tidak terombang-ambing dalam lautan bahan bacaan yang tersedia. Semakin kuat jangkar, maka semakin ajeg pula ia memberi jaminan kualitas bagi semua penumpang dalam bahtera. Dalam menyitir ungkapan Socrates, kuratorial ingin menyalakan api, bukan mengisi wadah.

Naskah pertanggungjawaban kuratorial dibuat sebagai upaya agar anggota klub bisa ikut memeriksa jangkar itu. Melalui naskah pertanggungjawaban, anggota memperoleh kesempatan memahami pemikiran, pertimbangan, dan keputusan yang mendasari pilihan kuratorial. Sehingga naskah kuratorial tidak hanya membuka ruang dialog antara pembaca dan kurator, tetapi juga menanamkan rasa kepemilikan dan keterlibatan yang lebih dalam terhadap komunitas. Semua kritik yang tertuju pada desk kuratorial tidak dipandang sebagai penolakan atau negativisme, melainkan masukan untuk memperkaya dan memperbaiki kualitas kuratorial ke depannya. Kritik menjadi bagian dari proses belajar dan berkembang bersama. Dengan demikian, naskah pertanggungjawaban kuratorial bukan hanya menjadi alat untuk mempertanggungjawabkan keputusan yang telah diambil, tetapi juga sebagai langkah proaktif meningkatkan kualitas kerja-kerja kuratorial melalui kolaborasi dan refleksi bersama.

Pertemuan santai untuk membedah buku hasil pembacaan diselenggarakan sebulan sekali. Pertemuan ini terbuka bagi seluruh anggota, baik yang telah menyelesaikan bahan bacaan, yang belum selesai, atau bahkan belum sama sekali. Mereka yang sudah membaca didorong untuk menyampaikan perspektif, pengalaman, dan pengetahuannya. Sementara mereka yang belum merampungkan bahan bacaan ditarik untuk mendengar ragam perspektif, pengalaman, dan pengetahuan yang ditawarkan. Dengan cara ini, OJK Book Club meyakini pertemuan akan menjadi ruang produksi pengetahuan bersama. Risalah pertemuan ini akan didokumentasikan sebagai produk pengetahuan dalam bentuk e-proceeding yang bisa diakses oleh siapa saja.

Di akhir tahun, komunitas akan menentukan satu “Book of The Year” versi OJK Book Club, yang dipilih secara bersama-sama dari buku-buku yang telah dibaca di tahun berjalan.    

Demikian ihwal OJK Book Club. Sekarang izinkan kami menyampaikan naskah pertanggungjawaban kuratorial edisi kesatu sebagai berikut:

Va’ dove ti porta il cuore, karangan Susanna Tamaro, seluruhnya berisi sudut pandang Olga, seorang nenek yang ditinggal minggat cucu perempuannya ke Amerika dengan niat menyingkir dari kehidupan si nenek. Alih-alih memanggil atau mencari cucunya untuk pulang,  ia menulis buku harian berbentuk tulisan surat berisi kisah hidupnya.

Va’ dove ini istimewa mengingat hampir tidak ada novela yang memberi tempat kepada suara perempuan tua. Bayangkan ada seorang nenek berusia 82 tahun, ia menulis sependek ingatannya untuk menafsirkan hidupnya yang amat panjang. Karena dimakan usia, ia jadi pelupa dan cepat lunglai. Pikirannya melompat-lombat, penceritaannya tidak kronologis, ingatannya tidak utuh dipenggal oleh pelbagai peristiwa dan letupan-letupan emosi. Pandangannya tentang masa kini terhalang bias generasi. Dan kadang-kadang nada bicaranya khas orang tua yang sedikit menggurui.

Tapi justru itu yang menjadi kekuatan karya ini. Tamaro mengangkat tema yang nadir hari-hari ini: “terlalu banyak kata-kata memenjarakan pikiran”[1][3]. Ia seperti sengaja menulis secara rumpang di sana sini melalui tulisan surat tokoh Olga, untuk menunjukkan bahwa gagasan memang tidak cukup atau bahkan tidak dapat diungkapkan dengan bahasa yang logis dan sistematis, karena gagasan menyangkut pikiran yang sangat luas[2].

Va’ dove ditulis dengan teknik penulisan surat: epistolary novel (epistole = surat). Fakta Menarik: langgam fiksi semacam ini sudah ada sejak Epistulae Herodium karya Publius Ovidius (43SM s.d. 17M) yang mengarang beberapa surat, seolah-olah ditulis sosok-sosok dalam mitologi Yunani[3].

Va’ dove mendapatkan penghargaan “Donna Citta di Roma[4]”, diterjemahkan ke 18 bahasa, dan menjadi bestseller internasional pada 1994, dan diadopsi ke layar lebar pada 1995 oleh sutradara Cristina Comencini. Atase Kebudayaan Kedutaan Italia di Jakarta, mengatakan bahwa buku ini adalah buku Italia terlaris abad ke-20.[2]

Va’ dove masuk ke Indonesia dalam dua versi terjemahan: (1) penerjemahan oleh Antonius Sudiarja tahun 1994 dan (2) penerjemahan oleh Ingrid Nimpoeno tahun 2017. Sudiarja menerjemahkan dari teks asli berbahasa Italia, sementara Nimpoeno menerjemahkannya dari teks sekunder berbahasa Inggris (Follow Your Heart oleh Avril Bardoni).

Desk kuratorial memilih untuk membaca versi terjemahan Sudiarja, dengan pertimbangan sebagai berikut:

  1. Menghindari “telephone game effect”: pesan yang disampaikan melalui berbagai perantara akan banyak berubah dari aslinya. Setiap tingkat terjemahan menambah potensi distorsi pada nuansa, idiom, konteks budaya, dan makna yang lebih dalam dari teks asli.
  2. Sebelum diterbitkan menjadi buku, terjemahan Sudiarja mendapat sambutan luas pecinta sastra Italia yang mengikutinya melalui cerita bersambung di harian Kompas tahun 1994.
  3. Olga dalam tulisan suratnya tak jarang ia menyisipkan gagasan filsafat. Desk kuratorial menilai ini menjadi nilai tambah bagi Sudiarja mengingat ia lama belajar filsafat hingga meraih doktor filsafat dari Università Gregoriana, Roma, Italia. Saat ini Sudiarja adalah Guru Besar Filsafat Universitas Sanata Dharma,Yogyakarta.
  4. Terjemahan dari Inggris cenderung simplistis. Banyak perkara direduksi seolah-olah beres dengan anjuran terapeutis ala industri psikologisme.[3]
  5. Desk kuratorial menilai “novel perempuan”, dengan “aspek perempuan”, yang ditulis oleh perempuan tapi diterjemahkan dan direfleksikan oleh Sudiarja yang seorang laki-laki imam Yesuit, adalah seperti melihat sebuah karya seni melalui lensa yang tidak umum—lensa yang mungkin mengubah, menyaring, atau bahkan mendistorsi aspek-aspek tertentu dari karya asli. Proses ini bisa menghasilkan interpretasi yang unik dan berbeda, namun juga menghadirkan risiko bahwa nuansa, perspektif, dan esensi dari pengalaman perempuan dalam karya tersebut mungkin tidak sepenuhnya dipahami atau dihargai (yang sepele bagi laki-laki, mungkin tidak bagi perempuan). Interpretasi oleh Sudiarja mungkin menawarkan wawasan yang berharga dan perspektif baru, namun juga terbuka peluang kritik untuk memastikan suara dan pengalaman perempuan tidak hilang atau dikurangi nilainya dalam proses refleksi tersebut. Para perempuan pembaca di OJK Book Club disilakan untuk memberi kritik atas hal-hal yang “tidak bisa dilihat/dirasa” oleh laki-laki dalam pembacaan novel tersebut.

Demikian naskah pertanggungjawaban kuratorial edisi I. Semoga pembaca sekalian memperoleh kemudahan dalam mencari dan membeli buku ‘bekas’ Pergilah Ke Mana Hati Membawamu, mengingat cetakan terakhir (cetakan ke-4) diterbitkan pada 2006 dan belum ada informasi cetakan ke-5.

Salam hormat dari kami,

Irwanto dan R.C. Dona


[1] Hal. 105, Cetakan ke-1, Susanna Tamaro, Va’ dove ti porta il cuore, ‘Pergilah ke Mana Hati Membawamu’, terjemahan oleh A. Sudiarja (Gramedia Pustaka Utama, 2004).

[2] Pengantar Cetakan ke-1, Susanna Tamaro, Va’ dove ti porta il cuore, ‘Pergilah ke Mana Hati Membawamu’, terjemahan oleh A. Sudiarja (Gramedia Pustaka Utama, 2004).

[3] Karlina Supelli, “Jeda Di Antara Kata-Kata”.

[4] Penghargaan yang diberikan untuk menghormati dan mengakui kontribusi perempuan di berbagai bidang kehidupan di kota Roma, Italia. Penghargaan ini bertujuan menyoroti pencapaian signifikan yang  dilakukan perempuan, baik dalam skala lokal maupun internasional, yang telah memberikan dampak positif terhadap perkembangan kota Roma, masyarakatnya, serta promosi budaya dan nilai-nilai kota tersebut ke dunia luas.

Komentari tulisan ini

Komentari tulisan ini