Melankolia Perempuan
Kesan yang membekas setelah membaca Va’ dove adalah Olga perempuan melankolis. Meminjam istilah dari Julia Kristeva dalam bukunya “Black Sun: Depression and Melancholia”, melankolia diidentifikasi sebagai kesedihan yang sangat dalam, berasal dari kehilangan sesuatu atau seseorang yang sangat dicintai. Kesedihan ini menciptakan luka begitu dalam hingga sulit diungkapkan, sering kali berlarut-larut tanpa alasan jelas, dan menyebabkan seseorang kehilangan kata-kata, termasuk kehilangan keinginan hidup[1]. Kristeva secara sistematis memisahkan depresi dari melankolia dengan lensa psikoanalisis. Ia mengungkapkan depresi adalah kondisi psikologis yang dapat diobati secara klinis, sedangkan melankolia lebih kompleks[2].
Olga menjadi melankolis sejak usia enam tahun, disulut perkataan picik, sadis, dan tidak sensitif dari ayahnya sendiri. Alih-alih memberi penghiburan atas kehilangan Argo (nama anjingnya), ayahnya justru melempar komentar tidak perlu: “Karena dia bosan dengan perlakuanmu” [hal.59].
Kehilangan anjing paling ia cintai, ditambah dengan komentar bengis semacam itu, menciptakan ceruk yang memerihkan perasaannya. Sampai-sampai tidak tahu bagaimana ia mengungkapkan kesedihannya itu. Olga hanya mengatakan seperti ada sesuatu dalam dirinya yang lahir. Ia tidak bisa menjelaskan apa sesuatu itu. “Begitu aku mendengar kata-kata itu, sesuatu dalam diriku lahir. Aku mulai tidak bisa tidur, dan di waktu siang sesuatu yang tak berarti bisa membuatku menangis” [hal.59]. Betapa ucapan ayah Olga seenteng melempar batu ke lautan, tanpa tahu seberapa dalam batu itu bisa tenggelam di dasarnya.
Menariknya, menurut Kristeva, sebagian besar individu melankolis mengalami “sublimasi” atau pengalihan atas energi psikis yang tidak terpakai menjadi aktivitas kreatif atau intelektual[3].
Olga dalam Va’ dove tampaknya mempersonifikasikan jenis melankolia yang Kristeva deskripsikan. Kesedihan Olga bukanlah sesuatu yang sementara; itu adalah bagian dari keberadaannya, sebuah latar belakang emosional konstan yang mempengaruhi bagaimana ia berinteraksi dengan dunia sekitarnya. Melankolia Olga memberinya kedalaman sekaligus kerumitan, membentuk sudut pandang dan responsnya terhadap kehidupan. Dan itu ia bawa sepanjang hidupnya.
Lebih jauh lagi, Olga menunjukkan kemungkinan sublimasi yang disebutkan Kristeva. Meskipun Va’ dove tidak secara eksplisit menggambarkan aktivitas kreatif Olga sebagai respons langsung terhadap melankolinya, kita dapat menangkap alam intelektualnya berkembang. Ia lebih peka terhadap keadaan dengan menggali gagasan-gagasan filsafat untuk memaknai perjalanan hidupnya. Gagasan-gagasan filsafatnya pun kaya metafora yang indah. Keindahan semacam itu bisa jadi kreativitas dari melankolinya.
Mengamati Olga melalui lensa Kristeva tidak hanya membantu memahami karakternya, tetapi juga memperluas pemahaman tentang melankolia itu sendiri. Melankolia, dalam konteks ini, bukan hanya tentang kesedihan yang mendalam; tetapi juga bagaimana kesedihan itu memperkaya pengalaman hidup, memberikan wawasan yang unik dan mengasah kepekaan yang tajam terhadap kehidupan. Meskipun merupakan kondisi yang menyakitkan, melankolia juga dapat menjadi sumber kekuatan, kedalaman emosional, dan keindahan.
Surat Menjadi Medium Penceritaan
Va’ dove ditulis dengan teknik penulisan surat: epistolary novel (epistole = surat). Langgam fiksi semacam ini sudah ada sejak Epistulae Herodium karya Publius Ovidius Naso (43SM—17M) yang mengarang surat-surat seolah ditulis oleh sosok-sosok terkenal dalam mitologi Yunani[4].
Beberapa contoh terkenal dari fiksi epistolary termasuk “Dracula” oleh Bram Stoker, yang menggunakan surat, jurnal, dan rekaman harian untuk menceritakan kisah vampir legendaris; “The Color Purple” oleh Alice Walker, di mana surat kepada Tuhan dan adiknya menjadi sarana utama bagi protagonis menceritakan kehidupannya; dan “Where’d You Go, Bernadette” oleh Maria Semple, yang menggabungkan surel, dokumen, dan korespondensi lain untuk menceritakan kisahnya.
Fiksi semacam ini unggul dalam menyajikan realisme psikologis. Akses langsung ke perspektif internal karakter memungkinkan penulis untuk secara mendalam menggali psikologi karakter, memberikan eksplorasi yang lebih kaya dan lebih kompleks tentang motivasi, ketakutan, dan keinginan mereka[5]. Metode ini sering kali memberikan wawasan yang lebih otentik dan berlapis tentang karakter daripada yang mungkin dicapai melalui narasi orang ketiga yang serba tahu.
Salah satu keistimewaan fiksi epistolary adalah kemampuannya untuk menciptakan tingkat keintiman antara pembaca dan karakter yang sulit dicapai melalui gaya narasi lain. Dokumen-dokumen pribadi seperti surat dan diari memberi pembaca kesempatan “mendengarkan” pikiran dan perasaan terdalam karakter, sering kali mengungkapkan rahasia dan kebenaran yang tidak diungkapkan kepada tokoh lain dalam cerita[6]. Ini menempatkan pembaca dalam posisi yang unik, serasa menjadi teman dekat atau pengamat pribadi dari karakter tersebut.
Va’ dove seluruhnya berisi sudut pandang perempuan tua. Ada semacam “protes” dari suara nenek yang disampaikan Va’ dove kepada dunia: “kakek-nenek tidak dianggap cukup penting hingga perlu diciptakan sebutan bila kita kehilangan mereka. Sepertinya lumrah bagi mereka untuk ditinggalkan, dilupakan, bagai payung-payung yang terlupakan” [hal.27]. Novel ini terasa istimewa karena memberi perspektif yang jarang ditemukan: sudut pandang seorang nenek yang menghadapi kesepian, pelupaan, dan ketidakberartian dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus mengkritik konstruksi sosial yang ada.
Karena ditulis secara epistolary, maka kita berkenalan dengan Olga hanya sejauh yang Olga ceritakan. Tamaro tidak memberi perspektif orang lain, orang ketiga serba tahu, atau bahkan suara cucu Olga sendiri. Hal ini memberi kita kesulitan untuk berpikir secara adil tentang Olga dan semua orang yang diceritakan Olga. Kendati demikian, kita bisa menemukan keseruan membaca Va’ dove dalam hal menyaksikan pergulatan batin Olga. Kita bisa dengan bebas mengapropriasi kisah Olga, terlebih karena Va’ dove tidak memberi nama untuk sang cucu[7], maka pada bagian-bagian tertentu kita bisa mengambil peran sebagai orang yang dinasihati Olga.
Antara Realitas dan Hyperrealitas
Olga tidak begitu yakin dengan isi suratnya sendiri. Dia menilai isi suratnya “tidak konsisten, ngawur, dan tidak ada dukungan logika” [hal.105]. Kerendahan hati nenek Olga pada pengakuannya ini, bisa kita lihat sebagai cara Tamaro secara implisit dengan menggunakan bahasa sehari-hari, ingin mengingatkan bahwa surat adalah medium yang bisa menciptakan realitas baru yang berbeda dengan realitas asali.
Keraguan Olga terhadap konsistensi dan logika dalam surat-suratnya bukan sekadar refleksi dari ketidakpercayaan diri; melainkan titik awal dalam perjalanannya menuju realitas baru: dari realitas menuju hyperrealitas. Surat-surat yang ia ragukan itu sebenarnya bertindak sebagai kanvas di mana Olga mengecat ulang kenangan masa lalunya dengan warna-warna baru dari persepsi dan interpretasinya yang sekarang.
Jean Baudrillard, dalam karyanya “Simulacra and Simulation“, mengidentifikasi masyarakat pascamodern telah memasuki fase di mana simulasi—proses peniruan atau replikasi dari sesuatu yang nyata—tidak hanya menggantikan realitas, tetapi juga menciptakan versi realitas yang “lebih nyata dari nyata” itu sendiri[8]. Baudrillard menggunakan istilah “simulacra” untuk menggambarkan salinan atau replika yang tidak memiliki asli atau kenyataan dasar, menandai pergeseran dari representasi ke simulasi sebagai cara dominan kita memahami dunia.
Simulacra dalam Va’ dove dapat dilihat melalui Olga menghidupkan kembali pengalaman masa lalunya. Olga, sebagai narator tunggal, memilih dan menafsirkan kembali momen-momen dari masa lalunya untuk mengomunikasikan nilai-nilai, pengajaran, dan kebenaran hidup kepada cucunya. Proses selektif dan naratif ini mirip dengan pemikiran Baudrillard tentang hyperrealitas. Dalam konteks ini, Olga bisa memilih dan mempresentasikan realitas: terdistorsi oleh lensa subyektivitasnya, kebutuhan naratifnya, dan tujuan emosionalnya. Kenangan-kenangan yang diceritakan menjadi lebih dari sekedar rekaman peristiwa; mereka menjadi artefak dari suatu realitas yang telah “ditingkatkan”, di mana pelajaran moral dan emosional menjadi lebih penting daripada fakta atau kronologis yang sebenarnya.
Surat-surat yang ditulis Olga bisa dianggap sebagai medium simulasi yang mengonstruksi kembali kenangan, pengalaman, dan nasihat yang berpotensi melebihi realitas konkret kehidupan mereka sebenarnya. Surat-surat tersebut menciptakan sebuah dunia di mana batas antara masa lalu dan masa kini, antara pengalaman pribadi dan nasihat universal, menjadi kabur, menawarkan sebuah versi realitas yang lebih kohesif dan lebih bermakna dibandingkan dengan fragmen-fragmen memori Olga yang sebenarnya berserakan.
Lebih lanjut, Va’ dove menyuguhkan bagaimana hubungan antara nenek dan cucunya, yang semua dibangun melalui surat-surat, dapat menunjukkan bagaimana hubungan interpersonal bisa juga menjadi sebuah hyperrealitas. Komunikasi tertulis memungkinkan untuk pembangunan kembali atau penyempurnaan ekspresi emosi dan pemikiran yang, dalam interaksi langsung, mungkin lebih berantakan atau kurang terartikulasi. Dalam hal ini, surat-surat tersebut menciptakan versi hubungan yang lebih kaya dan lebih mendalam daripada yang mungkin terjadi dalam realitas sehari-hari yang sebenarnya, di mana kekacauan dan ketidaksempurnaan komunikasi langsung sering kali mendominasi.
Dari kaca mata Baudrillard, kita bisa melihat bagaimana narasi pribadi dan memori berfungsi sebagai sarana untuk menciptakan versi realitas yang kita anggap lebih nyata dari kenyataan itu sendiri. Dalam masyarakat yang terobsesi dengan pencarian autentisitas dan pengalaman “asli,” Va’ dove ini menantang kita untuk mempertanyakan apakah keaslian tersebut dapat ditemukan dalam rekonstruksi naratif dari kehidupan kita, atau apakah kita sebenarnya sedang terjebak dalam simulasi emosi dan pengalaman yang tak pernah bisa sepenuhnya menangkap esensi dari kehidupan nyata.
Motherhood dan Mothering
Olga seperti mengalami matrofobia, lalu menular ke Ilaria. Olga ingin memutus rantai penularan ini kepada cucunya.
Pada mulanya matrofobia yang Olga alami menyangkut ketakutan mendalam akan penyerapan identitas dan nilai-nilai yang tidak ingin ia warisi dari ibunya. Ini sejalan dengan argumen Rich alam bukunya “Of Woman Born: Motherhood as Experience and Institution”, bahwa perempuan muda sering berusaha memisahkan diri dari ibunya sebagai bagian dari upaya mereka untuk menciptakan identitas yang autentik dan independen[9].
“Tatkala ibumu lahir, aku sangat yakin bahwa aku akan berbeda dari ibuku. Aku membencinya, namun perlahan-lahan, berlawanan dengan kemauanku, aku menjadi seperti dirinya” [hal.87].
Namun pada bab lain, kita menemukan matrofobia yang Olga alami lebih kompleks. Olga mengatakan gagasan melahirkan membuatnya gelisah. Sebagai seorang anak, ia sangat menderita dan dia takut pada gilirannya ia akan membuat seorang makhluk tak berdosa menderita seperti dirinya [hal.133]. Kita bisa membaca secara berbeda atas pengakuan ini: ketakutan Olga mengandung secara biologis makhluk lain dalam raganya.
Pengibuan (motherhood) tidak sama dengan menjadi ibu (mothering). Motherhood merujuk pada status atau kondisi menjadi seorang ibu. Menurut Rich, ini adalah konsep masyarakat patriarki: wanita harus melahirkan dan menjadi ibu secara biologis untuk anak-anaknya. Sedangkan mothering, lebih fokus pada tindakan atau praktik pengasuhan anak, seperti merawat, mendidik, dan membesarkan anak-anak. Mothering tidak terbatas pada ibu biologis saja; bisa dilakukan oleh individu lain yang mengambil peran aktif dalam pengasuhan anak, termasuk ayah, pengasuh anak, dan anggota keluarga lainnya. Mothering lebih menekankan pada hubungan dan interaksi antara pengasuh dengan anak, dan kualitas perawatan yang diberikan.
Dalam masyarakat, sering kali ada tekanan implisit atau eksplisit yang diletakkan pada perempuan bahwa mereka harus melahirkan sebagai bagian esensial dari identitas dan peran mereka. Gerakan feminisme gelombang kedua memperjuangkan pembebasan perempuan dari konstruksi sosial semacam ini. Gerakan feminisme gelombang kedua menganggap pandangan itu mereduksi nilai perempuan hanya pada kemampuan reproduksi mereka, mengabaikan keinginan, ambisi, dan identitas lain yang mereka miliki.
Gagasan melahirkan yang membuat Olga gelisah adalah gambaran Olga tertekan oleh tuntutan sekitarnya bahwa ia sebagai perempuan pada gilirannya harus mengandung dan melahirkan. Tapi di sisi lain, Olga secara tegas mengaku bukan seorang feminis [hal.61]. Apakah Tamaro tidak konsisten? Jawaban atas pertanyaan ini bisa kita periksa melalui kronologi perjalanan hidup Olga dalam linimasa sejarah perkembangan feminisme di Eropa pada masanya.
Olga dan Feminisme di Eropa
Kesulitan membaca Va’ dove adalah penceritaan yang tidak kronologis dan minim informasi penanggalan. Maka dengan informasi yang ada, kita bisa memetakan perjalanan hidup Olga pada linimasa perkembangan feminisme di Eropa.
Ada tiga informasi yang bisa jadikan pijakan berdasarkan cerita: Pertama, Revolusi Oktober pecah saat Olga berusia 7 tahun [hal.203]. Kedua, Olga menikah dengan Agusto pada 1 Juni 1940 [hal.137]. Dari dua informasi ini, kita bisa hitung secara matematis bahwa Olga berusia 30 tahun saat menikah. Apa yang terjadi di Eropa pada masa-masa Olga sebelum menikah?
Jika Olga berusia 7 tahun pada Revousi Oktiber pecah, maka Olga lahir sekitar tahun 1910. Di tahun ini, gerakan Suffragette[10] mendapat banyak perhatian di banyak negara Eropa. Tujuh tahun setelahnya (1917), Revolusi Oktober pecah di Rusia[11]. Revolusi ini membawa dampak signifikan terhadap gerakan sosial dan politik di seluruh dunia, termasuk mendorong perdebatan tentang hak-hak wanita. Pada masa ini periode feminisme gelombang kesatu masih berlanjut, memperjuangkan hak-hak wanita secara politik. Pada 1940, Olga menikah dengan Agusto di usia 30 tahun. Periode ini berada di tengah Perang Dunia II, sebuah era ketika banyak wanita Eropa memasuki tenaga kerja, mendorong perubahan dalam persepsi peran gender.[12]
Dari 1910 ke 1940, Olga berada pada situasi Eropa masih dengan gerakan feminisme gelombang kesatu, yang berfokus pada hak pilih untuk perempuan dan isu-isu hukum yang mempengaruhi wanita.
Pada feminisme gelombang pertama, Tamaro menempatkan Olga sebagai kelas borjuis yang tidak peduli pada politik Eropa sepanjang abad ke-20. Olga lebih suka membicarakan hal-hal remeh di sekitarnya, bukan Eropa yang porak-poranda akibat perang dunia ke-2. Olga lebih memilih menjadi silent majority, yang memilih hidup tenang, yang ia sebut sebagai salah satu ambisi terbesar manusia [hal.138].
“Ada fasisme, hukum-hukum rasial, perang yang meletus, namun aku toh terus saja terfokus pada kesulitan-kesulitanku yang remeh serta gerakan-gerakan mikroskopik jiwaku. Kecualil sejumlah kecil manusia politik, semua orang di kota tempat kami tinggal bersikap seperti itu” [hal.137].
Linimasa ketiga yang bisa kita gunakan adalah pada bagian Ilaria dewasa. Gerakan feminisme yang memperjuangkan hak-hak reproduksi mulai menggema. Ini bisa dibaca pada bagian Ilaria pergi ke Padua untuk berkuliah dan bersentuhan dengan kelompok-kelompok feminis dan ikut dalam gerakan demonstrasi mahasiswa. Kemungkinan ini terjadi di tahun 1968, karena pada tahun itu sedang terjadi gerakan protes mahasiswa hampir di seluruh Eropa, termasuk di Italia[13]. Feminisme Eropa sudah masuk ke gelombang kedua, yang fokus pada isu-isu seperti kesetaraan di tempat kerja, hak reproduksi, dan undang-undang anti-diskriminasi.
Dari ketiga linimasa ini, dugaan Tamaro tidak konsisten terkait sikap Olga terhadap feminisme tidak cukup kuat untuk dipertahankan. Pikiran Olga tentang “gagasan melahirkan membuatnya gelisah” tidak dipengaruhi oleh gerakan feminisme pada zaman itu. Kita bisa menduga ini murni dipengaruhi oleh matrofobia yang ia alami.
Pada bab lainnya, sasaran kritik Olga justru tertuju pada feminisme gelombang kedua. Ia berselisih paham dengan Ilaria soal perempuan berhak atas dirinya, yang bebas menggunakan laki-laki sebagai kebutuhan biologis semata. Olga tidak memahami gerakan ini dan menyebutnya sebagai gagasan-gagasan yang tidak sehat dan menyimpang [hal.122].
Manusia Gembira dan Bahagia
Sepanjang hidup, hampir seluruhnya Olga tidak bahagia. Ia mengaku kehilangan kebahagian [hal. 86]. Ia hanya gembira di antara semua peristiwa yang ia lalui. Ia mengatakan kegembiraan selalu memiliki objek, kondisi yang eksistensinya tergantung hal-hal eksternal. Kebahagiaan, sebaliknya, tidak memiliki objek. Ia menguasai tanpa alasan bak matahari yang membakar, dan bahan bakarnya berasal dari inti hatinya sendiri.
Kebahagiaan, dalam pemikiran Aristoteles disebut eudaimonia, merupakan kondisi keberadaan manusia yang paling diidamkan, di mana seseorang hidup sesuai dengan kebajikan tertinggi dan potensi penuhnya[14]. Eudaimonia bukan hanya tentang perasaan senang atau puas secara sementara, melainkan tentang kebahagiaan yang berasal dari kehidupan yang berarti dan bermakna, di mana seseorang berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan yang memperkaya jiwa dan mengembangkan karakternya[15].
Sebaliknya, kegembiraan atau hedone dalam filsafat Yunani sering dikaitkan dengan kesenangan sensorik dan kepuasan keinginan. Epicurus, seorang filsuf yang menganjurkan pencarian kesenangan sebagai kunci untuk mencapai kehidupan yang baik, membedakan kesenangan tubuh (seperti makanan dan minuman) dan kesenangan mental (seperti persahabatan dan pemikiran filosofis). Meskipun Epicurus mengakui nilai kesenangan, ia juga menekankan pentingnya memilih kesenangan yang bijaksana untuk mencapai ataraxia, atau ketenangan batin[16]. Ataraxia bisa dibaca lebih lanjut melalui buku “Ataraxia: Bahagia Menurut Stoikisme” karangan Setyo Wibowo S.J.
Perbedaan utama antara kebahagiaan dan kegembiraan terletak pada sumber dan keberlangsungan mereka. Kebahagiaan sebagai eudaimonia berasal dari kehidupan yang berakar pada kebajikan dan realisasi diri, seringkali memerlukan refleksi diri dan pertumbuhan pribadi. Kegembiraan, sebaliknya, seringkali lebih sementara dan dapat berubah-ubah, tergantung pada kondisi eksternal dan pemenuhan keinginan sesaat[17].
Selain itu, pencapaian eudaimonia dianggap memiliki nilai intrinsik yang tidak hanya menguntungkan individu tetapi juga komunitas di sekitarnya. Kebahagiaan yang berasal dari kebajikan dan kontribusi terhadap kebaikan bersama menawarkan kepuasan yang lebih dalam dan tahan lama dibandingkan kegembiraan sesaat yang bersifat hedonistik.[18]
Siapakah Perempuan
Simone de Beauvoir, seorang eksistensialis dan feminis, dalam karyanya “The Second Sex” berargumen bahwa perempuan secara historis telah di-“Lain”-kan[19], didefinisikan hanya dalam relasi ke laki-laki dan tidak sebagai subjek otonom, tidak esensial, dan dibentuk untuk tidak memberontak[20]. Sejarah perempuan di-Lain-kan ini, bisa kita temui pada Olga yang merasa mewarisi ketidakbahagiaan ibunya. “Ketidakbahagiaan biasanya mengikuti garis perempuan” [hal.61]. Ibunya telah di-Lain-kan oleh kedua orang tuanya, dan itu membawa pengaruh bagaimana Olga juga diperlakukan oleh ibunya menjadi sejenis kera yang harus dilatih dengan hati-hati [hal.57]. Potret masyarakat Eropa waktu itu dalam memandang perempuan, terungkap dari penuturan Olga menceritakan kisah ibunya menjadi perempuan, yang dibandingkan dengan kakak laki-lakinya: “Sunguh sial baginya karena dilahirkan tidak hanya sebagai perempuan, melainkan juga pada hari kematian kakaknya. Ia hanyalah pengganti, jiplakan kabur dari orang yang lebih baik” [hal.61]. Perempuan adalah jiplakan kabur dari laki-laki adalah cara Olga membingkai perempuan sebagai “the second sex” masyarakat Eropa saat itu.
Spiritualitas Hati
Dari judulnya yang sentimentil “Pergilah Ke Mana Hati Membawamu”, apa itu hati yang dimaksud Tamaro?
Kata cuore dalam bahasa Italia, yang diterjemahkan menjadi “hati”, berasal dari akar ḱerd-, ḱḗr ~ ḱr̥d-, yang kemudian berkembang menjadi kord dalam Proto-Italik, berarti “jantung”. Kata ini kemudian berkembang menjadi “cordis” dalam bahasa Latin sebelum akhirnya menjadi “cuore” dalam bahasa Italia. Kata ini tidak hanya merujuk pada organ jantung secara anatomis tetapi juga pada emosi, pusat, atau inti sesuatu[21].
Hati dalam Va’ dove memang berperan bukan sebagai organ fisik; ia menjadi simbol dari kebijaksanaan emosional, intuisi, dan spiritualitas yang mendalam. Tamaro menggunakan hati sebagai metafora untuk menggambarkan pusat keberadaan manusia yang paling autentik, di mana keputusan dan pemahaman yang paling murni dan jernih bisa muncul.
Yang tidak ada dalam Va’ dove adalah eksplorasi akal sehat di balik setiap keputusan. Padahal, tidak semua keputusan bisa mengandalkan dorongan hati semata. Contohnya, kita tidak bisa menjelaskan kenapa bisa seorang pegawai berani melawan birokrasi yang korup dengan mempertaruhkam karirnya. Tentu saja, itu dorongan batinnya yang mulia. Tapi itu sulit diterima oleh akal tatkala dilihat dalam arena individu melawan sebuah sistem. Sistem korup seharusnya dikoreksi dengan pembenahan sistem, bukan aksi individual.
Oleh karenanya, dalam setiap membuat keputusan yang sehat, kita tidak hanya perlu dituntun oleh kejernihan batin, tetapi juga harus tercerahkan oleh akal sehat. Keduanya penting dan bekerja tandem ibarat radar yang sama-sama harus selalu cermat dan siaga[4]. Agar kecermat-siagaan ini tajam terhadap segala kemungkinan yang datangnya bisa dari mana saja, maka keduanya perlu dilatih dan diasah dalam laku sehari-hari dan secara terus-menerus.
Kendati kita hanya bisa menduga-duga, salah satu kemungkinan jawaban atas pertanyaan desk kuratorial kenapa Sudiarja menerjemahkan Va’ dove, bisa kita temukan pada bagian Olga bertemu dengan Thomas (Imam Yesuit dari Jerman).
Sudiarja, yang juga seorang Imam Yesuit, sepertinya ingin mengajak pembaca di Indonesia mengenal Yesuit[22] walaupun hanya sepenggal. Hubungan yang dibangun Olga dengan Thomas, memberikan gambaran mengenai bagaimana spiritualitas dapat membantu seseorang menavigasi kompleksitas hidup. Serikat Yesuit, yang dikenal dengan pendekatan mereka yang intelektual dan spiritual, menjadi simbol dari upaya menghubungkan ilmu pengetahuan (akal sehat) dan spiritualitas (hati) dalam pencarian makna hidup yang lebih dalam. Dengan menyertakan rujukan kepada Yesuit, Sudiarja mungkin ingin mengintrodusir pembaca Indonesia ke wawasan spiritual Yesuit yang universal, yang bisa diterapkan dalam pelbagai konteks budaya dan kehidupan. Kita juga bisa melihat nasihat terakhir Olga kepada cucunya seperti setarikan-nafas dengan spriritualitas Yesuit, yang bisa kita duga, nasihat itu diperoleh Olga setelah bertemu dengan Thomas.
Nasihat terakhir Olga kepada cucunya: Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu dan kau tak tahu jalan mana yang harus kauambil, janganlah memilihnya dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulah sesaat. Tariklah napas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan, seperti kamu bernapas di hari pertamamu di dunia ini. Jangan biarkan apa pun mengalihkan perhatianmu, tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarlah hatimu. Lalu, ketika hati itu berbicara, beranjaklah, dan pergilah ke mana hati membawamu.
Pesan sentral Olga ada di situ dan terpenggal menjadi judul novel. Maka sekali lagi kita hanya menerka-nerka alasan Romo Sudiarja menerjemahkan ini: Va’ dove bukan hanya “novel perempuan” dengan “aspek perempuan”, tetapi juga novel yang mengartikulasi spiritual Yesuit yang universal melalui pengalaman perempuan, sebagaimana spiritual Yesuit: Latihan rohani bertujuan untuk menaklukkan diri dan mengatur hidup begitu rupa hingga tak ada keputusan diambil di bawah pengaruh rasa lekat tak teratur mana pun juga[23].
Daftar Pustaka
Annas, J. (1993). The Morality of Happiness. Oxford University Press.
Aristoteles. Nicomachean Ethics.
Baudrillard, J. (1981). Simulacra and Simulation. Ann Arbor: The University of Michigan Press.
De Beauvoir, Simone. The Second Sex. Paris: Gallimard, 1949.
DeGroot, G. J. Blitzkrieg to Blitz: The Contribution of Women during World War II. London: Palgrave Macmillan, 1998.
Dusseau, Lizbeth. The Epistolary Novel: Representations of Consciousness. Routledge, 2003.
Epicurus. Letter to Menoeceus.
Fitzpatrick, Sheila. The Russian Revolution. Oxford: Oxford University Press, 2008.
Fraser, Ronald. 1968: A Student Generation in Revolt. Pantheon Books, 1988.
Kauffman, Linda S. Discourses of Desire: Gender, Genre, and Epistolary Fictions. Ithaca: Cornell University Press, 1986.
Kristeva, Julia. Black Sun: Depression and Melancholia. New York: Columbia University Press, 1989.
Poedjiono, Laurentinus Priyo. Kontemplasi Latihan Santo Ignatius Layola. Penerbit Kanisius, 2022.
Rich, Adrienne. Of Woman Born: Motherhood as Experience and Institution. W.W. Norton, 1976.
Seligman, M. E. P. (2002). Authentic Happiness: Using the New Positive Psychology to Realize Your Potential for Lasting Fulfillment. New York: Free Press.
Ware, Susan. Why They Marched: Untold Stories of the Women Who Fought for the Right to Vote. Cambridge, MA: Belknap Press, 2019.
Waterman, A. S. (1993). Two conceptions of happiness: Contrasts of personal expressiveness (eudaimonia) and hedonic enjoyment. Journal of Personality and Social Psychology, 64(4), 678-691.
[1] Kristeva, Julia. Black Sun: Depression and Melancholia. New York: Columbia University Press, 1989.
[2] Ibid., Kristeva menjelaskan bagaimana melankolia menantang batas-batas bahasa dan ekspresi.
[3] Ibid., Dalam analisisnya tentang seni dan literatur, Kristeva mengeksplorasi bagaimana karya kreatif dapat menjadi media untuk mengartikulasikan dan mengolah melankolia.
[4] Karlina Supelli, pada artikel “Jeda Di Antara Kata-Kata”.
[5] Dusseau, Lizbeth. “The Epistolary Novel: Representations of Consciousness.” Routledge, 2003.
[6] Kauffman, Linda S. “Discourses of Desire: Gender, Genre, and Epistolary Fictions.” Ithaca: Cornell University Press, 1986.
[7] Pada versi adaptasi film, cucu Olga diberi nama Martha.
[8] Baudrillard, J. (1981). Simulacra and Simulation. Ann Arbor: The University of Michigan Press.
[9] Rich, Adrienne. Of Woman Born: Motherhood as Experience and Institution. W.W. Norton, 1976.
[10] Ware, Susan. Why They Marched: Untold Stories of the Women Who Fought for the Right to Vote. Cambridge, MA: Belknap Press, 2019. Suffragette berasal dari kata “suffrage” yang berarti hak pilih. Suffragettes adalah bagian dari kampanye ‘Hak Pilih untuk Perempuan’ yang telah lama berjuang untuk hak perempuan dalam memilih di Inggris.
[11] Fitzpatrick, Sheila. The Russian Revolution. Oxford: Oxford University Press, 2008. Revolusi Oktober, bagian kedua dari revolusi Rusia di tahun 1917, setelah Revolusi Februari yang menggulingkan Tsar Nicholas II. Revolusi Oktober menghasilkan kenaikan kekuasaan Partai Bolshevik di bawah kepemimpinan Vladimir Lenin, yang mengarah pada pembentukan Uni Soviet, sebuah negara komunis pertama di dunia.
[12] DeGroot, G. J. Blitzkrieg to Blitz: The Contribution of Women during World War II. London: Palgrave Macmillan, 1998.
[13] Fraser, Ronald. 1968: A Student Generation in Revolt. Pantheon Books, 1988.
[14] Aristoteles. “Nicomachean Ethics.” Dalam hal ini, Aristoteles mendefinisikan eudaimonia sebagai kebahagiaan atau kesejahteraan yang dicapai melalui praktik kebajikan.
[15] Waterman, A. S. (1993). “Two conceptions of happiness: Contrasts of personal expressiveness (eudaimonia) and hedonic enjoyment.”Journal of Personality and Social Psychology, 64(4), 678-691. Artikel ini menjelaskan perbedaan antara kebahagiaan yang dihasilkan dari ekspresi diri dan kegembiraan yang bersifat hedonistik.
[16] Epicurus. “Letter to Menoeceus.” Dalam surat ini, Epicurus berbicara tentang pencarian kesenangan sebagai inti dari kehidupan yang baik, namun ia menekankan kesenangan yang tidak mengakibatkan kesakitan sebagai yang paling diinginkan.
[17] Annas, J. (1993). “The Morality of Happiness.” Oxford University Press. Buku ini mengeksplorasi konsep kebahagiaan dalam filsafat Yunani kuno dan pengaruhnya terhadap pemikiran etis, termasuk perbedaan antara eudaimonia dan hedone.
[18] Seligman, M. E. P. (2002). “Authentic Happiness: Using the New Positive Psychology to Realize Your Potential for Lasting Fulfillment.” New York: Free Press. Seligman menguraikan teori kebahagiaan yang lebih berorientasi pada kebajikan, yang ia sebut sebagai “kebahagiaan otentik,” yang melampaui kesenangan sesaat untuk mencakup kepuasan yang berasal dari pencapaian dan hubungan yang bermakna.
[19] De Beauvoir, Simone. The Second Sex. Paris: Gallimard, 1949. De Beauvoir mengeksplorasi bagaimana perempuan telah di-“Lain”-kan dalam masyarakat dan sejarah.
[20] Ibid.
[21] https://cooljugator.com/etymology/it/cuore.
[22] Serikat Jesuit, yang lebih dikenal sebagai Yesuit, adalah tarekat keagamaan dalam Gereja Katolik yang didirikan oleh Santo Ignatius Loyola pada tahun 1540.
[23] Poedjiono, Laurentinus Priyo. Kontemplasi Latihan Santo Ignatius Layola. Penerbit Kanisius, 2022.
