Dalam karyanya ‘Shakespeare: The Invention of the Human’, kritikus sastra Harold Bloom menginterpretasi sumber kesedihan Hamlet[1] sebenarnya bukanlah karena terlalu banyak berpikir (overthinking), melainkan karena pikirannya terlalu jernih dan presisi. Kejernihan berpikir semacam itu membuat Hamlet tidak mudah termakan ilusi[2].
Kesedihan serupa nampaknya juga dialami Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya The Black Swan: The Impact of the Highly Improbable. Ia menemukan pikiran-pikiran butek dari para ahli investasi, trader di bursa, bankir, manajer hedge-fund, CEO, bahkan ekonom peraih Nobel, yang mengeklaim mereka bisa memprediksi masa depan atau menjelaskan masa lalu seolah-olah telah diramalkan sebelumnya. Menurut Taleb mereka keliru dan sesat karena terbuai ilusi dalam memahami sebuah peristiwa yang ia sebut Black Swan.
David Hume, Masalah Induksi, dan Taleb
Jauh sebelum Taleb, David Hume sudah menulis (tahun 1748) secara gamblang tentang keterbatasan pengetahuan manusia dan kepercayaannya. Dalam tulisannya “An Enquiry Concerning Human Understanding”, Hume berargumen pengalaman masa lalu tidak bisa menjadi dasar yang ajek untuk menyimpulkan peristiwa yang tidak diamati[3]. Argumen ini semestinya telah memberi tahu bahwa kebiasaan dan cara kita berasumsi tentang konsistensi cara alam bekerja pada masa lalu, seharusnya tidak bisa dijadikan fondasi yang rasional untuk meramalkan masa depan, karena sesuatu di masa depan merupakan peristiwa yang tidak bisa diamati di masa sekarang.
Lebih lanjut menurut Hume, kecenderungan mengambil sejumlah contoh terbatas yang kita amati, kemudian membuat generalisasi berdasarkan contoh tersebut, merupakan cara kerja pengambilan kesimpulan yang ganjil dan tidak memiliki dasar logis[4].
Kedua argumen Hume tersebut seperti diamini Taleb. Meskipun Hume tidak secara ekspilisit dibahas dalam bukunya, sejarah penemuan angsa berwarna hitam yang dibawa Taleb dalam pengantar bukunya menunjukkan bahwa gagasan Hume kuat[5]. Dari sini pula, peristiwa-peristiwa yang ia sebut Black Swan dimulai.
Intelektual Abad XXI dan Abad XVII
Sebelum tahun 1697, keyakinan yang mendominasi pikiran Eropa adalah semua angsa berwarna putih. Mereka tidak punya alasan berpikir lainnya, karena setiap angsa yang pernah dilihat, diamati, dan ditemui selalu berwarna putih. Kami menyebutnya mereka berada di kuadran pengetahuan IV[6] (akan kami jelaskan nanti). Sampai kemudian, penjelajah Belanda Willem de Vlamingh[7] mendarat di Australia. Penjelajahan itu menemukan burung gelap berbulu hitam yang sangat mirip angsa. Penemuan ini sontak meluluhlantakkan anggapan Eropa tentang angsa.
Pola semacam itu seharusnya menjadi pelajaran penting. Hanya karena kita tidak pernah melihat angsa hitam sebelumnya, itu tidak menyimpulkan ketiadaan angsa hitam. Taleb mengatakannya dengan cara yang lebih formulatif: ketiadaan bukti, bukanlah bukti dari ketiadaan.
Pada kasus-kasus yang lebih mutakhir di abad ke-21, kita masih sering mencap dengan label ‘mustahil’ pada sebuah peristiwa hanya karena belum pernah terjadi sebelumnya. Padahal nyatanya, peristiwa yang dianggap ‘mustahil’ ini kemungkinan adalah kejadian yang belum teramati—tidak lebih. Setelah ‘mustahil’ itu terjadi, kita merevisi pemahaman tentang bagaimana dunia dan alam semesta bekerja, berusaha menjelaskan kejadian tersebut sebagai sesuatu yang sebenarnya ‘mungkin’ atau ‘tidak mustahil’.
Seperti itu lah cara kerja manusia membuat narasi peristiwa dari yang ‘mustahil’ menjadi ‘tidak mustahil’. Melalui kisah angsa hitam, Taleb tidak berceramah tentang ekologi ataupun ornitologi[8]. Ia mengejek sebagian dari kita: para intelektual abad dua puluh satu, nyatanya masih sama seperti orang-orang abad tujuh belas Eropa: tidak tahu tapi sok tahu.
Atribut Baru Untuk Black Swan
Selain Hume, pemikir lain yang berbicara tentang induksi adalah John Stuart Mill. Berbeda dengan Hume yang menganggap induksi bermasalah, Mill sangat optimis terhadap kekuatan induksi. Dalam tulisannya ‘A System of Logic, Ratiocinative and Inductive’, Mill mengenalkan prinsip “keseragraman alam”[9] yang menjadi asumsi dasar dalam induksi, bahwa kejadian di masa depan akan mengikuti pola yang sama seperti yang telah teramati di masa lalu.
Namun dalam teorinya itu, Mill juga mengakui meskipun jarang terjadi, tetap ada potensi ketidakseragaman dalam fenomena alam. Karena jarang terjadi, maka ketidakseragaman ini akan menjadi data pengamatan yang terbatas. Mill menekankan kehati-hatian dalam menggeneralisasi (induksi) berdasarkan pengataman data yang terbatas (langka).
Gagasan Mill telah memberi kita wawasan tentang induksi dan kelemahannya terhadap kelangkaan. Walaupun tidak secara langsung menyebut kelangkaan menjadi ciri dari ketidakseragaman (bisa dibaca penyimpangan terhadap keseragaman), gagasan Mill memberi implikasi bahwa peristiwa penyimpangan dapat terjadi di luar keseragaman meskipun jarang terjadi.
Kami melihat gagasan Taleb tentang atribut peristiwa Black Swan sebenarnya berangkat dari dua gagasan filsuf ini. Taleb mendefinisikan Black Swan sebagai peristiwa yang:
- Sangat langka;
- Mempunyai dampak besar;
- dan secara retrospektif (namun tidak prospektif) dapat dijelaskan/diprediksi.
Pendekatan Taleb mengenai ketidakmungkinan untuk memprediksi peristiwa Black Swan mirip dengan skeptisisme Hume terhadap induksi, di mana Hume mempertanyakan keandalan induksi untuk memprediksi kejadian yang belum pernah diamati sebelumnya. Sementara itu, pemikiran Mill tentang jarangnya ketidakseragaman alam bisa dilihat sebagai pra-cikal dari gagasan Taleb tentang kejadian Black Swan yang langka namun berdampak besar.
Faktor X yang terbaikan
Ketika tidur, kadang kala kita terbangun karena mendegar bunyi-bunyi yang menganggu: pintu terbuka, atap berdenyit, atau bunyi-bunyi yang tidak kita kenali. Karena gelap gulita, kita tidak tahu persis penyebab sebenarnya dari sumber bunyi itu. Tapi pikiran kita akan berusaha “menciptakan” penyebab bunyi walaupun penyebab sebenarnya tidak bisa teramati (karena kegelapan kamar atau mata sedang terpejam ketika bunyi terjadi). Jika pikiran kita terbiasa atau terlatih dengan tingkah laku kucing peliharaan, kemungkinan kita akan menganggap itu ulah kucing. Tapi jika suka film horor dan meyakini kehidupan alam metafisika, kemungkinan kita akan punya cerita berbeda yang sedikit menyeramkan tentang siapa penyebab bunyi yang tidak biasa itu.
Taleb menyebut tendensi pikiran semacam itu sebagai kesalahan naratif. Ilmuan neurosains menyebutnya sebagai konfabulasi, sebuah upaya otak untuk mengisi kekosongan informasi[10]. Kita mencoba mengait-ngaitkan sebuah peristiwa berdasarkan apa yang telah kita tahu sebelumnya atau berdasarkan pengalaman yang kita lalui, dan mengabaikan realitas sebenarnya, padahal masih ada kemungkinan penyebab lain yang belum kita tahu, sebut saja “faktor X”.
Kecenderungan pikiran semacam ini hampir terjadi pada semua peristiwa. Kita menjelaskan sebuah peristiwa seolah-olah semua faktor telah teramati, mengabaikan “faktor X”, lalu dengan sangat percaya diri menerangkan hubungan sebab-akibat dari sana.
Kesalahan naratif ini seharusnya boleh membuat kita menjadi lebih skeptis terhadap narasi-narasi yang ada, seperti narasi tentang bagaimana ekonomi sebenarnya bekerja, bagaimana seseorang menjadi sukses atau gagal, bagaimana tiba-tiba Lehman Brothers bangkrut, bagaimana tiba-tiba menara kembar WTC dihantam pesawat, bagaimana kerusuhan Mei 1998 menggulingkan rezim Soeharto, dll. Dari semua narasi arus utama yang ada, yang menjelaskan fenomena-fenomena sosial semcam itu, akan selalu ada ruang untuk mempertanyakan jangan-jangan masih ada faktor lain yang belum teramati. Dari sana mungkin kita perlu membuat narasi baru, sebuah narasi yang “sudah melibatkan faktor X”.
Di mana Black Swan berada?
Pengabaian kita terhadap “faktor X” adalah contoh bagaimana kita cenderung menyederhanakan realitas. Pertanyaan selanjutnya, memang apa pentingnya “faktor X”? Jawabannya bisa jadi penting atau sangat penting, tergantung di mana peristiwa itu berada: dunia mediokristan atau ekstremistan.
Dua dunia ini sebenarnya adalah metafora yang diciptakan Taleb untuk membagi dua kelas fenomena alam yang berbeda. Di dunia mediokristan, kita bisa menjelaskan fenomena alam menggunakan ditribusi normal. Sebaliknya di dunia ekstremistan, distribusi normal tidak bekerja.
Mediokristan adalah dunia di mana kejadian-kejadian mengikuti distribusi normal (Gaussian). Di dunia mediokristan, tidak ada satu kejadian pun akan memiliki dampak yang cukup besar untuk mengubah total atau rata-rata secara drastis. Contoh fenomena-fenomena masuk dalam dunia Mediokristan adalah tinggi badan manusia, berat badan, skor IQ, golongan darah, curah hujan tahunan, usia pensiun, usia kematian, dll., di mana jika pun terdapat outlier, ia tidak akan terlalu jauh dari rata-rata dan tidak akan banyak mengubah distribusi keseluruhan. Mengutip Guiness World Record: manusia dengan tinggi badan paling tinggi ialah Robert Wadlow (1918—1940) dengan tinggi badan 272 cm. Seandainya pun kita memasukkan Wadlow ke dalam rata-rata tinggi badan penduduk Timor Leste[11], tinggi badannya memang tampak sebagai outlier tapi ia tidak akan berdampak besar terhadap rata-rata tinggi badan penduduk Timor Leste. Hal ini karena tinggi badan manusia mengikuti pola normal yang telah “ditetapkan oleh hukum alam”. Alam tidak mengizinkan seseorang memiliki tinggi badan setinggi Monas atau gunung Rinjani.
Extremistan, sebaliknya, adalah tempat di mana distribusi normal tidak berlaku, dan kejadian ekstrem memiliki potensi untuk mengubah keseluruhan distribusi secara signifikan. Fenomena-fenomena ekonomi dan sosial, seperti kekayaan individu, kelarisan film, serangan siber zero-day attack, dan peristiwa Black Swan berada dalam domain Extremistan.
Untuk memahami distribusi normal tidak bekerja untuk menjelaskan fenomena Ekstremistan, kita bisa menghitung kekayaan staf OJK yang dirata-rata, lalu digambarkan dalam kurva distribusi normal. Besar kemungkinan distribusi kekayaan staf OJK masih membentuk kurva lonceng yang indah dan semestinya. Tapi jika kita masukkan satu orang saja bernama Bill Gates di sana, kehadirannya dalam sekumpulan kekayaan staf OJK akan menjadi outlier yang merusak kurva. Hal ini karena ada ketimpangan ekstrem antara kekayaan Bill Gates dengan kekayaan rata-rata staf sedemikian rupa sehingga pada pengamatan tunggal dapat berdampak sangat tidak proporsional pada keseluruhan atau total.
Dari contoh tinggi badan dan kekayaan individu di atas, kita sudah bisa membedakan sifat dampak dari outlier yang terjadi pada dunia Mediokristan dan Esktremistan.
Di Extremistan, outlier yang sangat jarang terjadi bisa memiliki dampak yang sangat besar. Sementara di Mediokristan, kehadiran outlier meskipun juga jarang terjadi, dampaknya tidak cukup besar untuk membengkokkan “kenormalan”. Oleh karena itu, dalam bukunya, Taleb mengajak untuk memahami bahwa pengukuran dan prediksi yang kita gunakan di Mediokristan seharusnya tidak digunakan di dunia Ekstremistan.
Perlu diingat dalam memahami fenomena outlier dalam Ekstremistan, bahwa peristiwa ini kadang masih bisa diprediksi/diramalkan meskipun tidak menggunakan distribusi normal, yaitu dengan kurva Pareto[12]. Mengingat bisa diprediksi, maka fenomena Ekstremistan tidak selalu merupakan peristiwa Black Swan. Tapi sebaliknya, semua Black Swan merupakan fenomena Ekstremistan. Hal ini karena Black Swan menjadi outlier paling ekstrem, konsekuensial, dan jarang terjadi dalam distribusi.
Peramalan Seno Gumira Adjidarma dan William Goldman
Saat mempertimbangkan fenomena Ekstremistan, kita perlu mengingat bahwa banyak faktor (mungkin juga termasuk “faktor X”) yang sering kali memainkan peran penting dalam menentukan hasil yang tidak terduga. Sayangnya dalam dunia ekstremistan, faktor-faktor yang menentukan hasil tak terduga ini justru yang sulit diukur. Untuk lebih memahaminya, kami mengutip pengakuan sastrawan Seno Gumira Adjidarma dan penulis skenario William Goldman:
Seno mengatakan dalam ceramahnya pada diskusi media omong-omong.com[13], bahwa sebelum naskahnya dilempar ke penerbit ia tidak pernah tahu mana dari naskahnya yang akan diterima pembaca luas. Ia menceritakan pernah ada naskah yang ia garap sangat serius dengan riset ketat, ternyata kurang begitu mendapat sambutan ketika diterbitkan. Sebaliknya, ada juga naskah yang ia garap dengan lebih rileks, ternyata mendapat sambutan yang luar biasa melebihi ekspektasi.
Sementara dalam bukunya Adventures in the Screen Trade, William Goldman[14] mengajak pembaca mengerti posisi para produser eksekutif film di Holywood. Goldman mengatakan mereka sering dalam posisi galau dalam memutuskan apakah studio mereka akan atau tidak akan menginvestasikan jutaan dolar AS untuk mengubah ide menjadi sebuah film. Kegalauan para eksekutif ini lantaran tidak seorang pun tahu apa yang akan terjadi pada film itu: sukses menembus box office[15]atau justru ambyar. Goldman menekankan sebuah prinsip yang sekarang sering dikutip oleh insan perfilman: “Nobody knows anything”. Dengan kata lain, tidak ada formula pasti yang secara akurat bisa mengukur kesuksesan sebuah film.
Dua fenomena di atas adalah contoh fenomena dengan ketidakpastian dalam hasil peramalan karena banyak faktor yang bisa mempengaruhi. Masalahnya, kita, termasuk Seno maupun Goldman, tidak tahu persis faktor mana yang paling menentukan dari multifaktor itu. Faktor-faktor yang mempengaruhinya merupakan fenomena sosial yang sulit diukur. Inilah jawaban atas pertanyaan di awal kenapa “faktor X” bisa penting atau sangat penting dalam dunia Ekstremistan. Di tengah variabilitas faktornya sangat banyak, faktor-faktornya tidak bisa diukur dengan formula yang pasti. Tapi sekalinya faktor itu terpenuhi atau tidak terpenuhi, bisa berdampak sangat besar.
Karena memang seperti itulah ciri fenomena sosial di dunia Ekstremistan. Dalam contoh di atas, kesuksesan film atau sastra bisa sangat mungkin dipengaruhi oleh inovasi, preferensi publik yang berubah-ubah, atau fenomena viral. Atau jangan-jangan ada faktor lain? Sebuah “faktor X” yang paling merubut perhatian pasar yang sangat padat, katakan saja misalnya resonansi emosional atau kultural? Tidak ada yang tahu.
Black Swan Tidak Bisa Diprediksi
Pada 19 Maret 2020, Forbes.com menerbitkan artikel “Covid-19 is a Black Swan”[16]. Penulisnya berargumen pandemi Covid-19 adalah peristiwa yang tidak diprediksi dan dampaknya di luar estimasi normal menyebabkan kematian massal, penurunan GDP hampir semua negara, PHK, dan pengangguran. Artikel bisa dibaca di sini.
Pertanyaannya, benarkan Covid-19 adalah peristiwa Black Swan?
Pandemi Covid-19 memang pertiwa langka dan berdampak sangat besar. Tapi jika memakai kacamata Taleb, maka secara definisi, Covid-19 bukanlah peristiwa Black Swan. Hal ini karena ia tidak memenuhi atribut ketiganya: tidak bisa diprediksi.
Lima tahun sebelum pandemi Covid-19, Bill Gates menyampaikan ceramah TED Talk: ‘The Next Outbreak? We Are Not Ready’. Dalam ramalannya, pembunuh jutaan orang di masa depan bukanlah rudal nuklir, melainkan mikroba, bisa bakteri atau virus. Gates menambahkan dampak mikroba di masa depan sangat berbahaya karena membuat orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala dengan masa inkubasi yang lebih lama, yang memungkinkan penularan lebih luas karena mereka masih bisa berpergian naik pesawat dan berkeliaran di antara kerumunan. Dalam ceramah itu, Gates mengestimasi biaya yang ditimbulkan oleh pandemi global bisa mencapai 3 triliun dolar AS. Gates menyertakan model yang didasarkan pada flu tahun 1918, yang memproyeksikan akan ada 33 juta korban dalam 263 hari. Meskipun Gates tidak secara spesifik menyebut pandemi Covid-19 disebabkan virus SARS-CoV-2, tapi secara kemungkinan keterjadian fenomenanya, pandemi Covid-19 telah terprediksi. Gates sudah membaca tanda-tandanya melalui wabah yang skalanya lebih kecil, yang terjadi dalam dua puluh tahun ke belakang: SARS, H5N1, Flu Babi, Ebola, Zika. Hanya sayangnya kita abai terhadap prediksi dan tanda-tanda itu.
Dalam sebuah sesi wawancara, Taleb sendiri mengatakan pandemi Covid-19 bukanlah peristiwa Black Swan:
Saat Kita Menjadi Kalkun
Jika peristiwa Black Swan secara definisi tidak bisa diprediksi, apa artinya bagi manusia? Taleb memberi anekdot lucu:
Masalah yang dihadapi kalkun di seluruh Amerika adalah ketidaktahuan mereka tentang kebiasaan orang Amerika pada hari Thanksgiving. Dalam semesta pengetahuan kalkun, mereka tidak perlu mencari makanan. Makanan adalah berkah kehidupan yang telah disediakan secara teratur dan melimpah. Setiap kali pemberian makan, mereka semakin yakin bahwa pola umum kehidupan adalah diberi makan oleh manusia yang ramah. Dari perspektif kalkun, diberi makan seumur hidup adalah aturan normal dan tidak ada yang membuat mereka berpikir lainnya. Tidak ada tanda-tanda sama sekali dalam hidup mereka bahwa mereka hanya diberi makan untuk menjadi gemuk dan sehat untuk dihidangkan di meja orang Amerika yang lapar pada Thanksgiving. Hari Thanksgiving menjadi peristiwa Black Swan bagi kalkun-kalun malang itu.

Gambar di atas bisa mendeskripsikan kisah perjalanan kalkun-kalkun malang itu sebelum dan sesudah perayaan Thanksgiving. Pada hari ke-1 sampai ke-999, mereka hidup dalam pertumbuhan dan kemakmuran dan sama sekali tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan peristiwa yang terjadi di hari ke-1.000.
Seperti itulah kerapuhan manusia terhadap peristiwa Black Swan. Sebelum terjadi, Black Swan selalu di luar semesta pengetahuan manusia.
Kuadran Pengetahuan dan Cara ‘Berpindah Kuadran’
Lalu bagaimana agar kita tidak seperti kalkun-kalkun Amerika?
Pada 12 Februari 2002, Jim Miklaszewski (koresponden NBC News) bertanya ke Donald Rumsfeld (meteri pertahanan AS saat itu), apa justifikasi AS menyerang Irak, karena menurut sang koresponden, tidak ada bukti kuat menuduh Irak memiliki senjata pemusnah masal. Pertanyaan ini penting mengingat legitimasi tentara AS terlibat perang. Jawaban Rumsfeld atas pertanyaan itu tidak begitu menyenangkan, tapi terdengar menarik. Pernyataannya dikutip dan dianalisis dalam banyak artikel berita, buku, sampai makalah akademis.
Rumsfeld mengatakan seperti ini[17]:
“Reports that say that something hasn’t happened are always interesting to me, because as we know, there are known knowns; there are things we know we know. We also know there are known unknowns; that is to say we know there are some things we do not know. But there are also unknown unknowns – the ones we don’t know we don’t know.”
Untuk memudahkan, kita bisa terjemahkan pernyataan teori Rumsfeld itu ke dalam kuadran pengetahuan:
- Tahu apa yang kita tahu (known knowns);
- Tahu apa yang kita tidak tahu (known unknowns);
- Tidak tahu apa yang kita tahu (unknown knowns); [ini tidak disebut Rumsfeld]
- Tidak tahu apa yang kita tidak tahu (unknown unknowns).

Dalam semesta pengetahuan, kita semua berada dalam empat kuadran itu namun dalam spektrum yang berbeda-beda. Yang paling berbahaya adalah ketika kita berada pada situasi kuadran 4, karena di situ lah peristiwa Black Swan berada.
Bill Gates yang memprediksi pandemi Covid-19 merupakan contoh manusia di kuadran 2. Ia tahu akan terjadi wabah mematikan yang disebabkan oleh mikroba, tapi ia tidak tahu seperti apa wujud mikroba itu, kapan wabah itu terjadi, seperti apa wabah itu menular, dll.
Agar tidak bernasib sama seperti kalkun-kalkun di AS, kita harus mencari cara agar berpindah dari kuadran 4 ke kuadran 2, lalu membuat langkah-langkah preventif terhadap peristiwa yang berdampak besar. Kesalahan kita di masa lalu terhadap pandemi Covid-19 adalah mengabaikan ceramah Bill Gates. Padahal, dalam ceramahnya itu, ia juga sudah mengingatkan bahwa kita telah melakukan lebih banyak hal untuk mencegah perang nuklir, tapi masih sangat sedikit hal untuk mencegah pandemi.
Lalu bagaimana caranya berpindah kuadran dari 4 ke 2, dari seperti kalkun-kalkun Amerika menjadi Bill Gates? Banyak cara tapi semua harus disertai perubahan mental dalam memvaluasi ketidaktahuan. Taleb memberi anekdot menarik untuk menggambarkan bagaimana kita memvaluasi pengetahuan dan ketidaktahuan melalui cerita perpustakaan pribadi Umberto Eco.
Eco mengatakan bahwa ia belum membaca sebagian besar buku yang ia simpan di perpustakaan pribadinya. Hal ini mengejutkan kebanyakan orang yang berkunjung ke perpustakaannya: ternyata penulis dan filsuf besar seperti Eco hanya menyimpan banyak buku yang tidak dibaca. Tapi bagi Taleb, justru inilah kondisi ideal menempatkan diri dalam semesta pengetahuan. Dengan mengoleksi buku-buku meskipun belum terbaca, kita sedang mengubah kondisi kita ke kuadran 2: kita sudah tahu apa yang kita tidak tahu/baca. Namun sayangnya berdasarkan observasi Taleb di perpustakaan Eco, manusia masih cenderung lebih menghargai manusia lain yang tahu banyak hal. Memiliki banyak pengetahuan tentu sangat baik, tapi dalam konteks Black Swan, pengetahuan seperti itu tidak berguna. Yang lebih berharga adalah pengetahuan tentang apa yang tidak kita tahu. Dari situlah kita membangun “conciousness” agar bisa mencegah peristiwa-peristiwa berdampak besar yang merugikan.
Meskipun kita telah berpindah kuadran, atau telah menjadi seperti Bill Gates yang bisa memprediksi kejadian-kejadian di masa depan, perlu diingat kita tetap lah kalkun-kalkun Amerika di hadapan Black Swan karena sifat Black Swan itu sendiri: ia tidak bisa diprediksi.
Definisi Taleb untuk Black Swan seolah melemahkan kemampuan manusia dan ilmu pengetahuan dalam membaca dan memahami alam semesta, yang berujung pada nihilisme epistemologis[18]. Benarkah demikian? Mari kita periksa bagaimana metode ilmu pengetahuan bekerja terhadap peristiwa Black Swan.
Manusia perlu sandaran lain selain ilmu pengetahuan
Ilmu pengetahuan harus berusaha menyangkal hipotesis daripada mengonfirmasikannya. Alih-alih mencari bukti empiris yang mendukung hipotesis, ilmu pengetahan seharusnya mencari yang menyangkalnya. Dalam karyanya The Logic of Scientific Discovery, Karl Popper berargumen bahwa teori ilmiah harus dapat diuji dan harus ditolak jika bertentangan dengan bukti empiris[19]. Pendekatan falsifikasi ini menjaga integritas ilmiah dan mendorong kemajuan ilmiah dengan mengeliminasi teori yang tidak akurat.
Falsifikasi menuntut pemeriksaan yang lebih rigor terhadap hipotesis. Sebuah hipotesis yang bertahan dari upaya falsifikasi berulang menjadi teori yang lebih kuat/andal. Hal ini bisa mendorong ilmuwan merancang eksperimen yang tidak hanya mencari konfirmasi dari hipotesis mereka, tetapi juga secara aktif mencari bukti yang membantahnya. Pendekatan faksifikasi ini tentu saja untuk mengurangi bias konfirmasi yang sering mewarnai penelitian ilmiah.
Di satu sisi, Taleb membangun definisi Black Swan dengan menekankan pada sifat kejadiannya yang tidak bisa diprediksi atau dijelaskan berdasarkan pengalaman masa lalu. Di sisi lain, falsifikasi ilmu pengetahuan menuntut adanya bukti empiris untuk mendukung atau menolak suatu hipotesis. Keduanya tidak bertemu: falsifikasi meminta bukti pengalaman, tapi Black Swan tidak memberi pengalaman karena peristiwanya belum terjadi atau tidak bisa diramalkan dengan bukti-bukti dari pengalaman masa lalu. Dalam keadaan seperti ini, metode falsifikasi ilmu pengetahuan tidak cukup kuat menangani peristiwa Black Swan. Dengan kerendahan hati kita harus mengakui keterbatasan kemampuan manusia dengan peralatan ilmiahnya. Ilmu pengetahuan yang dibangun dengan metode ilmiah jelas sangat berguna untuk memahami dunia, tapi ia punya batasan dalam kemampuannya memahami alam semesta secara menyeluruh. Ilmu pengetahuan, untuk sementara ini, belum bisa menangani “kejutan-kejutan” dari dunia yang tidak bekerja konsisten terhadap masa lalu. Inilah salah satu alasan mengapa manusia memerlukan sandaran lain selain ilmu pengetahuan untuk memahami dan menjalani dunianya.
Berdamai dengan Black Swan
Melihat kenyataan suram ini, bahwa ilmu pengetahuan tidak bisa bekerja untuk peristiwa Black Swan, atau dalam kata-kata Hamlet “langit ini mirip segerombolan uap buruk yang berbahaya”, Taleb memberi kita nasihat singkat yang bisa kita jadikan kebajikan hidup bagaimana berdampingan dengan Black Swan:
- Buka mata terhadap kemungkinan peristiwa Black Swan: perhatikan di mana kita berada, dunia ektremistan atau mediokristan. Black Swan ada di dunia ekstremistan.
- Keyakinan itu lengket, tapi jangan melekat ke sana: revisilah keyakinan ketika menemukan bukti yang bertentangan. Lebih banggalah mengatakan “saya tidak tahu” atau “saya salah”.
- Ketahui kapan bisa bersikap bodoh dan kapan tidak boleh bersikap bodoh: kebodohan itu manusiawi, tapi ada yang berbahaya dan ada yang tidak berbahaya. Kita hanya boleh bodoh untuk yang tidak berbahaya.
- Sadari bahwa dalam banyak kasus, kita kebanyakan tidak tahu: maka cari tahulah dan jangan sok tahu.
- Semakin lama waktu memprediksi, semakin besar pula kemungkinan membuat kesalahan dalam memprediksi: tahanlah penilaian terhadap sesuatu jika kurang bukti. Waspadai prediksi atau kesimpulan yang terlalu cepat. Wilayah abu-abu kadang lebih baik agar kita tetap waspada.
- Eksposur diri agar terdampak Black Swan yang positif: dalam setiap tindakan berisiko, cobalah lakukan juga tindakan asimetri yang menguntungkan.
- Carilah penyangkalan: coba sering-sering bertanya “peristiwa apa yang menyangkal teori ini?”
- Hindari dogmatisme: jangan biasakan hanya menerima dan menlandaskan sesuatu berdasar narasi tunggal. Cari/buatlah narasi alternatif.
Bibliografi
Bloom, Harold. Shakespeare: The Invention of the Human. Riverhead Books, 1998, hal. 7-8, 12.
Gilboa, A. Mechanisms of spontaneous confabulations: a strategic retrieval account. Brain, 2006.
https://en.wikipedia.org/wiki/Average_human_height_by_country, diakses 22 April 2024.
https://usinfo.org/wf-archive/2002/020212/epf202.htm, diakses pada 22 April 2024.
https://www.det.wa.edu.au, diakses 24 April 2024.
https://www.forbes.com/sites/forbesbooksauthors/2020/03/19/covid-19-is-a-black-swan/?sh=f10882a7b4b9, diakses 22 April 2024.
https://www.forbes.com/sites/forbesbooksauthors/2020/03/19/covid-19-is-a-black-swan/?sh=f10882a7b4b9, diakses 15 April 2024.
https://www.youtube.com/watch?v=6Af6b_wyiwI, diakses 15 April 2024.
https://www.youtube.com/watch?v=lBjVTm7F1lQ, diakses 15 April 2024.
Hume, David. An Enquiry Concerning Human Understanding. Oxford University Press, 1748.
Mill, John Stuart. A System of Logic, Ratiocinative and Inductive. John W. Parker, 1843.
Popper, Karl R. The Logic of Scientific Discovery. Routledge, 2002.
[1] The Tragedy of Hamlet, Prince of Denmark, sering disingkat Hamlet, sebuah sandiwara tragedi karangan William Shakespeare, ditulis sekitar 1559 – 1601. Edisi bahasa Indonesianya berjudul Hamlet, Pangeran Denmark, diterjemahkan oleh Trisno Sumardjo.
[2] Bloom menekankan bahwa Shakespeare memberikan Hamlet kebebasan melalui pemahaman yang ia ketahui, pemahaman yang begitu dalam dan jernih tentang realitas, pemahaman yang sangat berat dan kompleks sehingga “sulit bagi kebanyakan orang untuk menerima atau memprosesnya” menandakan realitas superior Hamlet yang dibebaskan dari ilusi melalui pengetahuannya yang mendalam. (Bloom, Harold. Shakespeare: The Invention of the Human, hal. 7-8, 12).
[3] Hume, David. An Enquiry Concerning Human Understanding. Oxford University Press, 1748.
[4] Kecenderungan ini kemudian dikenal dengan masalah induksi (mengambil kesimpulan dari khusus ke umum).
[5] Kami menggunakan kata ‘kuat’ untuk menghindari kata ‘benar’. Dalam falsifikasi Karl Popper, kebenaran dalam ilmu pengetahuan bersifat sementara sampai ada bukti lain yang membatalkannya.
[6] Kami membuat sebuah kuadran yang kami sebut kuadran pengetahuan untuk lebih mudah menyebut posisi kita terhadap semesta pengetahuan.
[7] Pada tahun 1696 s.d. 1697, de Vlamingh memimpin sebuah armada ke pantai barat Australia dengan tujuan mencari kapal Ridderschap van Holland yang hilang, yang hilang di perairan Australia dua tahun sebelumnya. Selama ekspedisi ini, dia memetakan sebagian dari pantai Australia Barat dan memberikan nama untuk beberapa fitur geografis, termasuk Swan River (Sungai Angsa), yang dinamai demikian karena banyaknya angsa hitam yang ditemui di sana. Sumber: https://www.det.wa.edu.au, diakses 24 April 2024.
[8] Cabang dari ilmu hewan yang khusus mempelajari burung.
[9] Mill mengemukakan prinsip “uniformity of nature,” sebagai fondasi untuk generalisasi ilmiah. Mill, John Stuart. A System of Logic, Ratiocinative and Inductive. John W. Parker, 1843.
[10] Gilboa, A. Mechanisms of spontaneous confabulations: a strategic retrieval account. Brain, 2006.
[11] Timor Leste adalah negara dengan rata-rata tinggi badan penduduknya terendah. https://en.wikipedia.org/wiki/Average_human_height_by_country, diakses 22 April 2024.
[12] Diciptakan Vilfedro Pareto, sering dikenal juga sebagai hukum 80/20. Ekstremistan bisa dimodelkan dengan hukum ini karena nilai ekstrem tidak dipandang sebagai penyimpangan.
[13] Diskusi bertajuk “Medium Terus Berganti, Cerita Bergizi Adalah Kunci”, diselenggarakan oleh OMONG-OMONG MEDIA pada 29 September 2021.
[14] Kritikus Joe Queenan menyebutnya sebagai penulis skenario terhebat sepanjang sejarah. Ia memenangkan Academy Awards untuk film Butch Cassidy and the Sundance Kid dan All the President’s Men. Delapan film yang dibuat dari skenario Goldman meraup lebih dari $100 juta dalam penjualan box office domestik.
[15] Disebut box office karena pada mulanya merujuk pada kotak yang diedarkan kepada penonton sebagai donasi pembuatan film. Di era sekarang, pengertian box office bergeser menjadi film yang memperoleh penghasilan melebihi biaya produksi dalam waktu beberapa hari tayang atau satu minggu pertama saja.
[16] https://www.forbes.com/sites/forbesbooksauthors/2020/03/19/covid-19-is-a-black-swan/?sh=f10882a7b4b9, diakses 22 April 2024.
[17] Transkripsi lengkap pernyataan Rumsfeld dan pertanyaan Miklazweski bisa dibaca di https://usinfo.org/wf-archive/2002/020212/epf202.htm, diakses pada 22 April 2024.
[18] Meragukan kemampuan manusia untuk mencapai pengetahuan yang valid.
[19] Popper, Karl R. The Logic of Scientific Discovery. Routledge, 2002.
