Dalam memilih buku untuk dibaca oleh anggota komunitas, desk kuratorial membuat kriteria-kriteria tertentu. Salah satu kriteria kualitas yang kami tetapkan sejak awal terhadap buku-buku nonfiksi adalah buku itu haruslah menawarkan argumen-argumen yang tidak hanya unik dan segar, tetapi juga membawa argumen yang seminimal mungkin dicemari bias dan semaksimal mungkin dibangun berdasar sumber-sumber yang mudah diperiksa dan ditelusur.
Pada edisi kali ini, sebagai bentuk solidaritas terhadap krisis kemanusiaan yang terjadi di Palestina, izinkan kami menyampaikan di awal bahwa desk kuratorial mengambil pendekatan yang sedikit berbeda terkait bias.
Teks sejarah, terutama yang berkaitan dengan perjuangan, pembebasan, atau sebaliknya, penindasan, cenderung membawa bias sudut pandang tertentu, tergantung siapa yang menulis teks itu. Jika sejarah ditulis oleh pemenang, maka besar kemungkinan teks itu terlalu kabur dan buram untuk memotret perspektif, suara, dan pengalaman mereka yang ditindas. Sebaliknya, jika sejarah ditulis oleh mereka yang ditindas/dikerdilkan, maka kecenderungan teks sejarah mendemonisasi pihak yang berseberangan juga semakin kuat.
Sebagai sikap desk kuratorial atas kejahatan kemanusiaan oleh Israel ke warga sipil Palestina yang terjadi beberapa bulan terakhir, kami berpandangan komunitas perlu membaca teks sejarah yang berkaitan dengan Palestina, yang ditulis dari sudut pandang Palestina. Kami menawarkan pembacaan The Hundred Year’s War on Palestine: A History of Settler Colonialism and Resistance, 1917–2017, oleh Rashid Khalidi. Kami berpendapat buku ini patut mendapat audiens yang lebih luas, perlu diamplifikasi sebagai narasi alternatif yang mengimbangi alur cerita yang difabrikasi Israel.
Buku ini ditulis oleh sejarawan terkemuka sekaligus profesor bidang Timur Tengah dari Universitas Columbia, New York. Berdarah Palestina-Amerika, ia dan keluarganya secara historis juga terlibat secara langsung dalam politik Palestina (ia menjadi penasihat delegasi Palestina selama pembicaraan Madrid tahun 1991), sehingga memberi kekayaan narasi personal dari sudut pandang orang Palestina.
Meskipun buku ini bercerita peristiwa yang terjadi sejak seratus tahun lalu, ia masih relevan untuk memahami situasi saat ini. Secara intuitif kita akan memahami bahwa sejak dulu sampai sekarang, taktik Israel sudah bervariasi, namun niatnya tetap sama: merebut tanah dan menyingkirkan penduduk asli Palestina.
Tesis utama dari buku ini adalah penghapusan Palestina merupakan proyek kolonialisme pemukim yang sistematis oleh Zionis dan Israel, yang didukung oleh kekuatan-kekuatan besar internasional. Ia berpendapat bahwa perjuangan di Palestina harus dipahami bukan sebagai konflik antara dua gerakan nasional yang setara yang berjuang atas tanah yang sama, melainkan sebagai perang kolonial yang dilancarkan terhadap penduduk asli, oleh berbagai pihak, untuk memaksa rakyat Palestina menyerahkan tanah air mereka kepada Israel tanpa kehendak mereka. Khalidi mengungkapkan bahwa sejak Deklarasi Balfour 1917, tujuan utama kolonialisme Palestina sampai dengan sekarang adalah untuk menyingkirkan penduduk asli Palestina dan menggantinya dengan pemukim Yahudi, yang telah menyebabkan perjuangan panjang dan terus-menerus dari rakyat Palestina untuk mempertahankan hak-hak mereka. Untuk mendukung argumennya ini, Khalidi menyitir lebih dari 400 sitasi, yang kami anggap sebagai upaya Khalidi membangun argumennya melalui penelitian kredibel dan mendalam.
Buku ini tidak hanya memberi perspektif dan nuansa sejarah yang berbeda, tetapi juga memperlihatkan bagaimana konflik ini telah membentuk identitas dan perjuangan bangsa Palestina. Khalidi dengan cermat menelusuri peristiwa-peristiwa penting untuk menunjukkan bagaimana setiap tahap dalam seratus tahun terakhir telah memperburuk kondisi kehidupan rakyat Palestina. Dia memilih untuk menceritakan sejarah ini melalui enam periode yang berbeda, dimulai dengan Deklarasi Balfour pada 1917; resolusi Majelis Umum PBB 1947 tentang pembagian tanah Palestina; Perang Arab-Israel, Nakba, dan Perang Enam Hari 1967; invasi Israel ke Lebanon 1982; intifada pertama tahun 1987; hingga pendudukan yang meluas di Tepi Barat dan akhirnya pemboman tanpa henti di Gaza (hingga hari ini).
Selain itu, buku ini juga mengkritik peran internasional, terutama negara-negara Barat, dalam memperpanjang dan memperkeruh situasi dengan memberikan dukungan yang tidak adil antara Palestina dan Israel. Khalidi menekankan pentingnya memahami sejarah ini untuk mencari solusi yang adil dan berkelanjutan bagi rakyat Palestina.
Dengan membaca buku ini, anggota komunitas diharapkan dapat memiliki pemahaman yang lebih mendalam dan tajam tentang sejarah dari sudut pandang Palestina, dan mudah-mudahan dalam kapasitas masing-masing bisa ikut menyuarakan keadilan bagi Palestina.
Dalam menyusun rekomendasi ini, desk kuratorial juga mempertimbangkan relevansi buku ini dengan kondisi global saat ini, di mana isu-isu kolonialisme, penindasan, dan perjuangan untuk kemerdekaan masih sangat aktual, termasuk kemerdekaan bagi bangsa Palestina itu sendiri. Kami melihat buku ini dapat memberi wawasan berharga dan memperkaya pengetahuan atas situasi yang terjadi saat ini di Palestina, dan semoga dapat mendorong solidaritas untuk mendukung pembebasan Palestina.
Kami berharap, melalui pembacaan buku ini, anggota komunitas dapat lebih kritis dalam menyikapi informasi tentang narasi Palestina-Israel, serta lebih peka terhadap berbagai bentuk bias yang mungkin muncul dalam pemberitaan dan teks sejarah lainnya. Kami juga mendorong anggota komunitas untuk terus mencari dan membaca berbagai sumber dari perspektif yang berbeda agar dapat membangun pemahaman sejarah yang lebih komprehensif dan adil bagi bangsa Palestina.
Salam hormat dari kami,
Irwanto Laman dan Romana Celsa Dona

Sangat menarik ulasan kurator terkait buku ini, ada yang sangat menarik dari ulasan …. “Meskipun buku ini bercerita peristiwa yang terjadi sejak seratus tahun lalu, ia masih relevan untuk memahami situasi saat ini. Secara intuitif kita akan diajak memahami bahwa sejak dulu sampai sekarang, taktik Israel sudah bervariasi, namun niatnya tetap sama: merebut tanah dan menyingkirkan penduduk asli Palestina”….
apakah tujuan konflik ini hanya merebut tanah dan mengusir penduduk asli, atau ada tujuan lainnya yang tidak diceritakan?? atau memang sengaja diciptakan konflik yang tidak berujung damai??
Menyala Pak Ibnuuu.. 🔥🔥