Gambar dihasilkan oleh AI generatif dengan perintah perempuan yang menjema menjadi tanaman.
Gambar dihasilkan oleh AI generatif dengan perintah perempuan yang menjema menjadi tanaman.

Peringatan: Esai ini mengandung konten kekerasan yang mungkin membuat Anda tidak nyaman. Jika Anda memiliki trauma terkait kekerasan, Anda disarankan tidak melanjutkan membaca.

Terdengar janggal untuk awal mula kehancuran keluarga dipicu mimpi. Tapi cerita itu yang dihadirkan Han Kang dalam novelnya The Vegetarian. Sedari awal kejanggalan ini menuai tanya: bagaimana mungkin mimpi bisa memengaruhi keputusan seseorang di dunia nyata secara serius.

Kang tidak memberi jawaban untuk pertanyaan ini. Sepanjang cerita, Kim Yeong-hye[1], tokoh utama dalam cerita, yang semestinya bisa menjadi sumber penjelasan, suaranya justru jarang terdengar. Dia banyak diam dan sangat irit bicara. Dan tentang mimpi ini, Kang hanya memberi pembaca akses sekilas ke gambaran mimpi buruk Yeong-hye melalui sempalan-sempalan monolog dalam huruf yang dicetak miring, tanpa interpretasi langsung dari pikirannya. Dengan cara seperti ini, Kang berhasil membangun mimpi menjadi salah satu elemen kunci cerita, sekaligus menguatkan mimpi sebagai salah satu fenomena dalam kehidupan manusia yang paling misterius.

Mimpi Menurut Filsafat Barat dan Sains

Mimpi memang telah lama menjadi subjek misteri dan spekulasi. Filsafat Barat punya sejarah panjang dalam mengeksplorasi mimpi. Mulai dari Plato[2], Ariestoteles[3], sampai Sigmund Freud[4] berusaha menjelaskan mimpi, yang semuanya dalam tataran teori dan interpretasi metafisika maupun psikis. Sementara itu, neurosains modern sampai hari ini masih sebatas menjelaskan mimpi sebagai aktivitas elektrik acak dari otak selama tidur di fase REM (rapid eye movement[5]), di mana mimpi dianggap sebagai mekanisme alamiah dari kerja otak untuk memproses informasi dan mengonsolidasi memori[6]. Ilmuan neurosains untuk sementara ini belum bisa mengamati atau merekam gambar mimpi secara langsung dan menjelaskan dari mana asal gambar itu tercipta/terpilih oleh otak.

The Vegetarian bukan termasuk fiksi ilmiah (science-fiction). Tapi pada bagian tentang mimpi, novel ini terasa seperti fiksi-fiksi ilmiah yang jalan ceritanya melampaui penjelasan ilmiah. Ini karena Kang menggunakan mimpi menjadi penyebab utama perubahan radikal seseorang di dunia nyata. Membaca novel bertema mimpi yang merupakan fenomena alam yang belum sepenuhnya dapat dijelaskan oleh sains, membuat kami pada awalnya berpikir bahwa Kang menghadirkan fiksi fantasi serupa film Inside Out[7]. Film ini juga menyajikan secara khusus segmen yang menggambarkan bagaimana mimpi terbentuk dan diproyeksikan ke pikiran tokoh utama Riley, untuk merefleksikan keadaan emosionalnya dan memberikan wawasan tentang perubahan yang sedang terjadi dalam dirinya. Tapi sains belum sampai di sana, baik seperti yang digambarkan dalam film Inside Out maupun The Vegetarian. Penelitian neurosains mutkhir masih mentok pada pengetahuan bahwa aktivitas mental selama tidur dan saat terjaga memiliki dasar neural yang serupa[8], tanpa menyimpulkan bahwa aktivitas mental selama tidur (termasuk mimpi) dapat membantu seseorang mengambil keputusan di dunia nyata secara langsung.

Meskipun menghadirkan mimpi sebagai sebagai salah satu tema yang sulit dijelaskan, The Vegetarian lebih tepat digolongkan sebagai fiksi realisme karena jika dibandingkan dengan fiksi fantasi ilmiah, novel ini menghadirkan nuansa yang lebih subtil, membuat pembaca harus lebih aktif berdialog dengan teks untuk menafsirkan simbolisme dan alegori-alegori dari kehidupan manusia yang tidak terungkap.

Vegetarianisme di Korea Selatan

Ketika Cheong (suami Yeong-hye) bertanya kenapa Yeong-hye membuang semua daging dari kulkas, ia hanya menjawab “Aku bermimpi”. Kemudian pada jamuan makan bersama bos suaminya, ia juga ditanya apakah ada alasan khusus baginya berhenti makan daging, seperti alasan kesehatan atau tuntunan praktik keagamaan tertentu; sekali lagi Yeong-hye hanya menjawab karena punya mimpi. Ia sangat irit bicara dan menghindari rasionalisasi atas keputusannya menolak makan daging.

Keputusan berhenti makan daging hanya karena mimpi, terutama di Seoul, kota Yeong-hye tinggal, merupakan keputusan yang tidak logis dan menyusahkan di mata suami dan orang-orang sekitarnya. Meskipun vegetarianisme semakin populer di Korea Selatan[9], pilihan diet semacam ini masih sulit dilakukan oleh sebagian besar orang. Selain hampir semua hidangan di Korea Selatan mengandung komponen ikan atau daging (termasuk sayuran biasanya dibumbui kaldu ikan atau daging), makanan di Korea Selatan juga menjadi alat hubungan sosial; dan makan bersama adalah aktivitas yang sangat dihargai[10]. Makan tengah, istilah populer di Indonesia, adalah norma umum yang berlaku di restoran-restoran Korea Selatan, yang dipandang sebagai kesempatan mempererat relasi sosial. Faktor tradisi semacam ini menyulitkan vegan/vegetarian di sana untuk menyesuaikan diri, persis seperti yang digambarkan Kang melalui adegan kikuk yang dialami Yeong-hye dan suaminya dalam jamuan makan bersama bos suaminya.

Judul asli novel ini adalah Ch’aesikjuuija (채식주의자), yang kemudian diterjemahkan menjadi Vegetarian. Secara etimologi, makna kata ini sebenarnya tidak sama dengan konsep makna vegetarian dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Ch’aesikjuuija (채식주의자) berasal dari dua kata yaitu 채식 (chaesik) yang berarti makanan nabati/tanaman/sayuran; dan 주의자 (juuija) yang berarti penganut atau orang yang mengikuti prinsip tertentu. Jadi secara harafiah, 채식주의자 bermakna orang yang menganut prinsip makan sayuran. Sementara itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi IV dan Merriam-Webster membedakan vegan dan vegetarian. Vegan tidak makan daging dan ikan, termasuk turunannya seperti telur, madu, susu, keju, kecap ikan, dll.; sementara vegetarian[11] masih  makan produk turunan hewan.

Jika seseorang ingin mengatakan bahwa ia adalah vegan (bukan vegetarian) di Korea Selatan, dan mengingat hanya dikenal kata 채식주의자, maka ia harus memberikan klarifikasi tambahan. Karena hampir semua hidangan sayuran/nabati di Korea mengandung produk turunan hewan[12], maka orang Korea akan menganggap 채식주의자 masih makan sayuran meskipun sudah dibumbui kaldu daging atau kecap ikan.  

Sepanjang cerita, kami mendapati bahwa Yeong-hye lebih menunjukkan bahwa ia seorang vegan, bukan vegetarian. Ia membuang susu dan telur, serta menolak memasak Kimchi[13] [hal. 16]. Dari penyelidikan ini, kami berkesimpulan 채식주의자 lebih cocok diterjemahkan menjadi Vegan berdasarkan perilaku Yeong-hye dan konsep makna kata vegan dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris.

Perempuan Yang Melawan Patriarki

Persoalan yang lebih besar yang sebenarnya menggangu Cheong bukanlah praktik vegetarianisme yang dilakukan Yeong-hye, melainkan perubahan dalam diri Yeong-hye: dari perempuan yang mengerjakan semua urusan domestik, menjadi perempuan yang mogok memasak. Bagi Yeong-hye, berhenti memasak untuk Cheong memiliki alasan jelas: hampir semua makanan suaminya mengandung daging, sementara ia terganggu oleh daging. Namun bagi Cheong, laki-laki misoginis dan partriarkis sejak dalam pikiran, pemogokan memasak ini semacam pemberontakan yang berhadapan dengan ego maskulinnya. Cheong melihatnya sebagai ancaman langsung terhadap otoritasnya sebagai kepala rumah tangga.

Sebelum berhenti memasak, Cheong sebenarnya telah melihat Yeong-hye menunjukkan tanda-tanda pembangkangan, di mana Yeong-hye menolak memakai beha. Namun, tindakan ini tidak secara langsung  mengintimidasi Cheong. Beha tidak mereduksi peran yang dibebankan kepada Yeong-hye. Dengan atau tanpa mengenakan beha, Yeong-hye masih menjalankan perannya sebagai istri yang memasak dan menyelesaikan semua urusan domestik rumah tangga lainnya.  Meskipun menganggu kenyamanannya, Cheong nampak memberi kebebasan atas pilihan ini. Tapi hal itu semata-mata karena Yeong-hye masih terlibat dalam urusan domestik rumah tangga, bukan karena penghormatan atas pilihan sadar Yeong-hye sebagai perempuan yang berkehendak.

Saat ditanya Cheong kenapa ia enggan memakai beha, Yeong-hye kembali tidak menjawab dengan alasan yang merasionalisasi tindakannya. Ia hanya mengatakan bahwa payudara adalah satu-satunya bagian tubuh yang tidak bisa menyakiti orang lain. Kami melihat jawaban Yeong-hye yang cenderung irit, polos, dan menghindar dari rasionalisasi, adalah strategi teknik literer understatement[14] yang digunakan Kang, untuk membangun karakter Yeong-hye menjadi tokoh yang otoritatif atas tindakannya.

Penolakan terhadap pemakaian beha dan memasak dapat kita maknai secara alegoris dan simbolis bahwa Yeong-hye sebenarnya menolak untuk memenuhi ekspektasi yang dibebankan padanya sebagai perempuan dan sebagai istri dalam rumah tangga. Kang dengan cermat berhasil menggambarkan bagaimana tindakan-tindakan kecil bisa menjadi bentuk perlawanan yang signifikan dalam konteks patriarki.

Patriarkisme Kronis di Korea Selatan

Kami menilai Cheong adalah contoh laki-laki patriarkis dan misoginis sejak dalam pikiran. Pengakuannya di bagian awal novel mengungkapkan betapa dangkal pemahamannya terhadap identitas perempuan. Cheong melihat perempuan hanya sebagai perpanjangan dari dirinya. Penjelasan tentang bagaimana ia membuat alasan-alasan untuk menikahi Yeong-hye menunjukkan betapa sompek pikirannya mengerdilkan perempuan menjadi sebatas objek untuk memenuhi kebutuhannya. Ia sejak awal tidak memiliki penghargaan terhadap individualitas Yeong-hye, baik secara fisik maupun nonfisik.

Cheong, seperti yang ia katakan sendiri, nyaman dengan Yeong-hye karena ia adalah istri penurut, jarang meminta sesuatu, mengerjakan semua urusan domestik, dan tidak pernah protes, yang ia sebut sebagai “peran istri tanpa halangan”. Istri semacam itu dapat memberi stabilitas, ketentraman, dan kenyamanan dalam kehidupannya yang medioker tanpa perlu menimbulkan tuntutan atau paksaan bagi Cheong untuk berusaha lebih meraih kehidupan yang lebih baik. Sangat jelas tergambar bahwa pada dasarnya Cheong menikahi Yeong-hye bukan karena cinta atau wujud ketertarikan pada kepribadian atau aspirasi Yeong-hye sebagai individu, melainkan sebatas karena Yeong-hye adalah perempuan yang menurutnya ideal untuk memenuhi kebutuhan dan egonya sendiri.

Potret isu patriarkisme makin memuncak ketika Cheong, yang merasa terganggu oleh  perubahan dalam diri Yeong-hye, mengeluhkan kelakuan istrinya kepada mertuanya. Cheong memperlakukan Yeong-hye seolah-olah barang cacat yang membutuhkan perbaikan dari pabrik, berharap keluarganya akan memberikan tekanan untuk memulihkan “ketertiban” dan menjadi barang yang ia inginkan.

Tindakan Cheong ini menggambarkan pandangan patriarkal yang mengakar kuat, di mana perempuan dipandang sebagai objek, bukan subjek. Ketika Yeong-hye menolak untuk memasak, Cheong merasa berhak untuk meminta campur tangan keluarganya, melihat situasi ini sebagai masalah yang harus diperbaiki, bukan sebagai ekspresi dari kebebasan dan pilihan pribadi Yeong-hye.

Intervensi keluarga Yeong-hye, terutama ayahnya, justru memperkeruh keadaan. Alih-alih mendukung keputusan Yeong-hye atau mencoba memahami alasannya, ayah, ibu, dan Yeong-ho (adik Yeong-hye) memperlakukan masalah ini dengan kekerasan dan paksaan, memperlihatkan bagaimana tangan-tangan patriarki bekerja tidak hanya melalui suami tetapi juga melalui struktur keluarga yang lebih luas.

Dalam tradisi Korea Selatan, hubungan mertua dan menantu sangat dijunjung dan sering kali keluarga mertua memiliki pengaruh besar dalam dinamika rumah tangga[15]. Sistem keluarga di Korea Selatan secara tradisional dipengaruhi oleh ajaran Konfusianisme yang menekankan hierarki dan kewajiban keluarga. Dalam sistem ini, keluarga besar dan hubungan antargenerasi sangat penting, dan peran serta pengaruh mertua terhadap menantu, termasuk dalam urusan rumah tangga, adalah hal yang umum terjadi[16]. Pengaruh mertua, terutama ayah mertua, bisa sangat dominan dan dapat mempengaruhi keputusan serta kehidupan sehari-hari menantu laki-laki. Hal ini terlihat dalam bagaimana peran tradisional dalam keluarga Korea Selatan sering kali menempatkan laki-laki dalam posisi otoritas, sementara perempuan diharapkan untuk mematuhi dan mendukung peran tersebut[17].

Reaksi keluarga Yeong-hye menggambarkan perempuan di Korea Selatan di zaman modern masih mengalami tekanan sosial untuk tetap dalam peran tradisional. Ketika Yeong-hye menolak untuk mematuhi norma-norma ini, ia tidak hanya menghadapi perlawanan dari suaminya tetapi juga dari keluarganya sendiri. Cerita ini bisa saja potret realitas sosial yang ingin disampaikan Kang betapa sulit perempuan di Korea Selatan untuk memperoleh kebebasan dan otonomi atas dirinya, bahkan dalam lingkungan keluarga sendiri.

Otonomi Atas Tubuh

Salah satu adegan puncak novel ini terjadi ketika ayah Yeong-hye memaksa putrinya itu makan daging dengan sangat kasar atau bisa dianggap juga nirempati dan tidak manusiawi. Perlakuan ini bukan hanya tindakan kekerasan fisik, tetapi juga simbol dari dominasi maskulinitas yang berusaha mengendalikan tubuh dan kehendak perempuan. Ayah Yeong-hye, dalam tindakannya di luar batas, menunjukkan bagaimana patriarki beroperasi tidak hanya melalui kontrol suami terhadap istri tetapi juga melalui figur ayah yang berusaha mempertahankan kekuasaan atas anak perempuannya. Tindakan paksa memasukkan daging ke mulut Yeong-hye adalah upaya untuk memaksanya kembali ke peran yang diharapkan darinya, sebagai anak perempuan yang patuh dan tidak menentang ayahnya. Tindakan ayah Yeong-hye tidak hanya menyakiti putrinya secara fisik, tetapi juga menambah beban berat psikologis bagi Yeong-hye, sekaligus mengirimkan sinyal bahwa kehendak anak perempuannya itu tidak begitu berharga dan harus ditekan demi sebuah kepatuhan.

Yeong-hye melawan. Satu-satunya senjata perlawanan yang ia andalkan hanyalah tubuhnya sendiri. Ia mengiris pergelangan tangannya dengan pisau di depan seluruh anggota keluarga untuk menentang perlakukan ayahnya. Adegan ini terasa sangat mencekam: adegan tanpa kata-kata dari Yeong-hye, tapi justru seolah yang berteriak paling lantang mengatakan bahwa ia berhak atas tubuhnya sendiri, hidup atau mati; bahwa ia bukanlah obyek keluarga, tapi subyek atas hidupnya sendiri; bahwa ia berhak atas kendali dirinya sendiri.

Situasi dalam adegan ini menggambarkan betapa perih rasa frustasi dan keterasingan yang dialami Yeong-hye, bahkan dari perlakuan keluarganya sendiri. Dengan mengiris pergelangan tangannya, ia mengirim pesan yang jelas bahwa ia lebih memilih mati daripada kehilangan kendali atas tubuh dan hidupnya sendiri, sebagai bentuk perlawanan ultima manusia dalam keputusasaanya untuk mempertahankan otonomi pribadinya.

Hidup Yang Bermakna

Dilema tragis dialami Yeong-hye setelah tindakannya yang ekstrem. Di satu sisi, Yeong-hye tidak boleh mati: ia dilarikan ke rumah sakit oleh keluarganya setelah mengiris pergelangan tangannya. Tapi di sisi lain, untuk hidup ia juga tidak boleh menjalani hidup yang ia inginkan. Orang-orang di sekelilingnya tidak pernah mau peduli dan memahami pilihannya dan terus-menerus menentukan bentuk kehidupan yang harus diperankan oleh Yeong-hye.

Apakah hidup hanya untuk sekadar bertahan hidup dengan memainkan peran yang telah ditentukan, ataukah ada kebebasan mendalam dalam setiap masing-masing jiwa manusia agar hidup benar-benar bermakna?

Yeong-hye, dengan segala penderitaan dan perjuangannya, menunjukkan bahwa menjalani hidup yang bermakna bukanlah sesuatu yang dapat diukur dengan standar sosial. Keputusan Yeong-hye untuk menjadi vegan, meskipun ekstrem dan berujung pada penderitaan yang sia-sia, adalah manifestasi dari pencariannya akan makna hidupnya sendiri yang autentik. Ia memilih untuk menolak kekerasan dalam bentuk apapun, termasuk dalam konsumsi makanan, sebagai cara untuk menyelaraskan dirinya dengan keyakinannya yang mendalam, sebagai cara yang ia yakini untuk mengehentikan mimpi buruknya yang berkepanjangan.

Pemerkosaan Dalam Pernikahan

Vegetarianisme bukanlah satu-satunya cara Yeoeng-hye untuk menghentikan mimpi-mimpi buruknya. Ia juga mengendalikan seksualitasnya. Selain berhanti makan daging, ia menolak berhubungan badan dengan Cheong. Ia mengatakan badan suaminya itu “berbau daging.” Bagi Yeong-hye, kehidupan aseksual adalah cara agar ia tidak “mengonsumsi” orang lain atau “dikonsumsi” orang lain. Namun Cheong melihat ini sebagai bentuk pembangkangan yang absurd dan tidak ada dalam kamus patriarkisnya, sehingga ia menyetubuhi Yeong-hye beberapa kali tanpa konsen.

Persetubuhan tanpa konsen dari kedua belak pihak dalam jenis hubungan apapun, termasuk pernikahan, adalah bentuk kekerasan seksual. Secara historis, banyak negara tidak mengakui pemerkosaan dalam pernikahan sebagai kejahatan[18]. Hal ini didasarkan pada pandangan patriarkal bahwa seorang istri adalah “milik” suaminya, sehingga suami memiliki hak atas istrinya untuk berhubungan seksual kapan pun dia mau. Pandangan ini juga yang membuat Cheong tidak pernah merasa ikut andil sebagai pelaku kekerasan pada Yeong-hye.

Setelah Cheong menceraikan Yeong-hye, secara mengejutkan Yeong-hye setuju untuk menjadi bagian dari karya seni video kakak iparnya (Kang tidak memberi nama kakak iparnya). Dia mengizinkan kakak iparnya melukis bunga di tubuh telanjangnya dan kemudian setuju untuk difilmkan telanjang dengan seorang pria lain (bernama J). Hingga pada puncaknya, Yeong-hye melakukan persetubuhan dengan kakak iparnya.

Awalnya kami mengira Kang ingin menempatkan Yeong-hye sebagai tokoh yang inkonsisten pada pilihan aseksualnya. Hingga kami menangkap sesuatu yang sangat memilukan. Dalam adegan itu, kami melihat bahwa lukisan bunga-bunga di tubuh Yeong-hye telah menggeser persepsinya terlampau jauh. Ia tidak lagi mengenali dirinya sebagai manusia. Ia merasa menjelma menjadi tanaman.

Pada momen dirinya “menjelma menjadi tanaman”, di saat yang sama ia juga melihat J juga sebagai tanaman lantaran tubuh J juga dilukis bunga-bunga. Itu sebab ia bersedia beradegan mesum dengan J. Itu juga sebab pada mulanya ia menolak bersenggama dengan kakak iparnya, karena kakak iparnya masih bau daging (badannya belum dilukis bunga-bunga).

Meskipun terkesan Yeong-hye memberikan konsen atas hubungan badan dengan kakak iparnya, kami melihat bahwa persenggamaan ini bukanlah sebuah hubungan konsensual. Ini karena Yeong-hye dalam keadaan tidak sadar akan jati dirinya sebagai manusia. Kami melihat Yeong-hye sedang dalam kondisi kesehatan mental yang menganggu keputusannya, yang sedang dimanfaatkan oleh kelakuan bejat kakak iparnya.

Dan dari pengakuannya, Yeong-hye tidak lagi bermimpi buruk saat ia menjadi tanaman. Ia menolak mandi agar lukisannya tidak hilang, agar ia tetap menjadi tanaman, agar ia tidak lagi dihantui mimpi buruk. Ia seperti telah menemukan “jalan” menjadi dirinya yang bermakna.

Perempuan Menjadi Korban Patriarki

Selain Yeong-hye yang masih menjadi sentral cerita, pada babak ketiga Kang memotret perempuan lain yang menanggung beban berat di pundaknya: In-hye, kakak perempuan Yeong-hye. Setelah mengetahui suaminya telah menyetubuhi adik perempuannya yang sedang dalam kondisi gangguan kesehatan mental, ia juga menjadi tokoh yang paling merasa bertanggung jawab untuk membereskan masalah-masalah yang bekaitan dengan adiknya.

In-hye empat tahun lebih tua dari Yeong-hye dan anak bungsu dalam keluarga Kim. Kang menarasikan In-hye sebagai pencari nafkah utama untuk dirinya sendiri dan suaminya yang seorang seniman video medioker tidak terkenal. Selain mengelola toko kosmetik, In-hye juga mengurus putra balita mereka bernama Ji-woo.

Meskipun In-hye adalah pencari nafkah utama, ia tetap harus menanggung pekerjaan domestik dan merawat anak, sementara suaminya, meskipun memiliki pekerjaan sebagai seniman, tidak banyak membantu dalam hal-hal rumah tangga. Kang sepertinya ingin memperlihatkan bahwa tanggung jawab perempuan dalam mengurus anak dianggap sebagai sesuatu yang alami. Bahkan ketika perempuan berperan sebagai pencari nafkah, mereka tetap diharapkan untuk memprioritaskan kebutuhan keluarga dan anak-anak mereka. Ada semacam  potret ketidakadilan gender yang melekat dalam masyarakat yang nampaknya dipotret Kang melalui cerita ini, di mana peran domestik dan pengasuhan anak masih dianggap adalah tanggung jawab perempuan semata.

Kang juga menggambarkan In-hye tidak sepenuhnya memahami pikiran atau motivasi suaminya. Kami melihat isolasi mereka satu sama lain dan kurangnya pemahaman di antara mereka adalah salah satu alasan yang mendorong suaminya untuk membangun dunia fantasi melalui seninya: fantasi yang membuatnya terobesesi pada tanda lahir di pantat Yeong-hye dan ingin mengeksplorasinya menjadi sebuah karya seni visual, karya seni yang keblablasan pada petaka hubungan seksual antara pria sehat mental dengan perempuan dengan gangguan kesehatan mental.

Meskipun In-hye mungkin “lebih waras” daripada saudara perempuannya, kami menilai ia juga sebenarnya mengalami ketidakstabilan mental. Keterasingannya dengan orang-orang di sekitarnya membuatnya pernah berpikir untuk menyakiti diri sendiri dan mempertimbangkan untuk meninggalkan keluarganya dan pergi ke pegunungan untuk tidak pernah kembali. Namun In-hye menyadari konsekuensi yang lebih berat yang akan dialami adik perempuannya jika ia pergi dan menyerah pada “kewajiban anak pertama” dalam keluarga. Ia memilih tetap menemani adiknya. Dari semua karakter, In-hye adalah sosok yang paling peduli kepada Yeong-hye, meskipun In-hye tidak sepenuhnya memahami perilaku aneh saudara perempuannya itu.

Vegetarianisme ke Skizofrenia

Perubahan karakter Yeong-hye yang mendadak tidak hanya berhenti pada pilihannya berhenti makan daging dan berhubungan seksual. Sepanjang novel, kami melacak perjalanan Yeong-hye semakin menjauh dari realitas saat dia mengungkapkan keinginan secara figuratif dan harfiah untuk menjadi tanaman. Kami menduga keinginan yang terlontar langsung dari mulutnya ini muncul setelah ia memperoleh pengalaman singkat “menjadi tanaman” saat badannya dilukis bunga-bunga dan mimpi-mimpi buruk terus menghantuinya saat lukisan itu hilang dari tubuhnya.

Mimpi-mimpi buruk itu sepertinya telah membetuk alam pikirannya untuk meyakini bahwa manusia adalah makhluk paling abusif dan ia ingin menghindari jenis kehidupan seperti itu.

Karena ingin menjadi tanaman seutuhnya, Yeong-hye pada akhirnya menolak semua makanan, termasuk sayuran atau buah-buahan. Ia percaya bahwa ia adalah tanaman yang hanya membutuhkan air dan cahaya matahari. Karena tindakannya ini, ia dirawat ke rumah sakit jiwa dan didiagnosa anorexia nervosa[19] dan skizofrenia[20]. Dari rumah sakit jiwa, ia sempat kabur ke hutan dan di sana ia ditemukan mematung dalam pose handstand karena ia berpikir seperti itulah ia seharusnya bersikap sebagai pohon. Kembali di rumah sakit jiwa, ia menelanjangi dadanya ke arah matahari. Ia mengatakan ia harus berfotosintesis. Ia memberi tahu In-hye bahwa pohon-pohon di hutan itu seperti “saudara laki-laki dan perempuannya”.

Keinginan Yeong-hye untuk benar-benar menjadi pohon adalah kisah tragis terakhir dalam keinginannya untuk meninggalkan kekerasan manusia. Yeong-hye terus bersikeras bahwa ia tidak perlu makan, tetapi para dokter memaksanya makan dan kemudian memberinya suntikan penenang agar ia tidak memuntahkan makanannya. Dengan demikian, kekerasan yang sangat ingin dihindari oleh Yeong-hye dengan menjadi tanaman, justru dilakukan padanya, yang hanya membuatnya semakin keras kepala sekeras batu.

Ketika In-hye memberi tahu Yeong-hye bahwa dia dipaksa makan karena mereka tidak ingin dia mati, Yeong-hye bertanya, “Mengapa, apakah mati itu sangat buruk?” Keinginannya untuk mati, atau kurangnya insentif untuk hidup sebagai manusia, berasal dari kehidupan penuh kekerasan yang dialaminya—Yeong-hye, dalam arti tertentu, telah secara brutal “dimakan” oleh orang-orang di sekitarnya, seperti dia mencabik-cabik daging dalam mimpi buruknya.

Pengejaran Yeong-hye yang merusak diri sendiri untuk menjalani kehidupan sebagai tanaman sepertinya menjadi upayanya melarikan diri dari kemarahan, kekerasan, dan bahaya yang datang dengan menjadi manusia—meskipun upaya pelariannya pada akhirnya terbukti sia-sia. Pertanyaannya, kemarahan dan kekerasan sedalam apa yang dialami Yeong-hye?

Trauma Masa Lalu

Akses sekilas ke mimpi-mimpi Yeong-hye yang disajikan Kang pada babak satu tidak begitu mudah dipahami. Kami mendapati sedikit petunjuk atas masa lalu Yeong-hye yang kami kaitkan dengan mimpi-mimpi Yeong-hye.

Menurut penuturan In-hye, Yeong-hye waktu kecil pernah dipaksa oleh ayah mereka untuk memakan daging anjing. Bukan sembarang daging anjing, tapi anjing yang menggigit dan melukai tangan Yeong-hye. Ayahnya ingin anak sekecil itu tahu apa konsekuensi atas pembangkangan. Maka anjing yang dikenal sebagai hewan yang seharusnya patuh pada tuannya itu harus dihukum. Ayahnya menyeret anjing itu dan memaksanya berlari dengan sepeda motor sampai anjing itu muntah darah dan mati kelelahan. Bangkai anjing itu dihidangkan di meja untuk harus dimakan oleh Yeong-hye.

Pendidikan macam apa yang mau diajarkan oleh orang tua untuk seorang anak perempuan yang dipaksa untuk mengonsumsi daging hewan peliharaannya sendiri sebagai hukuman? Kami tidak mencari alasan yang membenarkan perbuatan ini, selain melihatnya sebagai cara untuk menanamkan rasa takut dan ketundukan melalui cara yang brutal.

Tindakan ini menunjukkan kekejaman yang luar biasa dari ayah Yeong-hye dan menggarisbawahi trauma mendalam yang dialami oleh Yeong-hye sejak usia dini, dan terefleksi melalui mimpi-mimpinya saat dewasa.

Kekerasan ini, yang dialami Yeong-hye selama masa kecilnya, kami nilai berperan besar dalam pembentukan kepribadiannya dan keputusannya untuk menolak segala bentuk kekerasan saat dewasa. Mimpi buruk yang dialaminya, keputusan untuk menjadi vegan, dan keinginannya untuk menjadi tanaman semuanya dapat dilihat sebagai upaya untuk menjauh dari kekerasan yang mengerikan yang telah membayangi hidupnya sejak kecil. Dengan memilih untuk berhenti makan daging, dan kemudian berhenti makan sama sekali, Yeong-hye berusaha untuk membersihkan dirinya dari kekerasan yang telah begitu dalam mengakar dalam hidupnya.

Selain itu, berdasarkan penuturan In-hye, Yeong-hye sejak kecil telah mengalami ketakutan luar biasa pada ayah mereka. Saat di hutan, Yeong-hye kecil pernah meminta kakaknya itu untuk tetap tinggal di hutan, pergi dari rumah, dan tidak kembali, karena di rumah ia akan selalu dipukuli ayahnya. Tapi In-hye menolak.

Di akhir novel In-hye mendapat kejelasan motivasi Yeong-hye: sebagai seorang anak, Yeong-hye adalah satu-satunya korban dari kekerasan dari ayah mereka. Dari ketiga anak dalam keluarga, hanya Yeong-hye yang menjadi sasaran bogem ayah mereka. Dan In-hye melihat bahwa Yeong-hye telah “menyerap semua penderitaannya di dalam dirinya.”  Meskipun keputusan Yeong-hye sepanjang novel ini ekstrem, In-hye memahami bahwa keinginan saudara perempuannya untuk menjadi tanaman secara alegoris mewakili cara untuk menghindari kekerasan yang dilakukan dan dialami oleh manusia.

Bibliografi

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed.). Arlington, VA: American Psychiatric Publishing.

Delaying the Dream: How Sleep Enhances Memory. Trends in Cognitive Sciences, 13(10), 429-437.

Food and culture in contemporary Korea. Journal of Korean Studies, 22(1), 101-123.

Freud, Sigmund. The Interpretation of Dreams. 1899.

Hobson, J. A., & McCarley, R. W. (1977). The Brain as a Dream State Generator: An Activation-Synthesis Hypothesis of the Dream Process. American Journal of Psychiatry, 134(12), 1335-1348.

Horikawa, T., Tamaki, M., Miyawaki, Y., & Kamitani, Y. (2013). Neural Decoding of Visual Imagery During Sleep. Science, 340(6132), 639-642.

http://classics.mit.edu/Aristotle/dreams.html diakses 12 Mei 2024.

https://www.asianstudies.org/publications/eaa/archives/dreaming-making-and-breaking-family-and-kinship-in-contemporary-south-korea/ diakses 17 Mei 2024.

https://www.countrystudies.us/south-korea/38.htm diakses 17 Mei 2024.

https://www.koreatimes.co.kr/www/tech/2023/11/419_302366.html diakses 15 Mei 2024.

https://www.lifeofbrit.com/guide-for-being-vegetarian-in-south-korea/ diakses 19 Mei 2024.

https://www.merriam-webster.com/dictionary/vegetarian#h1 diakses 15 Mei 2024.

Menggambar Dengan Kalimat, A.S. Laksana (2023).

Reeve, C.D.C. (2013). Soul, Soul-Parts, and Persons in Plato. In: Anagnostopoulos, G., Miller Jr., F. (eds) Reason and Analysis in Ancient Greek Philosophy. Philosophical Studies Series, vol 120. Springer, Dordrecht. https://doi.org/10.1007/978-94-007-6004-2_9.

Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.


[1] Dalam tradisi Korea, nama keluarga diletakkan di depan nama depan. Kim adalah nama keluarga.

[2] Dalam Republic[2], Plato menyentuh konsep mimpi dalam konteks kebajikan dan hasrat. Dia berpendapat bahwa dalam mimpi, bagian-bagian tidak rasional dari jiwa dapat muncul ke permukaan karena kontrol rasional dari jiwa melemah. Menurut Plato, jiwa terdiri dari tiga bagian: rasional, spirited (semangat), dan appetitive (keinginan). Bagian rasional bertugas mengendalikan dua bagian lainnya, tetapi saat tidur, bagian-bagian yang lebih tidak rasional bisa lebih bebas mengekspresikan diri melalui mimpi. Reeve, C.D.C. (2013). Soul, Soul-Parts, and Persons in Plato. In: Anagnostopoulos, G., Miller Jr., F. (eds) Reason and Analysis in Ancient Greek Philosophy. Philosophical Studies Series, vol 120. Springer, Dordrecht. https://doi.org/10.1007/978-94-007-6004-2_9

[3] Ariestoteles membahas mimpi dalam karyanya On Dreams (Latin: De insomniis), di mana ia berargumen mimpi bukanlah pengalaman sensoris atau intelektual murni, tetapi terkait dengan kemampuan presentasi dari persepsi indra. Mimpi berasal dari kesan sensoris yang tetap ada bahkan setelah rangsangan eksternal hilang, terus mempengaruhi organ sensoris. Aristoteles membandingkan kesan-kesan ini dengan gerakan yang tertinggal, menunjukkan bahwa mereka dapat menghasilkan gambar mimpi yang hidup ketika indra tidak aktif saat tidur. Terjemahan tulisan Ariestoteles bisa dibaca di sini: http://classics.mit.edu/Aristotle/dreams.html

[4] Sigmund Freud mengatakan mimpi sebagai “Königsweg” (jalan utama) menuju ke dalam alam bawah sadar. Menurut Freud, mimpi adalah manifestasi keinginan dan konflik yang tidak disadari. Dia mengembangkan metode interpretasi mimpi dengan membedakan antara manifest content (apa yang benar-benar dialami dalam mimpi, bisa diingat dan diceritakan) dan latent content (makna tersembunyi dari mimpi tersebut). Freud, Sigmund. The Interpretation of Dreams. 1899.

[5] Hobson mengemukakan hipotesis aktivasi-sintesis, yang menyarankan bahwa mimpi adalah hasil dari aktivitas elektrik acak di otak, terutama selama fase REM, yang kemudian disintesis menjadi pengalaman mimpi oleh otak. Hobson, J. A., & McCarley, R. W. (1977). The Brain as a Dream State Generator: An Activation-Synthesis Hypothesis of the Dream Process. American Journal of Psychiatry, 134(12), 1335-1348.

[6] Penelitian ini menunjukkan bagaimana tidur, terutama fase REM, memainkan peran penting dalam mengonsolidasikan memori. Fase REM dikaitkan dengan pemrosesan informasi dan penguatan ingatan, yang mendukung peran mimpi dalam mengintegrasikan pengalaman dan pengetahuan baru. Walker, M. P., & van der Helm, E. (2009). Delaying the Dream: How Sleep Enhances Memory. Trends in Cognitive Sciences, 13(10), 429-437.

[7] Film animasi yang diproduksi Pixar Animation Studios dan dirilis oleh Walt Disney Pictures pada 2015. Disutradarai oleh Pete Docter, film ini menggambarkan perjalanan emosional gadis muda bernama Riley Andersen yang harus beradaptasi dengan perpindahan keluarganya dari Minnesota ke San Francisco.

[8] Penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas neural terkait dengan visual imagery selama tidur REM serupa dengan aktivitas saat melihat objek yang sama dalam keadaan terjaga. Studi ini menggunakan teknik fMRI untuk memetakan aktivitas otak yang berhubungan dengan konten mimpi. Horikawa, T., Tamaki, M., Miyawaki, Y., & Kamitani, Y. (2013). Neural Decoding of Visual Imagery During Sleep. Science, 340(6132), 639-642.

[9] Menurut Korea Vegetarian & Vegan Association, populasi vegetarian meningkat dari 150.000 pada 2008 menjadi 1,5 juta pada 2018. Sumber: https://www.koreatimes.co.kr/www/tech/2023/11/419_302366.html diakses 15 Mei 2024.

[10] Food and culture in contemporary Korea. Journal of Korean Studies, 22(1), 101-123.

[11] Kata Vegetarian sudah dipakai sejak tahun 1842 dalam bahasa Inggris. Sumber: https://www.merriam-webster.com/dictionary/vegetarian#h1 diakses 15 Mei 2024.

[12] https://www.lifeofbrit.com/guide-for-being-vegetarian-in-south-korea/ diakses 19 Mei 2024.

[13] Kimchi dalam tradisi asli Korea mengandung kecap ikan.

[14] Dalam kelas ”Menggambar Dengan Kalimat” yang diampu oleh A.S. Laksana, understatement adalah salah satu perangkat literer yang biasa digunakan oleh penulis untuk menyampaikan hal-hal besar dengan cara yang nampak biasa-biasa saja. Teknik literer ini ”menyembunyikan” makna/pesan sebenarnya.

[15] Asia Society. “The Value and Meaning of the Korean Family.” Sumber: https://www.asianstudies.org/publications/eaa/archives/dreaming-making-and-breaking-family-and-kinship-in-contemporary-south-korea/ diakses 17 Mei 2024.

[16] Association for Asian Studies. “Dreaming, Making, and Breaking Family and Kinship in Contemporary South Korea.” Sumber: https://www.asianstudies.org/publications/eaa/archives/dreaming-making-and-breaking-family-and-kinship-in-contemporary-south-korea/ diakses 17 Mei 2024.

[17] Country Studies. “South Korea – Traditional Family Life.” Sumber: https://www.countrystudies.us/south-korea/38.htm diakses 17 Mei 2024.

[18] Di Indonesia, pemerkosaan dalam pernikahan baru diakui sebagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga dengan diberlakukannya Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT), khususnya Pasal 8.

[19] Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), anorexia nervosa digambarkan sebagai gangguan makan yang ditandai dengan restriksi asupan energi relatif terhadap kebutuhan, yang mengarah pada berat badan yang sangat rendah, bersama dengan ketakutan yang intens terhadap penambahan berat badan dan gangguan dalam cara berat badan atau bentuk tubuh dialami. Sumber: American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed.). Arlington, VA: American Psychiatric Publishing.

[20] Skizofrenia adalah gangguan mental kronis dan parah yang mempengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku. Orang dengan skizofrenia mungkin tampak seperti kehilangan kontak dengan kenyataan, yang bisa sangat mengganggu kehidupan sehari-hari mereka. Skizofrenia mencakup berbagai gejala, yang biasanya dikategorikan menjadi tiga jenis: positif, negatif, dan kognitif. Lebih lanjut baca: American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed.). Arlington, VA: American Psychiatric Publishing.

Komentari tulisan ini

Komentari tulisan ini