Dalam epos Ramayana, tidak jelas mana yang secara moral lebih unggul: Rama yang berjuang untuk menyelamatkan istrinya atau Rahwana yang mempertahankan kehormatannya sebagai raja. Pada kasus yang lebih kekinian, baru-baru ini viral perdebatan netizen di satu akun Instagram, siapa yang lebih tidak bermoral: pemilik mobil parkir sembarangan di pinggir jalan yang merugikan banyak orang (menyebabkan macet) atau pemotor yang dengan sengaja menggores badan mobil itu?

Apakah “kebenaran” moral bisa disederhanakan?

Pada edisi kali ini, desk kuratorial mengajak pembaca untuk lebih dekat melihat problem moral semacam itu melalui sebuah fiksi klasik: Kejahatan dan Hukuman, karangan Fyodor Dostoyevsky.

Novel termasyhur yang berumur satu setengah abad ini membawa tema serupa yang mendedah dilema moral yang dialami Rodion Raskolnikov, seorang mahasiswa hukum usia likuran, tampan, pintar, dan melarat, yang membunuh perempuan rentenir tua. Ia meyakini tindakannya dibenarkan secara moral karena pembunuhan ini membawa kebaikan yang lebih besar.

Tidak hanya membentangkan problem moral, Dostoyevsky juga membawa pembaca pada pengalaman psikologis manusia yang begitu kompleks dan dalam, di mana Raskolnikov berusaha menerima dan membenarkan pembunuhannya melalui serangkaian konflik batin yang mempengaruhi kondisi psikisnya dan interaksinya dengan karakter-karakter lain.

Selain menyoroti moralistik kaum terpelajar Rusia abad ke-19 yang menjadi nihilistik, tidak berakar dan terasing dari nilai-nilai luhur tradisional Rusia, melalui novel ini Dostoyevsky juga menghadirkan gagasan-gagasan filosofis dan psikologis melalu fiksi detektif. Sebagai fiksi filosofis, Dostoyevsky dengan cemerlang membungkus gagasan eksistensialisme[1] dan psikoanalisis melalui misteri yang mengelilingi tindakan dan monolog batin Raskolnikov. Sedangkan sebagai fiksi detektif, serangkaian penyelidikan polisi yang mendebarkan menciptakan ketegangan dan suspensi yang bisa mempertahankan minat pembaca hingga akhir cerita. Kombinasi elemen-elemen ini membuat novel ini menjadi fiksi yang lebih dari sekadar plot kriminal sederhana, tetapi juga panggung eksplorasi tentang psikologi manusia dan filsafat moral. Atas gagasan-gagasan filsafatnya, tak heran novel ini mempengaruhi banyak pemikir Eropa. Sementara elemen fiksi detektifnya berhasil menarik tujuh sutradara dari pelbagai negara memproduksi versi adaptasinya menjadi film dan serial televisi[2].

Latar kota Saint Petersburg menjadi salah satu kunci memahami novel ini. Dostoevsky memanfaatkan kemiskinan dan kemelaratan yang dialami banyak penduduk St. Petersburg pada abad ke-19, dan mengeksplorasi bagaimana lingkungan semacam itu memengaruhi psikologi dan nilai-nilai yang dianut oleh orang-orang yang tinggal di dalamnya. St. Petersburg digambarkan Dostoevsky sebagai kota yang dipenuhi dengan prasangka, ketidaksetaraan, kemiskinan, dan dihuni oleh sosok-sosok yang bingung dan cemas “tersandung di jalanan” karena tak mampu memahami lingkungan mereka sendiri. Secara fisik, St. Petersburg digambarkan tak pernah memiliki suhu yang tepat, tak pernah berbau, selalu terdengar suara-suara yang memekakkan telinga dan menakutkan, dan secara umum tampak tak ramah terhadap kehidupan manusia. Namun, orang-orang tertarik pada kota ini, yang meskipun penuh tekanan, karena merupakan satu-satunya cara untuk naik kelas. Dualitas kota ini lah yang membentuk siklus dan konflik yang melanda setiap karakter.  

St. Petersburg menjadi seperti itu karena pada zaman itu Rusia masih “terisolasi” dari Eropa. Tsar Alexander II menjalankan pemerintahan otokratis. Gereja Kristen Ortodoks sangat mempengaruhi budaya dan politik masyarakatnya. Perekonomian masih sangat bergantung pada perbudakan Serf, sebuah sistem tenaga kerja feodal yang secara resmi dilembagakan oleh pemerintah, di mana para petani, atau budak, membayar uang sewa untuk menggarap lahan milik kelas bangsawan yang relatif kecil dan memiliki hak istimewa. Hukum membatasi kemampuan para budak untuk bepergian, memiliki properti, atau menerima pendidikan.

Novel ini masuk ke Indonesia dalam versi ringkas melalui terjemahan sekunder. Ahmad Faisal Tarigan tidak mengalihbahasakannya dari bahasa Rusia, tapi dari terjemahan bahasa Inggris (Crime and Punishment) oleh Constance Garnett yang diringkas oleh Alice Ten Eyck. Versi terjemahan utuh dalam bahasa Inggris dikerjakan oleh Sydney Monas dan yang paling gres dikerjakan oleh Roger Cockrell (2022). Pembaca dapat membaca salah satu dari semua versi yang disebutkan di atas.

Pada zamannya, karya-karya Dostoyevsky dibaca oleh Nietszche, Einstein, dan Stalin[3]. Nietzsche sendiri mengaku bahwa pemahamannya tentang psikologi hanya diperoleh dari Dostoyevsky[4]. Di luar kontroversi masing-masing tokoh ini, desk kuratorial menilai bahwa sambutan dari tokoh-tokoh ini dapat mencerminkan kualitas novel ini layak untuk dibaca oleh segenap pembaca. Jika novel ini bisa memengaruhi orang-orang seperti Nietszche, Einstein, dan Stalin, interpretasi macam apa kiranya yang mereka tangkap dan jejalkan ke pikiran mereka yang telah mengubah wajah dunia itu?

Interpretasi selalu berubah, getas, dan tidak pernah final. Oleh karenanya, meskipun fiksi ini telah dibaca oleh orang-orang sejak lebih dari seabad yang lalu, kami meyakini bahwa setiap generasi memiliki caranya sendiri dalam membaca. Baik sebagai novel psikologis, filosofis, ataupun detektif, desk kuratorial mengundang pembaca untuk membaca novel ini dengan terminologi zaman sekarang, dengan lensa pengalaman kita sekarang, lalu menginterpretasikannya dan mengambil pelajaran secukupnya.

Salam hangat dari kami,

Irwanto Laman & R. Celsa Dona


[1] Sikap filosofis yang menekankan kebebasan individu, tanggung jawab pribadi, dan subjektivitas pengalaman manusia. Aliran ini muncul pada abad ke-19 dan mencapai puncaknya pada pertengahan abad ke-20, dengan tokoh-tokoh utama seperti Søren Kierkegaard, Friedrich Nietzsche, Jean-Paul Sartre, dan Albert Camus.

[2] Adaptasi film dan serial televisi tidak mendapat pujian independen. Beberapa sebab seperti kompleksitas psikologis dan monolog batin yang tidak mudah ditampilkan dalam bentuk visual. Detail narasi sosial, ekonomi, dan budaya Rusia abad ke-19 juga dianggap kurang memuaskan.

[3] Goenawan Mohamad pada Catatan Pinggir Tempo edisi 13 Agustus 2017 mengatakan bahwa Einstein dan Stalin menyukai novel-novel Dostoyevsky.

[4] Dalam tulisannya Die Götzen-Dämmerung (Twilight of the Idols), Nietzsche mengatakan “Dostoevski, the only psychologist, incidentally, from whom I had something to learn; he ranks among the most beautiful strokes of fortune in my life, even more than my discovery of Stendhal.” Tulisan lengkap Nietzsche bisa diakses di https://www.handprint.com/SC/NIE/GotDamer.html

Komentari tulisan ini

Komentari tulisan ini