Beberapa pekan lalu, saat membicarakan Sapiens dan Homo Deus dengan beberapa rekan pembaca, kami sepakat pada satu hal: Yuval Noah Harari adalah sejarawan yang menulis buku sejarah dengan sangat memikat. Ia tidak hanya mengurai apa yang terjadi di masa lalu, tetapi juga mengajak pembacanya merangkai kepingan-kepingan peristiwa lain untuk menghasilkan potret yang lebih utuh sebagai upayanya menjelaskan mengapa peristiwa-peristiwa itu bisa terjadi. Gaya naratifnya merentangkan imajinasi pembaca; setelah membangun bayang-bayang masa lalu di dalam benak, ia kemudian mengundang pembacanya mendilatasi bayang-bayang itu menjadi kemungkinan-kemungkinan masa depan—baik atau pun buruk—dengan cara menarik benang merah persitiwa-peristiwa itu ke gejala-gelaja yang kita alami hari-hari ini. Benang merah seperti itu menjadi ciri khas historiografi Harari: mewartakan harapan sekaligus kecemasan. 🙃
Untuk mengekplorasi peristiwa-peristiwa masa silam, Harari menjelaskannya secara interdisipliner menggunakan banyak lensa: sosiologi, antropologi, ekonomi, filsafat, dan disiplin ilmu-ilmu lain, sehingga menciptakan perspektif yang lebih holistik. Dengan cara seperti ini, kami berpendapat bahwa ia berhasil membangun historiografinya dengan asas yang sangat kuat, bahwa menurut kami, sejarah seharusnya ditulis agar lebih enak dikunyah daripada sekadar langsung ditelan. Sama halnya mengunyah makanan, dengan pendekatan ini, pembaca memperoleh haknya untuk mencecap asam-manis-pahit-asin setiap fakta, menyaring premis, dan akhirnya memutuskan argumen mana yang layak melaju ke kerongkongan dan mana yang harus dimuntahkan.
Dalam pandangan kami, membaca buku sejarah dengan bentuk seperti ini menguntungkan pembaca dalam dua hal. Yang pertama, pembaca terakselerasi memperoleh hakikat membaca sejarah, yakni mengambil hikmah peristiwa masa lalu untuk bekal masa kini menata masa depan lebih baik. Kedua, pembaca tidak hanya terpapar kejadian-kejadian masa lalu yang mungkin belum diketahui sebelumnya, tetapi juga memperoleh wawasan interdispliner yang cukup kaya. Dengan bekal keilmuan dan pengalaman masing-masing pembaca, pendekatan ini dapat mendemokratisasi interpretasi, mengurangi hegemoni tafsir, yang pada akhirnya membangun narasi-narasi alternatif dalam percakapan-percakapan sejarah.
Meskipun kami tidak selalu setuju dengan cara Harari menarik kesimpulan, argumen-argumen yang ia utarakan kerap membuka pikiran-pikiran tersumbat. Hal ini karena untuk mendukung argumen-argumennya, Harari menyajikan eksplorasi fakta-fakta sejarah dengan sangat mendalam. Kendati fakta-fakta itu tidak semuanya memberi kami keyakinan yang sama dengan cara Harari mendeduksi peristiwa, nyatanya fakta-fakta itu membentangkan horizon pengetahuan baru yang sebelumnya tidak nampak. Fakta-fakta baru itulah yang membobol sumbatan, yang membukakan jalan pada pemahaman baru tanpa harus searah dengan deduksi ala Harari.
Kami menilai gaya menulis sejarah seperti ini juga menciptakan percakapan sejarah lebih hidup, di mana pembaca dapat berdialog dengan gagasan-gagasannya dan menemukan interpretasi mereka sendiri atas fakta-fakta yang dipaparkan. Kami berpendapat di situlah kekuatan terbesar buku-buku Harari—ia mengajak pembaca untuk tidak menelan sejarah tanpa mengunyah. Dengan kata lain, Harari mengajak pembacanya terus berpikir, mempertanyakan, dan yang pada akhirnya memperkaya wawasan pembacanya tentang kompleksitas sejarah manusia.
Pada edisi kedelapan ini, kami mengundang pembaca menganalisis buku terbarunya: Nexus, A Brief History of Information Networks from the Stone Age to AI. Tesis utama buku ini berangkat dari buku Harari sebelumnya, bahwa kemampuan manusia membangun jaringan yang besar dan kompleks telah menjadi sumber kekuatan besar, tetapi di sisi lain cara membangun jaringan tersebut memerangkap manusia menggunakan kekuatannya secara tidak bijaksana. Buku ini beragumen bahwa masalah jaringan ini disebabkan oleh gelagat ketamakan manusia, yang dari dulu sampai dengan sekarang tidak pernah berubah dalam membangun dan menggunakan informasi, yaitu untuk mendulang pemusatan kekuatan/kekuasaan yang lebih besar. Bahayanya, menurut Harari, secara alamiah informasi memang memiliki sifat ganda: informasi tak hanya meliberasi––jika tidak digunakan bijaksana, informasi juga bisa menjadi alat mengopresi.
Dalam buku ini, Harari berargumen bahwa nilai informasi saat ini tidak banyak terletak pada akurasinya, melainkan lebih pada kemampuannya untuk menciptakan koneksi dan makna, bahkan ketika koneksi tersebut tidak nyata. Pada keadaan ini, informasi tidak lagi menjadi alat untuk menerangkan dan memahami realitas sebenarnya, tetapi lebih sebagai senjata untuk membentuk realitas baru yang sesuai dengan kepentingan tertentu. Dalam esai pengantarnya, Harari menyitir pendapat ekstrem intelektual kiri, Michel Foucault dan Edward Said, yang mengatakan, bahkan institusi sains sekali pun, seperti rumah sakit dan universitas, sebenarnya tidak bersungguh-sungguh bekerja membangun kebenaran obyektif, tetapi lebih kepada menunjukkan sikap otoritatif mereka dalam menentukan apa yang disebut kebenaran, yang menurut Foucault, kebenaran yang mereka bangun tidak lebih dari kebenaran versi logika kapitalisme[1]. Lebih lanjut, Harari juga menyebut para pemegang kekuasaan di negara-negara demokratis tidak begitu tertarik dengan kebenaran. Mereka bersikap masa bodoh–– misinformasi (informasi yang tidak akurat) atau pun disinformasi (informasi yang sengaja dibengkokkan), sepanjang menguntungkan depotisme, informasi yang seperti itu bisa menjadi mesin-mesin pengeruk suara mayoritas dengan mengabaikan seberapa pun besar kerusakan yang ditimbulkannya.
Pergeseran ini menciptakan tantangan berat bagi kita manusia modern. Di satu sisi, kemajuan teknologi dan kemampuan kita untuk terhubung dengan siapa pun, di mana pun, menawarkan potensi luar biasa untuk kolaborasi dan inovasi. Namun, di sisi lain, ketergantungan kita pada informasi yang tidak selalu faktual memperlemah fondasi kritis kita dalam mengambil keputusan. Harari menekankan bahwa tanpa kemampuan memilih dan memilah informasi dengan bijaksana, kita berisiko menjadi korban manipulasi, baik oleh individu, kelompok, maupun sistem yang lebih besar.
Kami berpendapat Nexus menjadi buku yang tepat dibaca sekarang karena mengalamatkan pada dua tren isu global (termasuk di Indonesia) saat ini: kebangkitan populisme otoritarian yang memanipulasi informasi dan ledakan kemajuan kecerdasan buatan yang bisa mempercepat manipulasi tersebut. Buku ini berupaya menawarkan gagasan menghadapi fenomena global yang kian berisiko ini. Kedua fenomena ini saling terkait dan terlilit, berkelindah dalam cara yang kompleks, yang menurut Harari, akar masalah utama yang mendasari keduanya adalah bagaimana manusia mengelola informasi.
Seperti ciri khas kepenulisan Harari, buku ini meneropong masa depan dengan mempertimbangkan bagaimana kecerdasan buatan berpotensi membentuk/merekayasa ulang informasi dan, yang pada gilirannya, membentuk masyarakat. Harari menyajikan kemungkinan-kemungkinan utopis dan distopis dengan menggarisbawahi bahwa masa depan dibentuk oleh pilihan-pilihan yang dibuat manusia hari ini. Buku ini memberikan gambaran panjang tentang bagaimana jaringan informasi selalu berkembang, dari masa lalu sampai sekarang dan nanti, yang membentuk wajah peradaban manusia. Meskipun tidak memberi semua jawaban, buku ini kami anggap dapat menavigasi kita untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tepat, dan terutama mendorong kewaspadaan kita untuk lebih bijak bersikap dalam dunia informasi yang semakin mendefinisikan kehidupan kita.
Nexus menawarkan wawasan yang seru, mendalam, sekaligus bisa menjadi pilihan sumber gizi yang enak dikunyah, untuk menutrisi pikiran agar tetap sehat dalam dunia yang telah penuh sesak oleh manipulasi.
Disertai salam dan hormat,
Irwanto Laman & Romana Celsa Dona
[1] Salah satu referensi utama terkait pandangan ini adalah dalam karya Foucault Discipline and Punish (1975) dan The Birth of the Clinic (1963). Dalam Discipline and Punish, Foucault menjelaskan bagaimana institusi-institusi modern seperti penjara, rumah sakit, dan sekolah/universitas menciptakan mekanisme kontrol sosial yang tidak hanya mempengaruhi tubuh, tetapi juga pikiran individu. Dia menunjukkan bahwa pengetahuan yang diproduksi oleh institusi-institusi ini tidak netral, melainkan diatur oleh dinamika kekuasaan yang bertujuan memperkuat kontrol sosial. Dalam The Birth of the Clinic, Foucault menjelaskan bagaimana rumah sakit modern menjadi tempat di mana kekuasaan tidak hanya bekerja untuk menyembuhkan, tetapi juga untuk mengontrol populasi melalui pengawasan medis. Pengetahuan medis, menurutnya, diproduksi untuk memenuhi kebutuhan kekuasaan yang lebih luas, termasuk sistem ekonomi kapitalis. Foucault berargumen bahwa “rezim kebenaran” yang dihasilkan oleh institusi-institusi ini sering kali terkait dengan struktur kapitalisme. Sistem pengetahuan ini mendukung mekanisme kekuasaan yang memastikan reproduksi kapitalis berjalan lancar. Dalam hal ini, kebenaran tidak bisa dipisahkan dari kekuasaan; mereka saling terkait untuk menjaga keberlangsungan sistem yang ada. Pembaca bisa mengeksplorasi lebih jauh tentang pandangan Foucault mengenai bagaimana institusi memproduksi dan memanipulasi kebenaran dalam bukunya Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings 1972-1977.
