PADA 9 Januari 1836, Prancis memenggal kepala bekas mahasiswa hukum putus kuliah––Pierre-François Lacenaire––dengan pisau guillotine setelah pengadilan memutusnya bersalah membunuh pensiunan pedagang dan pelayannya. Pembunuhan ini pernah menjadi kasus paling fenomenal dalam sejarah kriminal Prancis[1], bukan karena pembunuhan itu sendiri, tetapi lebih karena Lacenaire menjadikan pengadilan bak panggung pertunjukan intelektual Eropa abad ke-19. Selama persidangan, Lacenaire menarik perhatian publik dan pers lantaran mengkritik tajam sistem hukum dan moralitas Prancis. Alih-alih menyesali perbuatannya, ia lantang membanggakan diri sebagai intelektual yang berani bersuara dan mengambil sikap, intelektual yang memilih jalur ekstrem sebagai respons terhadap ketidakadilan sosial[2].
Tiga puluh tahun kemudian, kisah serupa terdengar dari Rusia[3], namun kali ini dalam cerita fiksi Kejahatan dan Hukuman karangan Fyodor Dostoevsky, yang diterbitkan bersambung dalam majalah sastra “Russkiy Vestnik” (Русский вестник). Melalui cerbung itu, Dostoevsky menciptakan protagonis Rodion Raskolnikov––mahasiswa usia likuran yang juga melakukan pembunuhan terhadap dua orang. Seperti Lacenaire, Raskolnikov digambarkan sebagai mahasiswa putus kuliah dari fakultas hukum, juga seorang intelektual yang kecewa pada ketidakadilan sosial di sekitarnya. Berbeda dengan Lacenaire yang dari kisahnya kita tidak menangkap pergulatan batin seorang pembunuh, sementara dari novel ini, kita bisa menyaksikan isi tempurung kepala sang pembunuh, memeriksa perasaannya, motivasinya, dan tegangan batin yang menyertainya.
Sekulerisasi Moral
Sebelum Abad Pencerahan, moralitas Eropa berakar kuat pada ajaran agama, terutama Kristen[4]. Gereja memiliki otoritas besar menentukan apa yang dianggap benar atau salah, baik atau jahat, boleh atau tidak boleh, pahala atau dosa. Agama menjadi sumber utama moralitas.
Pada akhir abad ke-17 sampai akhir abad ke-18, pandangan ini mulai digugat para filsuf yang mengedepankan rasionalitas. Para pemikir[5] ini mengajukan konsep-konsep moral yang tidak bergantung dogma agama, tetapi pada pemikiran rasional dan prinsip-prinsip universal yang dapat diterima akal. Perkembangan ini menggeser cara pandang Eropa terhadap moralitas. Nilai-nilai moral menjadi lebih sekuler, dikonseptualisasikan berdasarkan akal budi dan pengalaman manusia tanpa harus bergantung pada petunjuk langit.
Kejahatan dan Hukuman ditulis pada 1866, ketika gagasan-gagasan Abad Pencerahan terkait moral sekuler menggema di Eropa Barat. Melalui cerita ini, Dostoevsky ikut mengekplorasi gagasan-gagasan moral sekuler yang mengedepankan rasionalitas. Untuk mengekplorasi gagasan itu, ia menulis cerbung ini dengan mengisahkan Rodion Raskolnikov yang meluap-luap membangun teori moralnya sendiri.
Raskolnikov: Man of Contradiction
Dostoevsky menggambarkan Rodion Raskolnikov sebagai laki-laki yang penuh kontradiksi (man of contradiction). Nama Raskolnikov sendiri berakar dari kata “раскол” (raskol), yang dalam bahasa Rusia berarti “pemisahan” atau “skisma”. Dostoveysky sepertinya sengaja memberi nama ini untuk menggambarkan karakternya yang terbelah. Keterbelahan itu tergambar dari penceritaan dalam novel bahwa Raskolnikov adalah pemuda tampan, tapi sengaja membuat dirinya tak terawat; ia punya kecerdasan tajam, tapi kuliahnya terbengkalai; ia murah hati dan penuh empati, tapi sanggup melakukan pembuhuhan.
Sayangnya, kemurahan hati Raskolnikov tidak sebanding dengan kesulitan-kesulitannya sendiri. Ia tidak punya uang membayar kuliah; ia mengendap-endap menghindari pandangan ibu kos karena berbulan-bulan menunggak; dan ia memohon ke rentenir agar mau menerima gadai jam saku perak peninggalan almarhum bapaknya yang tak seberapa nilainya, hanya untuk bisa bertahan hidup. Dan di saat yang sama, ketika ia mendapatkan sedikit uang—seperti uang kiriman dari ibunya yang dikumpulkan dengan susah payah—ia tidak menggunakannya untuk membayar kuliah atau melunasi sewa kos, melainkan untuk membayar biaya pemakaman orang lain. Uang hasil menggadai pun tak ia gunakan untuk dirinya sendiri. Sebagian ia berikan kepada keluarga Marmeladov yang anak-anaknya menjerit kelaparan. Raskolnikov adalah potret manusia yang lebih mengasihani orang lain daripada dirinya sendiri, sebuah potret manusia baik, tapi kebaikan yang menelan dirinya sendiri.
Kemiskinan telah menjerumuskan Raskolnikov pada krisis. Ia terombang-ambing, kehilangan fokus, dan tidak mampu menemukan makna dalam dunia yang tidak adil. Ia terus bergumul dengan perasaan gagal dan mulai teraleniasi dengan sekitarnya, mengungkung diri di dalam kamar kos yang seupil. Ia merasa tertindas sistem sosial yang membiarkan orang-orang sepertinya jatuh ke jurang kemelaratan tanpa ada jalan keluar.
Kami menduga Dostoveysky menciptakan tokoh seperti itu lantaran ia ingin memotret kebanyakan kaum muda Rusia saat itu. Selain melarat, mereka juga goyang di antara tradisi Rusia yang sangat feodal dan pengaruh perkembangan sosial di Eropa Barat. Pada pertengahan hingga akhir abad ke-19, Rusia mengalami periode transisi yang penuh gejolak. Negara ini berada di persimpangan antara tradisi lama dan modernisasi yang begitu cepat. Pembebasan perbudakan (serfdom) pada tahun 1861 oleh Tsar Alexander II (lima tahun sebelum novel ini ditulis) menandai awal perubahan sosial yang signifikan. Meskipun dimaksudkan untuk memodernisasi Rusia, reformasi ini justru menimbulkan ketidakpastian bagi banyak orang, baik mantan budak yang kehilangan dukungan ekonomi maupun bekas tuan tanah yang kehilangan tenaga kerja. Di tengah perubahan itu, ide-ide baru dari Eropa Barat seperti nihilisme, sosialisme, dan materialisme mulai memengaruhi pemikiran kaum intelektual muda Rusia. Nilai-nilai tradisional seperti agama ortodoks, loyalitas kepada Tsar, dan struktur keluarga patriarkal mulai dipertanyakan. Banyak individu merasa terasing dan bergumul dengan identitas mereka, tidak yakin apakah harus berpegang pada tradisi atau menerima ide-ide baru Eropa yang saat itu radikal. Dostoevsky, yang hidup dan menulis pada masa-masa ini, kami duga menangkap esensi kegelisahan sosial di Rusia saat itu.
Kemiskinan Struktural: Akar Semua Konflik
Kemiskinan menjadi latar utama dalam novel ini. Dalam perspektif mutakhir, kemiskinan bukan hanya sekadar masalah kekurangan pendapatan, uang, atau materi. Lebih dari itu, kemiskinan merupakan fenomena multidimensi. Amartya Sen, ekonom nobelis ekonomi tahun 1998, menawarkan perspektif memahami kemiskinan melalui pendekatan kemampuan (capability approach). Menurutnya, kemiskinan harus dilihat sebagai kekurangan pada kemampuan dasar yang memungkinkan individu menjalani kehidupan yang bernilai dan bermakna. Kemampuan dasar ini mencakup akses ke pendidikan, kesehatan, kebebasan sipil, serta peluang untuk mengembangkan potensi diri[6].
Dalam konteks kemiskinan struktural, menggunakan pendekatan Sen, kita dapat melihat bahwa struktur sosial, politik, dan ekonomi (sospolek) dapat menghambat individu atau kelompok tertentu mengembangkan kemampuan dasar mereka. Kemiskinan struktural terjadi ketika sistem sospolek yang ada, alih-alih mengadministrasikan keadilan bagi semua kelompok, sistem itu justru menciptakan hambatan sistemik yang menghalangi sebagian populasi mendapatkan akses yang setara terhadap sumber daya dan peluang.
Di dalam novel ini, kami melihat Dostoevsky menggambarkan kemiskinan bukanlah hasil dari kemalasan individu, tetapi lebih merupakan produk dari sistem sospolek. Raskolnikov yang hidup dalam kemelaratan ekstrem di St. Petersburg, terjebak dalam kondisi yang membuatnya sulit memenuhi kemampuan dasarnya. Tak hanya akses ke pendidikan, lebih dari itu, ia kesulitan memenuhi sandang, pangan, dan papan secara layak. Novel ini juga menggambarkan bahwa ketidakmampuan akses seseorang seperti Raskolnikov pada pendidikan, bukan karena kurangnya kecerdasan dan potensi intelektual, tetapi lebih karena sistem pendidikan yang membebankan biaya yang sulit dijangkau oleh masyarakat miskin.
Cerita kemiskinan struktural juga datang dari keluarga Marmeladov. Dostoevsky menceritakan Semyon Marmeladov sebagai pensiunan pegawai pemerintah yang kemudian jatuh miskin. Dalam upayanya melarikan diri dari tekanan ekonomi, ia terjerumus alkohol berat. Alih-alih memperbaiki keadaan, tabiat mabuknya memperparah kemelaratan keluarga; memaksa putrinya, Sonia, menjadi pekerja seks komersil di pertambangan untuk menghidupi ibu dan adik-adiknya yang menjerit kelaparan. Keputusan Sonia melacur tergambarkan dengan jelas bahwa itu bukanlah hasil dari rusaknya kompas moral—Sonia adalah sosok perempuan religius—tetapi konsekuensi dari situasi putus asa yang diciptakan sistem pemerintahan yang abai terhadap kesejahteraan pensiunan pegawai pemerintah. Kenirsejahteraan pensiunan pegawai pemerintah ini pada akhirnya berefek domino ke kemampuan dasar keluarga Marmeladov.
Dari kisah lainnya, seperti dari Dounia, kami juga melihat bahwa kemiskinan struktural pada akhirnya membuat seseorang terjebak pada pilihan yang kompromistis. Dounia digambarkan sebagai perempuan muda, cerdas, gesit, bermartabat, dan berintegritas. Meskipun memiliki kualitas-kualitas unggul seperti ini, ia menghadapi pilihan-pilihan sulit karena tekanan ekonomi. Dounia berencana menikahi Luzhin, pria kaya, egois, dan manipulatif. Rencana Dounia ini bukanlah didasarkan cinta atau aspirasi personal, tetapi lebih karena upayanya mengentas keluarganya dari jerat kemelaratan. Ia rela mengompromikan kebahagiaan pribadinya demi saudaranya bisa membayar kuliah sembari berkhayal bahwa kelulusan saudaranya itu nanti mengangkat derajat keluarga. Melalui Dounia, Dostoveyski memotret bagaimana individu dalam kemiskinan seringkali terpaksa mengambil tindakan bukan karena pilihan bebas, tetapi karena tekanan situasional dan kurangnya alternatif yang layak.
Dostoevsky juga menyoroti ketimpangan kelas ekonomi. Tokoh-tokoh seperti Pyotr Luzhin, Arkady Svidrigailov, dan Alyona Ivanovna menunjukkan bagaimana orang-orang yang berkuasa secara ekonomi, alih-alih mendistribusikan keadilan ekonomi, mereka justru memanfaatkan posisi mereka untuk mengeruk keuntungan lebih besar tanpa memedulikan dampaknya pada orang lain yang lebih nelangsa. Eksploitasi mereka yang berada di puncak hierarki semakin menghimpit ruang hidup mereka yang terjepit.
Kemiskinan juga tergambarkan dari bagaimana Dostoevsky menarasikan St. Petersburg sebagai kota yang dipenuhi prasangka, ketidaksetaraan, dan dihuni sosok-sosok yang bingung dan cemas tersandung di jalanan karena tak mampu memahami lingkungan mereka sendiri. Secara fisik, St. Petersburg digambarkan tak pernah memiliki suhu yang tepat, tak pernah berbau, selalu terdengar suara-suara yang memekakkan telinga dan menakutkan, dan secara umum tampak tak ramah untuk manusia. Namun, orang-orang tetap tertarik pada kota ini, yang meskipun penuh tekanan, karena memang merupakan satu-satunya cara untuk naik kelas. Dualitas kota ini lah yang juga membentuk siklus dan konflik yang melanda setiap karakter.
Keyakinan Ideologis Yang Mengabaikan Kemanusiaan
Raskolnikov membunuh dua orang: satu direncanakan, dan satu tidak. Pembunuhan terencana dilakukan terhadap Alyona Ivanovna, rentenir tua yang ia anggap menyengsarakan masyarakat; dan pembunuhan kedua, yang terjadi tanpa rencana, adalah terhadap Lizaveta Ivanovna, adik tiri Alyona yang polos dan tidak bersalah, yang kebetulan memergoki Raskolnikov di tengah aksinya menikam Alyona.
Mengapa ada dua pembunuhan? Kami menafsirkan adegan dua pembunuhan ini sebagai cara Dostoevsky menggambarkan benturan antara keyakinan ideologis dan “suara” kemanusiaannya. Pembunuhan terhadap Alyona dimotivasi oleh keyakinan ideologis: Raskolnikov meyakini bahwa membunuh rentenir dapat dibenarkan secara moral karena dapat menciptakan kebaikan yang lebih besar bagi lebih banyak orang. Ia berpikir bahwa dengan melenyapkan seseorang yang, dalam pandangannya, hidup dengan mengeksploitasi orang lain, ia sebenarnya seperti sedang melakukan pembersihan hama masyarakat demi kemaslahatan umum.
Sementara itu, pembunuhan terhadap Lizaveta adalah tindakan impulsif, reaksi spontan dari ketakutan dan kepanikan, yang sama sekali di luar motivasi ideologisnya. Pada novel ini, Lizaveta digambarkan sebagai sosok yang sama sekali tidak bersalah, bahkan dikenal sebagai perempuan yang lemah dan baik hati.
Menurut kami, pembunuhan terhadap Lizaveta adalah kunci memahami esensi novel ini. Pembunuhan terhadap Lizaveta mendominasi kejatuhan psikologis Raskolnikov, yang menggambarkan sisi kemanusiaan yang lebih utuh sekaligus rapuh dalam diri Raskolnikov.
Raskolnikov, yang awalnya berusaha memosisikan dirinya sebagai “manusia besar”, yang berhak melampaui aturan moral demi tujuan yang lebih besar, dihadapkan pada kenyataan bahwa ia tidak dapat mengabaikan akibat langsung dari tindakannya membunuh Lizaveta. Nuraninya perlahan mulai memberontak, mengalibrasi kompas moralnya, menyebabkan Raskolnikov mengalami tekanan mental, psikilogis, dan emosional yang luar biasa setelah pembunuhan itu.
Pertentangan antara keyakinan ideologis dan nurani ini merupakan inti dari pergulatan batin yang dialami Raskolnikov sepanjang cerita. Di satu sisi, ia terus-menerus mencoba meyakinkan dirinya bahwa pembunuhan Alyona adalah tindakan yang benar secara moral—bahwa ia sedang melakukan pengorbanan kecil demi terciptanya kebaikan yang lebih besar. Namun, di sisi lain, rasa bersalah yang muncul akibat pembunuhan Lizaveta menjadi bayangan gelap yang terus menghantuinya. Lizaveta, sebagai korban yang tidak terencana adalah simbol dari konsekuensi tak terhindarkan dari tindakan ideologis yang mengabaikan kemanusiaan.
Antara Terdorong Kondisi Sospolek dan Ambisi Pribadi
Kami melihat Raskolnikov berada di persimpangan antara dua jalan: menjadi pahlawan yang membebaskan dirinya dan orang lain dari ketidakadilan, atau menjadi penjahat yang hanya mengikuti ambisi dan egonya. Novel ini menunjukkan bahwa kedua motif ini tidak dapat dipisahkan dengan jelas. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, Raskolnikov berharap bahwa tindakannya dapat memiliki makna sosial yang besar. Namun, pada saat yang sama, ia tidak bisa menyangkal bahwa pembunuhan itu adalah ekspresi dari kebencian dan frustrasinya sendiri terhadap dunia yang membuatnya merasa tidak berdaya.
Lebih jauh, tindakan Raskolnikov menyoroti dilema moral dalam masyarakat: apakah individu harus tunduk pada hukum yang tampak melindungi ketidakadilan, ataukah mereka harus melampaui hukum demi mencapai sesuatu yang lebih besar? Dengan cara ini, Dostoevsky mempertanyakan tidak hanya moralitas tindakan individu, tetapi juga legitimasi sistem sospolek yang memproduksi ketidakadilan. Tindakan Raskolnikov adalah bentuk perlawanan terhadap sistem.
Menguji Teori Moral Raskolnikov
Teori moral Raskolnikov dapat kita baca pada percakapan antara dirinya dengan Razumihin dan Porfiry yang membicarakan esai kuliahnya. Dalam esai beberapa halaman itu, Raskolnikov berteori bahwa manusia secara kodrati terbagi menjadi dua jenis: manusia kecil dan manusia besar.
Manusia kecil adalah mayoritas populasi manusia yang hidup dalam batasan hukum. Mereka tunduk pada aturan dan norma masyarakat, serta tidak memiliki kebebasan untuk melampaui atau melanggar norma. Menurut Raskolnikov, mereka tidak memiliki hak atau kekuasaan untuk melanggar karena tidak memiliki sesuatu yang istimewa dalam diri mereka.
Kebalikan dari itu, manusia besar adalah jenis manusia langka, yang dianggap memiliki “hak” untuk melanggar norma-norma jika itu diperlukan demi mencapai tujuan yang lebih besar. Mereka juga lah yang bisa membuat norma-norma baru untuk diikuti manusia kecil. Raskolnikov menyebut tokoh-tokoh seperti Lycurgus, Solon, Muhammad, Napoleon, Newton, dan Kepler adalah contoh manusia-manusia besar. Ia percaya, bahwa orang-orang ini, jika diperlukan untuk mencapai sesuatu yang lebih besar atau lebih penting bagi kemanusiaan, mereka memiliki keagungan yang melampaui manusia kecil, yang memungkinkan mereka menjustifikasi tindakannya secara moral.
Dalam novel ini, Dostoevsky tidak hanya memaparkan teori moral, tetapi juga menguji teori itu dalam alur cerita dengan menjadikan Raskolnikov sebagai pelaku yang mewujudkan teorinya dalam tindakan. Raskolnikov dikisahkan dengan menganggap dirinya seperti Napoleon—sang manusia besar. Atas dasar itu, ia melakukan rencana pembunuhan ke Alyona. Selain itu, ia juga meyakini pembenaran rasionalnya: bahwa membunuh lintah darat dibenarkan karena membawa kebaikan bagi banyak orang melarat.
Kami mencoba menyelidiki bagaimana pandangan moral sekuler Eropa pada masa itu atas teori moral Raskolnikov.
Deontologi Immanuel Kant Menolak Pandangan Raskolnikov
Salah satu pandangan moral sekuler yang dominan adalah etika deontologis dari Immanuel Kant. Menurut Kant, tindakan moral harus didasarkan pada kewajiban yang bersifat universal. Menurut Kant, hukum moral adalah sesuatu yang bersifat absolut dan tidak boleh dilanggar, terlepas dari siapa yang bertindak atau apa tujuan yang ingin dicapai. Prinsip imperatif kategoris[7] Kant menyatakan bahwa seseorang harus bertindak berdasarkan prinsip, aturan, atau pedoman tindakan yang dapat diuniversalkan menjadi hukum umum. Artinya, jika suatu perbuatan dipandang sebagai tindakan yang dapat diterima dalam kasus tertentu, maka perbuatan itu harus dapat diterima di semua keadaan.
Raskolnikov menciptakan justifikasi pribadi dengan narasi manusia besar yang mampu bertindak ekstrem demi tujuan yang lebih besar. Etika deontologis Kant akan menentang justifikasi ini. Dalam pandangan Kantian, manusia tidak memiliki hak menempatkan dirinya di atas norma moral, karena setiap individu, tanpa terkecuali, terikat oleh kewajiban moral yang bersifat universal. Pembunuhan Alyona tidak hanya bertentangan dengan pandangan ini; memperlakukan Alyona sebagai sarana untuk mencapai tujuan pribadi, juga bertentangan dengan prinsip bahwa setiap manusia adalah tujuan pada dirinya sendiri[8]. Kantianisme berprinsip bahwa setiap manusia harus diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri, bukan sebagai sarana untuk mencapai tujuan lain. Pembunuhan, dalam kasus ini, tidak dapat dibenarkan dalam situasi apa pun, bahkan jika tujuan yang ingin dicapai terlihat mulia.
Utilitarianisme Menyetujui Pandangan Raskolnikov dan Dilemanya
Pandangan moral sekuler lain yang juga menonjol pada saat itu adalah utilitarianisme, yang dikembangkan oleh Jeremy Bentham dan John Stuart Mill. Prinsip utilitarianisme berfokus pada kebahagiaan terbesar untuk jumlah orang terbanyak[9]. Dalam pandangan ini, kebahagiaan atau kesejahteraan manusia menjadi tolok ukur moralitas; dan tindakan dinilai bukan dari niat atau sifat inheren dari tindakan, tetapi dari dampak tindakan itu terhadap kebaikan yang lebih besar.
Pembunuhan mungkin dapat dipandang sah jika hasil akhirnya dapat menghasilkan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Dalam kasus seperti menghentikan seorang teroris yang sedang beraksi, tindakan membunuh teroris dapat dianggap dibenarkan jika hasilnya adalah penyelamatan nyawa banyak orang. Prinsip utilitarianisme, yaitu mencapai kebaikan terbesar bagi jumlah terbesar, tampak memberikan justifikasi moral untuk tindakan tersebut. Dalam hal ini, teori moral Raskolnikov memiliki kemiripan dengan pemikiran utilitarian karena ia meyakini bahwa membunuh rentenir akan membawa kebaikan yang lebih besar bagi masyarakat.
Utilitarianisme memang sering dianggap sebagai pendekatan etis yang pragmatis dalam situasi-situasi ekstrem. Namun, apakah tindakan membunuh selalu dapat dibenarkan jika tujuannya adalah menyelamatkan lebih banyak nyawa? Bagaimana dengan kemungkinan alternatif lain yang mungkin kurang ekstrem namun tetap efektif?
Perlu diingat bahwa dalam kerangka utilitarian, keputusan selalu melibatkan perhitungan rasional. Dalam konteks novel ini, apakah nyawa satu orang sebanding dengan manfaat kolektif? Perhitungan rasional ini tentu saja tidak bebas dari risiko dan dilema etis. Dalam praktiknya, perhitungan manfaat dan kerugian sering kali sulit diukur secara objektif. Manusia memiliki preferensi, nilai, dan interpretasi kebahagiaan yang beragam, sehingga menilai dampak suatu tindakan dengan ukuran kebahagiaan terbesar dapat menjadi sangat subjektif. Di sini, utilitarianisme berpotensi jatuh dalam masalah kalkulasi yang kompleks dan kadang-kadang tidak realistis. Contohnya, dalam kasus yang diangkat oleh novel ini, Raskolnikov berargumen bahwa membunuh seorang rentenir akan bermanfaat bagi masyarakat karena rentenir tersebut dianggap sebagai beban sosial. Berapa besar beban sosial yang ditimbulkan oleh seorang rentenir? Apakah nyawanya sebanding dengan kebaikan umum? Bagi kami, pertanyaan-pertanyaan ini justru membuka pintu bagi relativisme moral yang berujung pada nihilisme.
Salah satu kritik utama deontologi terhadap utilitarianisme adalah bahwa pendekatan ini cenderung mengabaikan hak-hak individu demi kepentingan mayoritas. Konsekuensinya, dalam mengejar manfaat kolektif, hak-hak seseorang bisa dikorbankan. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah adil memperlakukan individu hanya sebagai sarana bagi kesejahteraan orang lain?
Oleh karena itu, meskipun utilitarianisme menawarkan kerangka kerja yang operasional dalam pengambilan keputusan tertentu, pendekatan ini sebaiknya tidak digunakan secara eksklusif. Integrasi dengan prinsip-prinsip etika lain, seperti deontologi yang menekankan kewajiban moral dan hak-hak individu, dapat menghasilkan keputusan yang lebih holistik dan adil. Dengan mempertimbangkan berbagai aspek moral, keputusan yang diambil tidak hanya mengutamakan kesejahteraan mayoritas, tetapi juga menghormati hak-hak dasar manusia.
Kami berpandangan bahwa nyawa Ivanovna merupakan haknya yang asasi, terlepas dari seberapa besar kerusakan sosial yang mungkin ditimbulkannya. Mengorbankan nyawanya demi manfaat kolektif yang lebih besar kami anggap sebagai bentuk dehumanisasi dan objektifikasi manusia. Namun demikian, perlu diingat bahwa novel ini ditulis jauh sebelum terbentuknya Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pada tahun 1948. Meskipun gagasan tentang hak-hak dasar manusia sudah mulai muncul di Eropa pada masa itu[10], di Rusia—tempat novel ini ditulis—konsep hak asasi manusia belum dikenal luas. Oleh karena itu, kami berpendapat bahwa novel ini, pada zamannya, merupakan diskursus penting yang ditawarkan oleh sastrawan untuk menantang pemikiran tentang hak-hak dasar manusia. Dostoevsky secara langsung menguji apakah gagasan moral berdasarkan kalkulasi untung-rugi—seperti dalam pemikiran utilitarian—dapat menjadi dasar yang memadai untuk menilai benar dan salah.
Dostoevsky Mengkritik Utilitarianisme
Dengan menghadirkan dua pembunuhan sekaligus, kami melihat Dostoevsky ingin mengajak pembaca untuk mempertimbangkan bahwa ada sesuatu yang lebih fundamental dalam moralitas manusia, bahwa manusia tidak dipandu oleh rasionalitas semata (logika utilitarian), tetapi juga ditopang oleh empati, nurani, dan spiritual.
Pertama, novel ini dengan cermat menggambarkan konsekuensi yang tak terduga dari moral utilitarian. Meskipun pada awalnya Raskolnikov mencoba membenarkan pembunuhannya dengan argumen utilitarian, bahwa tindakannya melenyapkan manusia jahat akan membuka peluang bagi kebaikan yang lebih besar, dalam situasi sebenarnya, ternyata konsekuensi tindakannya tidak berjalan sesuai logika tersebut. Ada variasi konsekuensi yang meleset dari kalkulasinya. Pembunuhan kedua terhadap Lizaveta adalah konsekuensi langsung dari pembunuhan pertama yang tidak terlihat dalam kalkulasinya; dan tidak ada sedikit pun pembenaran dari pembunuhan terhadap perempuan ini.
Kedua, melalui sosok Raskolnikov, Dostoevsky menunjukkan bahwa manusia tidak hanya digerakkan oleh nalar kalkulatif atau prinsip untung-rugi, tetapi juga oleh kerumitan psikologis yang tidak bisa diprediksi. Raskolnikov yakin ia bisa menanggung beban moral pembunuhan jika tindakannya memang bisa dibenarkan oleh tujuan yang lebih besar. Namun, setelah pembunuhan terjadi, terlebih setelah pembunuhan terhadap Lizaveta, ia justru dihantui rasa bersalah, isolasi, dan keterasingan yang tak ia perhitungkan sebelumnya. Di sinilah Dostoevsky memperlihatkan kegagalan utilitarianisme: manusia bukan sekadar makhluk yang membuat keputusan berdasarkan logika manfaat, tetapi juga memiliki nurani dan emosi yang mengakar dalam, sesuatu yang tidak bisa disubordinasikan di bawah prinsip utilitas.
Kami melihat Dostoveysky membawa adegan ini untuk menggambarkan utilitirianisme adalah paham moral yang rapuh, keropos, tidak operasional, dan tidak mampu menangani kompleksitas manusia serta realitas yang penuh nuansa. Dostoevsky menunjukkan bagaimana rasionalisasi moral yang berusaha menyederhanakan kebaikan dan kejahatan dalam kerangka untung dan rugi dapat mengarah pada kemelesetan kalkulasi. Pemikiran utilitarian yang dianut Raskolnikov juga terbukti tidak cukup untuk menutupi rasa bersalah yang terus menghantuinya setelah pembunuhan itu. Konflik batin Raskolnikov, yang berujung pada penderitaan mental, menggarisbawahi betapa kompleksnya sifat manusia dan bagaimana gagasan kebaikan kolektif bisa berbenturan dengan nilai-nilai yang lebih personal.
Masalah Utilitarianisme Hari Ini
Seperti yang telah kami singgung di atas, utilitarianisme adalah teori etika yang menekankan bahwa tindakan dianggap benar jika membawa kebaikan terbesar bagi jumlah orang terbanyak. Meskipun tampaknya pragmatis dan logis untuk mengambil keputusan secara demokratis, utilitarianisme juga bisa menjadi ancaman yang berbahaya bagi demokrasi.
Michel Foucault dalam bukunya Discipline and Punish: The Birth of the Prison[11] berpandangan bahwa hukum, moralitas, dan institusi sosial bukan sekadar penjamin ketertiban atau kebajikan, tetapi juga bisa menjadi alat yang memperkuat kekuasaan dan melanggengkan kekuasaan. Dengan kata lain, moral bisa menjadi alat bagi kelompok yang berkuasa untuk membenarkan tindakan-tindakan yang menguntungkan mereka dengan mengorbankan kelompok yang berbeda. Dengan demikian, moralitas bukanlah konsep netral, tetapi bisa ditentukan oleh mereka yang berkuasa.
Misalnya, dalam kebijakan publik, pemerintah menerapkan program yang dianggap membawa manfaat ekonomi terbesar bagi mayoritas penduduk, seperti pembangunan infrastruktur besar-besaran. Namun, proyek tersebut memerlukan penggusuran ruang hidup kelompok tertentu tanpa memberi kompensasi yang adil. Dalam kacamata pemerintah yang utilitarian, tindakan ini akan dinarasikan sebagai tindakan yang dapat dibenarkan karena meningkatkan kesejahteraan keseluruhan masyarakat. Namun, dalam pandangan Foucault, hal ini telah menunjukkan bagaimana moral “kebaikan terbesar bagi jumlah terbanyak” telah digunakan sebagai alat dengan mengabaikan hak-hak individu atau kelompok minoritas.
Selain itu, dalam konteks demokrasi, keputusan yang didasarkan pada kehendak mayoritas juga bisa terjadi dengan mengabaikan suara dan kepentingan kelompok minoritas. Misalnya, undang-undang yang membatasi hak-hak kelompok tertentu bisa disahkan jika mayoritas pemilih mendukungnya, meskipun isi undang-undang itu bertentangan dengan hak asasi manusia. Ini mencerminkan bagaimana utilitarianisme dapat digunakan untuk melegitimasi dominasi mayoritas dan menekan perbedaan, sesuai dengan analisis Foucault tentang kekuasaan yang tersembunyi dalam praktik sosial dan institusional.
Kritik lain terhadap utilitarianisme dalam demokrasi adalah bahwa ia dapat menjustifikasi tindakan-tindakan represif, selama tindakan tersebut dianggap menghasilkan keuntungan bagi mayoritas. Sebagai contoh, pembatasan berdemonstrasi oleh pemerintah mungkin dipandang sah bagi utilitarian jika dianggap mengganggu stabilitas dan keamanan negara. Namun, bagi individu yang menjadi korban, pembatasan berdemonstrasi membuat mereka mengalami ketidakadilan berturut-turut, bak jatuh tertimpa tangga, hak mereka menyampaikan pendapat di muka umum untuk memperjuangkan keadilan disingkirkan atas nama stabilitas nasional.
Dengan demikian, penting untuk mengkritisi penerapan utilitarianisme hari-hari ini. Kita perlu berjaga dan waspada terhadap bagaimana konsep ini dapat dimanipulasi untuk melayani kepentingan kelompok tertentu, sementara mengabaikan keadilan dan hak-hak individu atau kelompok minoritas. Pendekatan moral yang lebih holistik diperlukan untuk memastikan bahwa demokrasi benar-benar dapat terselenggara dengan melindungi dan menghargai semua anggotanya, bukan hanya mayoritas.
Seperti yang kami sampaikan di atas, utilitarianisme juga berpotensi mengabaikan hak asasi manusia, karena fokusnya bukan pada penghormatan terhadap martabat setiap individu, melainkan pada hasil kolektif yang menguntungkan mayoritas. Dalam banyak kasus, praktik utilitarianisme justru mendorong ketidakadilan sosial, terutama bagi kelompok-kelompok marjinal. Oleh karena itu, Foucault juga mengingatkan bahwa moralitas tidak hanya tentang hasil akhir, tetapi juga tentang proses dan hubungan kekuasaan yang membentuk keputusan moral tersebut.[12] Keputusan moral yang melibatkan orang banyak harus memperhatikan proses partisipatif dan penghargaan terhadap martabat setiap individu. Ini berarti kita tidak bisa mengorbankan hak minoritas demi mayoritas, bahkan jika keputusan tersebut tampaknya bermanfaat secara luas.
Übermensch terinsiprasi manusia besar?
Seperti yang dipaparkan dalam naskah kuratorial, bahwa Nietzsche banyak memahami manusia hanya dari Doestoevsky. Untuk menambah dimensi lain pada diskusi teori manusia besar Raskolnikov, kami mendiskusikan konsep yang diajukan Nietzsche tentang Übermensch.
Konsep Übermensch mirip dengan manusia besar ala Raskolnikov, bahwa individu dapat melampaui nilai-nilai moral mapan/tradisional untuk menciptakan nilai-nilai baru. Namun demikian, kami melihat relasi antara teori manusia besar Raskolnikov dan konsep Übermensch menunjukkan bagaimana ide tentang individu yang melampaui norma dapat ditafsirkan secara berbeda.
Perbedaan mendasarnya terletak pada cara kedua pemikir ini memandang konsekuensi dari tindakan tersebut. Dostoevsky, melalui karakter Raskolnikov, menunjukkan bahwa melanggar moral membawa beban psikologis berat. Sementara itu, Nietzsche melalui konsep Übermensch mendorong individu untuk menciptakan nilai-nilai baru dan mencapai potensi tertinggi tanpa terikat oleh moralitas mapan/tradisional. Selain itu, Nietzsche juga tidak secara eksplisit mendorong tindakan kriminal atau nirmoralitas, melainkan menekankan pada transformasi diri dan penciptaan makna pribadi (afirmatif) dalam kehidupan. Übermensch adalah idealisasi manusia yang mampu mengatasi keterbatasan dan penderitaan melalui kekuatan kehendak dan penciptaan makna hidup yang autentik tanpa terikat oleh norma-norma mapan/tradisional yang ada[13].
Individu Nonkonformis
Sempalan lain yang menarik tentang individu yang melampaui norma adalah tentang individu nonkonformis. Kami mengamati bahwa masyarakat saat ini cenderung lebih menerima perilaku yang “melanggar norma” jika dilakukan oleh individu yang memiliki kekuasaan atau status tinggi dibandingkan individu dengan status sosial lebih rendah. Ketika individu berstatus tinggi atau memiliki kekuasaan sosial melakukan perilaku nonkonformis—seperti berpakaian tidak sesuai dengan kode etik, menyampaikan pendapat kontroversial, atau melanggar norma sosial tertentu—mereka sering dianggap lebih kompeten, berpengaruh, dan karismatik.
Dalam pandangan kami, hal ini terjadi karena mereka dipersepsikan memiliki kepercayaan diri, kekuasaan, dan otonomi yang tinggi, sehingga merasa “berhak” untuk melampaui batasan norma yang ada. Contoh paling populer adalah pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, yang ditoleransi, bahkan dikagumi, saat memakai kaos oblong dalam acara-acara formal. Sebaliknya, ketika hal tersebut dilakukan oleh individu dengan status sosial atau kekuasaan yang lebih rendah, masyarakat cenderung menilai mereka secara negatif. Mereka mungkin dianggap tidak sopan, kurang profesional, atau bahkan dipandang sebagai ancaman terhadap tatanan sosial. Fenomena ini menunjukkan adanya bias status dalam penilaian terhadap perilaku nonkonformis, yang menurut hemat kami perlu kita jawab: mengapa kita memberikan toleransi yang berbeda berdasarkan status sosial? Apakah ini adil?
Penelitian berjudul “The Red Sneakers Effect: Inferring Status and Competence from Signals of Nonconformity” oleh Silvia Bellezza, Francesca Gino, dan Anat Keinan memberikan wawasan tentang fenomena ini. Dalam serangkaian eksperimen, mereka menunjukkan bahwa peserta penelitian mengaitkan status tinggi dan kompetensi lebih besar kepada individu yang menunjukkan perilaku nonkonformis dalam konteks yang tepat. Salah satu studi eksperimennya adalah seorang profesor di universitas ternama yang mengajar dengan mengenakan kaos dan sandal jepit dianggap lebih cerdas dan berprestasi dibandingkan mereka yang berpakaian formal. Mengapa bisa demikian? Hal ini karena perilaku nonkonformis tersebut dipersepsikan sebagai tanda bahwa profesor tersebut percaya diri, sukses, ternama, sehingga tidak perlu mengikuti aturan berpakaian konvensional.
Menariknya, keyakinan Raskolnikov tentang manusia besar memiliki beberapa kesamaan dengan konsep individu nonkonformis ini. Pertama, keduanya membahas individu yang merasa “berhak” melanggar moral atau norma. Kedua, keduanya dipersepsikan memiliki kekuasaan atau status tinggi yang memungkinkan mereka bertindak di luar batasan konvensional. Ketiga, keduanya memiliki justifikasi atas tindakan yang melanggar norma: demi tujuan yang lebih tinggi (dalam pandangan Raskolnikov) atau sebagai ekspresi otonomi dan kepercayaan diri (pada individu nonkonformis).
Fenomena ini mengungkapkan bagaimana persepsi masyarakat dipengaruhi oleh status sosial. Kita cenderung memberikan kelonggaran kepada mereka yang dianggap berstatus tinggi, sementara lebih keras menilai mereka yang berstatus rendah. Ini menimbulkan pertanyaan menggelitik: jangan-jangan kita tidak menerima nonkonformitas Raskolnikov karena ia bukan siapa-siapa. Seandainya ia orang yang kita sucikan, nabi atau santo misalnya, mungkin kah kita akan menoleransi tindakannya? Pertanyaaan selanjutnya, apakah norma dan aturan sosial benar-benar berlaku universal, ataukah fleksibel tergantung siapa yang melanggarnya? Kami berpendapat bahwa kita perlu mengevaluasi kembali bias ini.
Tawaran Dostoevsky Melalui Sonia: Menemukan Makna Tanpa Melampaui Moral
Sonia adalah representasi dari segala sesuatu yang bertentangan dengan pemikiran Raskolnikov. Ia menjalani kehidupan yang penuh penderitaan—menjadi pekerja seks komersil untuk menyokong keluarganya—namun ia tidak pernah kehilangan iman kepada Tuhan. Dalam perspektif nihilistis, hidup Sonia bisa dianggap sia-sia, bahkan tragis. Namun, justru di tengah kemiskinan dan penghinaan sosial seperti itu, Dostoevsky menempatkan Sonia tetap memegang teguh keyakinan pada nilai-nilai spiritual. Ia tidak mencoba mengubah dunia atau mencapai tujuan besar seperti Raskolnikov, tetapi ia memberikan makna pada hidupnya melalui pengorbanan dan kepedulian kepada orang lain. Di sinilah Sonia menawarkan alternatif pada Raskolnikov: bukan melampaui moralitas, tetapi menyelami penderitaan dan menemukan makna di dalamnya.
Ketika Raskolnikov pertama kali membuka diri pada Sonia dan mengakui pembunuhannya, ia masih terjebak dalam kebingungan dan kehancuran. Namun, Sonia tidak menghakimi atau meninggalkannya. Sebaliknya, ia memilih untuk tetap mendampinginya, mengorbankan dirinya dengan cara yang berbeda dari yang Raskolnikov bayangkan: kasih tanpa syarat. Dalam adegan penting ini, Dostoevsky seperti menekankan bahwa penerimaan dan pengampunan, meski tidak menghapus dosa, dapat membuka jalan bagi penebusan. Keberadaan Sonia dalam hidup Raskolnikov memaksa sang protagonis untuk keluar dari isolasi mental dan emosionalnya. Cinta Sonia, yang tulus dan tanpa syarat, menjadi cermin yang memaksa Raskolnikov melihat dirinya bukan sebagai manusia yang luar biasa, tetapi sebagai manusia biasa yang membutuhkan cinta dan pengampunan.
Proses ini bisa kami lihat sebagai bentuk penolakan terhadap nihilisme yang dianut Raskolnikov. Nihilisme menegaskan bahwa tidak ada nilai intrinsik dalam tindakan manusia; namun, melalui hubungan dengan Sonia, Raskolnikov belajar bahwa ada makna dalam pengorbanan dan penderitaan. Sonia tidak memberikan argumen filosofis atau rasional untuk membantah pikiran-pikiran nihilistis Raskolnikov. Sebaliknya, ia menawarkan sesuatu yang tidak dapat dibantah secara logis: cinta yang mengatasi logika, yang mampu merangkul bahkan di tengah kehancuran.
Seiring berjalannya waktu, Raskolnikov mulai menyadari bahwa Sonia tidak hanya mendampinginya, tetapi juga menawarkan jalan penebusan. Penebusan di sini tidak datang dari kemenangan atau pencapaian luar biasa, tetapi dari penerimaan akan penderitaan sebagai bagian dari kehidupan manusia. Dostoevsky menunjukkan bahwa penderitaan bukan sesuatu yang harus dihindari atau dilampaui, seperti yang diyakini Raskolnikov sebelumnya, melainkan sesuatu yang harus diterima dengan rendah hati. Dalam adegan klimaks di penjara, Raskolnikov akhirnya mengalami transformasi spiritual. Ia mulai menerima penderitaannya bukan sebagai hukuman semata, tetapi sebagai jalan menuju pemulihan.
Sonia menjadi sosok sentral dalam transformasi Raskolnikov. Kehadirannya tidak memaksa, tetapi tetap setia dan penuh pengertian, bahkan ketika Raskolnikov berusaha menjauh. Cinta Sonia berfungsi sebagai pengingat bahwa, meskipun manusia bisa terjatuh dalam dosa dan kehancuran, selalu ada jalan untuk kembali. Dalam konteks ini, Dostoevsky kami lihat ingin menekankan bahwa cinta dan iman—meskipun tidak selalu logis atau rasional—memiliki kekuatan transformatif yang lebih besar daripada pikiran atau ideologi.
Kebangkitan Lazarus
Dostoevsky menyematkan kisah kebangkitan Lazarus dari Injil Yohanes. Kisah kebangkitan Lazarus, di mana Yesus memanggil Lazarus keluar dari kuburnya setelah empat hari, memiliki makna yang mendalam bagi Raskolnikov. Pada titik dalam cerita ini, Raskolnikov terpuruk secara emosional dan mental, merasa dirinya seperti “mati” secara spiritual. Sonia membacakan kisah ini dengan harapan membangkitkan kesadaran dan harapan di dalam diri Raskolnikov, menyiratkan bahwa seperti Lazarus, ia juga dapat “bangkit” dari kejatuhan psikisnya. Ini adalah pengingat bahwa meskipun seseorang telah tenggelam dalam dosa, selalu ada kemungkinan untuk kembali dan memperbaiki diri.
Kebangkitan Lazarus juga berfungsi sebagai cerminan dari pergulatan batin Raskolnikov. Setelah pembunuhan, ia merasa terputus dari dunia, seolah-olah hidup dalam kuburannya sendiri. Sonia mengajaknya untuk tidak menyerah pada keputusasaan, melainkan mencari penebusan melalui pengakuan dan pertobatan. Dengan cara ini, kebangkitan Lazarus menjadi metafora bagi proses penebusan yang Raskolnikov harus jalani—bukan hanya melalui hukuman di penjara, tetapi juga melalui transformasi spiritual.
Dalam tradisi Kristen, kebangkitan melambangkan kemenangan atas dosa dan kematian.[14] Bagi Raskolnikov, ini berarti ia harus mengakui kesalahannya dan menerima penderitaan sebagai langkah pertama menuju pemulihan. Sonia, sebagai pembaca kisah itu, berperan sebagai pembimbing moral, menunjukkan bahwa penderitaan (hukuman) bukanlah akhir dari segalanya, tetapi bisa menjadi pintu masuk bagi kehidupan baru.
Kisah kebangkitan juga memperlihatkan bahwa perubahan tidak terjadi secara instan. Proses ini memerlukan penerimaan akan penderitaan dan kesediaan untuk bertanggung jawab. Dalam bab-bab akhir novel, Raskolnikov mulai mengalami transformasi bertahap, menunjukkan bahwa “kebangkitan” spiritual tidak hanya tentang pengampunan Tuhan, tetapi juga tentang penerimaan diri dan rekonsiliasi dengan nilai-nilai moral.
Hukuman dan Rasa Bersalah sebagai Mekanisme Kekuasaan: Interpretasi Menggunakan Lensa Foucault
Dalam novel ini, kami melihat hukuman tidak hanya hadir dalam bentuk legal atau fisik—seperti penjara—tetapi juga sebagai pengalaman batin melalui rasa bersalah dan penderitaan psikologis. Dengan menggunakan kerangka pemikiran Michel Foucault, kami melihat bagaimana novel ini mengekspresikan ide-ide tentang kekuasaan yang tidak semata-mata berasal dari otoritas eksternal seperti polisi atau pengadilan, melainkan juga melalui mekanisme internal individu yang merasa terikat oleh rasa bersalah. Bagi Foucault, kekuasaan tidak hanya memanifestasikan diri dalam bentuk yang terlihat, tetapi juga melalui proses disipliner yang membuat individu tunduk, bukan hanya pada aturan hukum, tetapi juga pada norma-norma moral yang tertanam dalam dirinya. Dalam konteks ini, tekanan psikologis yang dialami Raskolnikov menjadi contoh sempurna tentang bagaimana rasa bersalah dan hukuman internal menciptakan bentuk kekuasaan yang lebih subtil dan menyeluruh.
Foucault, dalam Discipline and Punish, menggambarkan bagaimana kekuasaan modern tidak lagi bergantung sepenuhnya pada hukuman fisik yang terlihat, seperti eksekusi publik, tetapi justru pada mekanisme yang lebih subtil dan disiplin[15]. Kekuasaan menjadi lebih efektif ketika individu menginternalisasi norma dan aturan hingga ia merasa diawasi dan dihakimi, bukan oleh pihak luar, tetapi oleh dirinya sendiri. Dalam novel ini, kami melihat proses ini pada diri Raskolnikov. Setelah ia membunuh Alyona dan Lizaveta, ia tidak langsung menerima hukuman dari sistem hukum negara. Sebaliknya, ia mulai dihukum oleh pikirannya sendiri, dengan rasa bersalah dan paranoia yang terus menghantuinya.
Dalam perspektif Foucault, hal ini adalah bentuk kekuasaan yang paling efektif: individu yang merasa bersalah tanpa harus disiksa atau ditangkap terlebih dahulu. Raskolnikov, meskipun berada di luar jangkauan hukum untuk sebagian besar cerita, tetap berada dalam cengkeraman kekuasaan, karena ia telah menginternalisasi norma-norma moral yang ia coba bantah dengan keyakinan ideologisnya. Ini menunjukkan bagaimana kekuasaan bekerja pada tingkat psikologis, menundukkan individu melalui rasa bersalah, hingga ia merasa harus menghukum dirinya sendiri bahkan sebelum hukum eksternal melakukannya.
Dalam novel, salah satu momen penting adalah ketika Raskolnikov akhirnya mengakui kejahatannya kepada Sonia, dan kemudian kepada polisi. Dengan kacamata Foucault, kami melihat pengakuan ini bukan hanya bentuk ekspresi penebusan, tetapi juga bagian dari mekanisme kekuasaan. Foucault berargumen bahwa dalam masyarakat modern, praktik pengakuan telah menjadi alat kontrol. Ketika seseorang mengakui kesalahannya, ia bukan hanya menempatkan dirinya dalam posisi untuk dihukum, tetapi juga menunjukkan bagaimana ia telah menerima kekuasaan norma yang berlaku.
Bagi Raskolnikov, pengakuan merupakan momen krusial yang menandakan bahwa ia tidak lagi mampu melawan rasa bersalah dan norma yang ia coba tolak. Dengan mengakui dosanya, ia bukan hanya menyerahkan dirinya pada hukum, tetapi juga menunjukkan bahwa kekuasaan telah berhasil mengendalikan pikirannya. Proses ini menggambarkan bagaimana kekuasaan modern bekerja: bukan hanya dengan memaksa individu untuk mematuhi aturan, tetapi juga dengan membuat mereka menerima dan menginternalisasi aturan-aturan tersebut hingga pengakuan menjadi bagian dari cara mereka memahami diri sendiri.
Raskolnikov akhirnya menerima hukuman legal dalam bentuk penjara, tetapi yang lebih penting adalah hukuman batin yang ia alami sepanjang novel. Bahkan sebelum ia menyerahkan dirinya, rasa bersalah dan penderitaan psikologis telah menghukum dirinya lebih keras daripada apa pun yang bisa dilakukan oleh hukum eksternal. Hal ini sejalan dengan pemikiran Foucault bahwa kekuasaan tidak hanya bekerja melalui hukuman formal, tetapi juga melalui mekanisme pengawasan internal, di mana individu belajar untuk memonitor dan menghukum dirinya sendiri.
Penjara, dalam konteks ini, bukan hanya ruang fisik tempat seseorang dihukum, tetapi juga simbol dari bagaimana kekuasaan telah beroperasi jauh sebelum penahanan itu terjadi. Bagi Foucault, kekuasaan yang efektif adalah kekuasaan yang membuat individu merasa terisolasi dan terkontrol bahkan tanpa paksaan langsung.
Keterasingan Raskolnikov dalam novel adalah bentuk lain dari kekuasaan yang subtil. Ia mencoba untuk menjauhkan diri dari masyarakat dan teman-temannya, tetapi justru dalam keterasingan inilah kekuasaan beroperasi dengan lebih kuat. Individu yang terisolasi lebih mudah dikendalikan karena ia tidak lagi memiliki jaringan sosial yang bisa memberikan perlawanan atau dukungan. Dalam keterasingannya, Raskolnikov tidak menemukan kebebasan, tetapi justru semakin tenggelam dalam rasa bersalah dan kehancuran batin.
Dengan cara ini, keterasingan Raskolnikov tidak hanya merupakan konsekuensi dari tindakannya, tetapi juga bagian dari mekanisme disiplin yang membuatnya tunduk pada norma. Ia mungkin berusaha melawan hukum dan moralitas konvensional, tetapi pada akhirnya ia justru dihancurkan oleh norma-norma itu, yang telah tertanam dalam dirinya.
Jalan Berbeda Yang Ditunjukkan Dostoevsky
Arkady Ivanovich Svidrigailov muncul sebagai salah satu karakter paling kompleks dan enigmatis. Tindakan bunuh dirinya bukan hanya puncak dari konflik internalnya, tetapi juga simbol yang yang dibangun Dostoevsky untuk membenturkannya dengan jalan yang dipilih Raskolnikov untuk menggambarkan keputusasaan dan harapan.
Svidrigailov diperkenalkan sebagai mantan majikan Dounia, adik perempuan Raskolnikov. Ia digambarkan sebagai pria kaya dengan reputasi yang tercemar sebagai predator seksual. Masa lalunya dipenuhi dengan rumor tentang kekerasan, manipulasi, dan kematian misterius istrinya, Marfa Petrovna. Kami membaca karakter Svidrigailov digunakan Dostoevsky untuk mewakili aspek gelap jiwa manusia, termasuk kecenderungan orang-orang zaman itu menuju hedonisme dan nihilisme.
Sepanjang novel, Svidrigailov bergulat dengan perasaan hampa dan keterasingan. Meskipun memiliki kekayaan dan kebebasan, ia tidak menemukan kepuasan dalam kehidupannya. Usahanya untuk memikat hati Dounia merupakan upaya terakhir untuk mencari makna hidupnya. Penolakan Dounia terhadapnya memperdalam rasa putus asanya, menegaskan keyakinannya bahwa ia tidak dapat menebus masa lalunya atau membangun masa depan yang berarti. Bunuh diri Svidrigailov terjadi setelah ia menyadari bahwa tidak ada jalan keluar dari keterasingan dan kehampaan yang ia rasakan. Tindakan ini merupakan puncak dari konflik internal antara keinginannya untuk berubah dan ketidakmampuannya untuk melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya. Dengan menembak dirinya sendiri, Svidrigailov memilih untuk mengakhiri penderitaan batinnya, menunjukkan keputusasaan total dan hilangnya harapan.
Kami melihatSvidrigailov adalah cerminan lain Raskolnikov dari ujung yang lebih gelap. Keduanya berbagi isolasi sosial dan moralitas yang ambigu, tetapi mereka mengambil jalan yang berbeda dalam menghadapi konsekuensi dari tindakan mereka. Sementara Raskolnikov akhirnya mencari penebusan melalui pengakuan dan penderitaan, Svidrigailov menyerah pada keputusasaan. Kontras ini menyoroti tema utama novel tentang pilihan kemungkinan penebusan. Kami juga melihat bunuh diri Svidrigailov berfungsi sebagai komentar Dostoevsky tentang paham nihilisme dan konsekuensi dari hidup tanpa kompas moral. Dostoevsky menggunakan karakter ini untuk mengeksplorasi bahaya dari relativisme moral (menuju nihilisme) dan pencarian kepuasan pribadi tanpa mempertimbangkan etika atau dampak terhadap orang lain. Tindakan terakhir Svidrigailov menegaskan keyakinan bahwa tanpa nilai-nilai spiritual atau moral, individu dapat tersesat dalam kehampaan dan keputusasaan.
[1] Merriman, John. A History of Modern Europe: From the Renaissance to the Present. W.W. Norton & Company, 2010. Dalam konteks sejarah Eropa modern, Merriman menyebut kasus Lacenaire sebagai contoh penting dari perubahan sosial dan persepsi publik terhadap kriminalitas pada masa itu.
[2] Selama berada di penjara menunggu eksekusinya, Lacenaire menulis memoar ini untuk menggambarkan kehidupannya, latar belakang pendidikannya sebagai mantan mahasiswa hukum, alasan di balik kejahatan yang dilakukannya, serta pandangannya tentang masyarakat dan sistem hukum Prancis pada abad ke-19. Memoarnya bisa diunduh di: https://archive.org/details/memoirsoflacenai0000unse/page/n249/mode/2up
[3] Saat itu Rusia masih Uni Soviet.
[4] Frank, Joseph. Dostoevsky: A Writer in His Time. Princeton University Press, 2010. Dalam analisis konteks historis, Frank menjelaskan peran sentral agama Kristen dalam membentuk moralitas Eropa sebelum Abad Pencerahan, serta bagaimana perubahan sosial dan intelektual pada masa itu mulai menggeser pandangan moral menuju rasionalitas.
[5] Seperti Voltaire (1694-1778), John Locke (1632-1704), Immanuel Kant (1724-1804), Jeremy Bentham (1748-1832), dll.
[6] Sen, Amartya. “Capability and Well-Being.” Dalam The Quality of Life, diedit oleh Martha Nussbaum dan Amartya Sen, Oxford University Press, 1993, hlm. 30-53.
[7] Imperatif Kategoris adalah konsep etika dari filsuf Immanuel Kant. Secara sederhana, imperatif kategoris adalah prinsip moral yang harus diikuti oleh semua orang, kapan pun dan dalam situasi apa pun, karena itu dianggap benar secara universal. Untuk memahami ini dengan mudah, anggap imperatif kategoris sebagai aturan emas: “Lakukan sesuatu hanya jika kamu yakin itu harus menjadi aturan bagi semua orang, tanpa pengecualian.”
[8] Immanual Kant dalam karyanya Landasan Metafisika Moral:”Bertindaklah sedemikian rupa sehingga Anda memperlakukan kemanusiaan, baik dalam diri Anda sendiri maupun dalam diri orang lain, selalu sekaligus sebagai tujuan dan tidak pernah hanya sebagai sarana.” (Dalam bahasa Jerman: “Handle so, dass du die Menschheit sowohl in deiner Person, als in der Person eines jeden anderen jederzeit zugleich als Zweck, niemals bloß als Mittel brauchest.”)
[9] Jeremy Bentham dalam bukunya An Introduction to the Principles of Morals and Legislation (1789) mengenalkan prinsip utilitas yang mengakui kebahagiaan sebagai satu-satunya tujuan moral, dan bahwa tindakan yang benar adalah yang mempromosikan kebahagiaan terbesar bagi jumlah orang terbanyak.”(Asli dalam bahasa Inggris: “It is the greatest happiness of the greatest number that is the measure of right and wrong.”). Tujuh belas tahun kemudian John StuatMill dalam karyanya Utilitarianism (1863) memperluas konsep utilitarianisme Bentham dengan menekankan kualitas kebahagiaan, bukan hanya kuantitasnya. Ia berargumen bahwa tindakan moral adalah yang meningkatkan kebahagiaan dan mengurangi penderitaan.
[10] Contoh-contoh gagasan tentang hak asasi manusia yang sudah menggejala di Eropa antara lain: “Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara” (Declaration of the Rights of Man and of the Citizen) yang disahkan oleh Majelis Nasional Prancis pada tahun 1789 selama Revolusi Prancis. Deklarasi ini menegaskan hak-hak alami dan universal seperti kebebasan, hak milik, keamanan, dan perlawanan terhadap penindasan. Pemikiran filsuf seperti John Locke, yang pada abad ke-17 mengemukakan ide tentang hak-hak alami manusia, termasuk hak atas hidup, kebebasan, dan hak milik. Karya utamanya, Two Treatises of Government (1689), berpengaruh besar dalam perkembangan konsep hak asasi manusia. “Bill of Rights” Inggris tahun 1689, yang menetapkan hak-hak dasar dan membatasi kekuasaan monarki, menjadi landasan penting bagi perkembangan konstitusionalisme dan perlindungan hak-hak individu.
[11] Foucault menganalisis evolusi sistem penjara dan bagaimana praktik disiplin digunakan sebagai alat kontrol sosial. Ia menyoroti bahwa institusi seperti penjara, sekolah, dan rumah sakit tidak hanya berfungsi sesuai peran resmi mereka, tetapi juga bertindak sebagai mekanisme yang memungkinkan kekuasaan untuk mengawasi dan mengendalikan individu. Melalui konsep “panopticon”, Foucault menunjukkan bagaimana struktur sosial dan hukum dapat menciptakan rasa diawasi yang terus-menerus, sehingga individu secara otomatis menyesuaikan perilaku mereka sesuai dengan norma yang ditetapkan oleh pihak berwenang. Dengan demikian, hukum dan moralitas bukan hanya tentang menjaga ketertiban, tetapi juga tentang mempertahankan struktur kekuasaan yang ada.
[12] Foucault, Michel. Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings, 1972–1977. Diedit oleh Colin Gordon, Pantheon Books, 1980.
[13] Nietzsche, Friedrich. Thus Spoke Zarathustra. Terjemahan Walter Kaufmann. Penguin Classics, 1978. Dalam karya ini, Nietzsche memperkenalkan konsep Übermensch sebagai manusia ideal yang melampaui moralitas konvensional dan menciptakan nilai-nilai baru melalui will to power.
[14] Lihat Alkitab, 1 Korintus 15:54-57, di mana Rasul Paulus menulis tentang kebangkitan Kristus sebagai kemenangan atas maut dan dosa: “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut, di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?”
[15] Foucault mengistilahkannya panopticon.
Bibliografi
Bellezza, Silvia; Gino, Francesca; Keinan, Anat. “The Red Sneakers Effect: Inferring Status and Competence from Signals of Nonconformity.” Journal of Consumer Research, Vol. 41, No. 1 (2014), pp. 35–54.
Bentham, Jeremy. An Introduction to the Principles of Morals and Legislation. Editan J. H. Burns and H. L. A. Hart. Oxford University Press, 1996.
Foucault, Michel. Discipline and Punish: The Birth of the Prison. Terjemahan Alan Sheridan. Vintage Books, 1995.
Frank, Joseph. Dostoevsky: A Writer in His Time. Princeton University Press, 2010.
Jones, Malcolm V. Dostoevsky after Bakhtin: Readings in Dostoevsky’s Fantastic Realism. Cambridge University Press, 1990.
Kant, Immanuel. Groundwork of the Metaphysics of Morals. Terjemahan Mary Gregor. Cambridge University Press, 1997.
Leatherbarrow, William (Ed.). The Cambridge Companion to Dostoevskii. Cambridge University Press, 2002.
Merriman, John. A History of Modern Europe: From the Renaissance to the Present. W.W. Norton & Company, 2010.
Mill, John Stuart. Utilitarianism. Editan by George Sher. Hackett Publishing Company, 2001.
Morson, Gary Saul. Narrative and Freedom: The Shadows of Time. Yale University Press, 1994.
Nietzsche, Friedrich. Thus Spoke Zarathustra. Terjemahan Walter Kaufmann. Penguin Classics, 1978.
Peace, Richard. Dostoevsky: An Examination of the Major Novels. Cambridge University Press, 1971.
Sen, Amartya. Development as Freedom. Alfred A. Knopf, 1999.
Sen, Amartya; Nussbaum, Martha (Eds.). The Quality of Life. Oxford University Press, 1993.
Terras, Victor. Reading Dostoevsky. University of Wisconsin Press, 1998.
