Yeong-hye, dengan segala penderitaan dan perjuangannya, menunjukkan bahwa menjalani hidup yang bermakna bukanlah sesuatu yang dapat diukur dengan standar sosial. Keputusan Yeong-hye menjadi vegan, meskipun ekstrem dan berujung pada penderitaan, adalah manifestasi dari pencarian akan makna hidupnya sendiri yang autentik. Ia memilih menolak kekerasan dalam bentuk apa pun, termasuk mengonsumsi makanan, sebagai cara menyelaraskan dirinya dengan keyakinannya yang mendalam, sebagai cara yang ia yakini untuk mengehentikan mimpi buruknya yang berkepanjangan.
