Di titik inilah banalitas kejantanan bekerja. Ia tidak selalu hadir sebagai teriakan kebencian yang vulgar, tetapi sebagai kebiasaan sehari-hari yang dianggap wajar: candaan yang merendahkan, norma yang memaklumi kecemburuan posesif, pembenaran atas kontrol, hingga ungkapan klasik bahwa “urusan rumah tangga” tak layak dicampuri. Ketika praktik-praktik kecil ini berulang tanpa interupsi moral dari kita, ia menciptakan ekosistem tempat kekerasan ekstrem menjadi mungkin. Dengan kata lain, femisida tidak berdiri sendiri sebagai tindakan tunggal. Ia adalah akumulasi dari serangkaian mikro kekerasan yang telah lama diwajarkan. Karena itu, kami berpendapat ia memiliki bobot etis yang berbeda. Bukan karena nyawa laki-laki kurang bernilai, tetapi karena pembunuhan terhadap perempuan dalam konteks ini merupakan perwujudan paling telanjang dari sistem yang memandang perempuan sebagai objek dan dibangun sejak dini (juga dalam pikiran?) dalam kebiasaan sehari-hari yang diwajarkan.
