Kami tak ingin meromantisasinya menjadi hikayat duka tiga dara Fulani. Melainkan dari itu, kami ingin membacanya sebagai teks yang menelanjangi bagaimana kekuasaan patriarki masuk ke tubuh, bahasa, dan menjejali tabula rasa perempuan. Salain itu, kami juga ingin mengajukan pertanyaan-pertanyaan kunci, yang sementara sampai dengan esai ini diterbitkan, belum bisa kami jawab lantaran kedangkalan pengetahuan kami atas tafsir ajaran agama Islam, tafsir yang menjadi landasan teologis atas poligami dan kawin-paksa yang dialami oleh ketiga perempuan dalam novel ini. Moga-moga pertanyaan-pertanyaan ini bisa sampai kepada para mufasir atau pembaca lain yang mungkin secara kebetulan menemukan tulisan ini dan berbaik hati memberikan jawaban yang tulus.
